Perkuat Inklusi Syariah, UUS Bank Jago Andalkan Digitalisasi dan Ekosistem Halal
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Head of Sharia Business Bank Jago Waasi Sumintardja menilai, tumbuhnya literasi keuangan dalam beberapa tahun terakhir menjadi fondasi penting untuk mendorong inklusi keuangan syariah yang lebih sehat dan berkelanjutan.
Pada 2020, lanjut dia, tingkat inklusi sempat lebih tinggi dibanding literasi. Namun pada 2023 dan 2024, literasi meningkat signifikan hingga menciptakan jarak yang cukup lebar dengan inklusi.
“Alhamdulillah, karena sebenarnya menurut pendapat saya sistematikanya memang harusnya awareness dulu, literasi dulu, baru nanti mulai dia menggunakan,” ujarnya, dalam Diskusi dan Buka Puasa Bank Jago Bersama Media, di Jakarta, Rabu (4/3/2026).
Baca Juga
Ditopang Ekosistem Solid, Nasabah UUS Bank Jago Naik 16,5% Jadi 2,4 Juta
Meski begitu, ia menyatakan pekerjaan rumah (PR) berikutnya adalah mendorong inklusi agar mengejar capaian literasi tersebut. Tantangannya tidak sederhana mengingat luasnya Indonesia, baik dari sisi geografis, rentang usia, tingkat pendidikan, hingga kondisi ekonomi masyarakat.
Waasi menilai, pendekatan digital menjadi kunci untuk menjangkau masyarakat secara lebih merata. Dengan teknologi, hambatan geografis dapat dipangkas, dan akses layanan keuangan dapat menjangkau kelompok usia serta latar belakang pekerjaan yang beragam.
“Walaupun literasi keuangan syariahnya sudah bagus, 30%-40%, bagaimana caranya Bank Jago bisa naikin inklusi? Kalau harus buka cabang, itu berat sekali. Oleh karena itu, bagaimana Jago Syariah (Unit Usaha Syariah/UUS Bank Jago) bisa memperkuat dan mempercepat digitalisasi sehingga semakin bisa diakses oleh masyarakat banyak,” katanya.
Selain digitalisasi, Waasi menyebut, pengembangan produk berbasis use case syariah sebagai fokus kedua. Menurutnya, masih terdapat celah antara kebutuhan masyarakat dengan solusi syariah yang tersedia saat ini.
“Saya beli makanan halal, bayarnya misalkan pakai alat tukar yang konvensional. Kan enaknya halal dibayar pakai yang syariah juga, idealnya begitu. Tapi (itu) bukan salah masyarakat juga, kalau produknya belum bisa menyelesaikan masalah yang ada di dalam masyarakat,” ucapnya.
Sehingga, Bank Jago melalui unit Jago Syariah berupaya menghadirkan solusi yang lebih relevan dan tepat guna. Salah satunya, setelah memperoleh izin dari Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) sebagai Bank Penerima Setoran Biaya Penyelenggara Ibadah Haji (BPIH).
“Jadi sekarang kami boleh membantu nasabah menerima pembayaran ibadah haji. Jago Syariah, memanfaatkan izin atau blessing dari BPKH terkait dengan menerima pembayaran biaya haji. Balik lagi, kalau kita cuman pakai misalkan cabang, tidak membantu,” ujar Waasi.
Baca Juga
Bank Jago, BEI, dan Stockbit Ajak Masyarakat Jadi Investor Realistis
Ia menyatakan bahwa seluruh pengembanan solusi tetap harus berbasis teknologi, namun tetap memenuhi prinsip kepatuhan syariah. “Teknologi tapi juga harus comply. Jadi kita harus sesuaikan use case-nya islamic use case atau sharia use case,” sambung dia.
Fokus ketiga yang tak kalah penting adalah penguatan kolaborasi ekosistem syariah. Menurut Waasi, ke depan akan semakin banyak sektor yang serius menggarap segmen halal, mulai dari makanan, fesyen, hingga perjalanan.
“Terakhir mungkin juga jangan lupa kolaborasi ekosistemnya. PR Bank Jago Syariah berikutnya tentu mengoptimalkan juga ekosistem yang lebih syariah,” katanya.

