Menuju Usia 80 Tahun, Bos BNI Tegaskan Nilai "Swadharma Bhakti Nagara" Jadi Fondasi Masa Depan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Di tengah dinamika ekonomi global yang penuh dengan ketidakpastian, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) atau BNI menegaskan komitmennya untuk tetap fokus pada penguatan stabilitas keuangan. Langkah ini diambil sebagai strategi utama dalam membangun fondasi yang kokoh bagi perusahaan untuk terus tumbuh dan menjawab berbagai tantangan di masa mendatang.
Direktur Utama BNI Putrama Wahju Setyawan menyampaikan bahwa dalam lanskap ekonomi saat ini, ketidakpastian telah menjadi realitas yang harus dihadapi dengan ketenangan dan arah yang jelas. Oleh karena itu, BNI menempatkan stabilitas sebagai prioritas tertinggi guna memastikan keberlanjutan bisnis di tengah fluktuasi global.
"Stabilitas keuangan kami jaga dengan cara kami membangun sebuah fondasi yang kuat bagi perusahaan ini untuk dapat tumbuh ke depan dan menghadapi tantangan-tantangan di tengah ketidakpastian ini," ujar Putrama dalam acara Wondrful Ramadhan Gathering: Silaturahmi BNI Bersama Pimpinan Media Nasional di Graha BNI, Jakarta, Senin (23/2/2026).
Selain memperkuat sisi domestik, BNI juga terus memperluas jangkauan internasionalnya. Putrama menjelaskan bahwa bank berlogo angka 46 ini tengah meningkatkan kapabilitas global melalui penguatan jaringan internasional, khususnya dalam mendukung perdagangan luar negeri serta memberikan layanan optimal bagi diaspora Indonesia di berbagai belahan dunia.
Transformasi internal juga menjadi motor penggerak pertumbuhan BNI melalui inisiatif yang disebut sebagai "BRAVE". Putrama memaparkan bahwa akronim tersebut merujuk pada Branch, Region, Area, Value, dan Empowerment. Strategi ini difokuskan pada pemberdayaan lini terdepan bank untuk memenangkan persaingan di pasar.
"Jadi, singkatan kepanjangan dari BRAVE ini adalah pada prinsipnya, pada intinya adalah bagaimana kami memberikan pemberdayaan, memberikan value kepada kantor cabang kami, kepada area kami, kepada kantor wilayah kami. Karena di sanalah sebetulnya terjadi pertempuran yang sebenarnya untuk memperebutkan market share atau pangsa pasar," tegasnya.
Lebih lanjut, Putrama menyoroti penguatan di sisi wholesale banking yang berbasis ekosistem. BNI berupaya mengintegrasikan korporasi besar dengan seluruh rantai nilainya, mulai dari distributor hingga UMKM. Model pembiayaan yang terstruktur ini diharapkan mampu menciptakan pertumbuhan yang seimbang di segmen wholesale, enterprise banking, komersial, hingga UMKM.
"Selain hal tersebut, kami tentunya sebagai bank negara memiliki peran yang strategis juga di dalam mendukung pembangunan nasional sekaligus sekali lagi dalam menjaga stabilitas sistem keuangan," ucap Putrama.
Momentum transformasi ini terasa semakin spesial karena pada 5 Juli 2026 mendatang, BNI akan genap berusia 80 tahun. Putrama merefleksikan delapan dekade perjalanan BNI sebagai institusi yang lahir dari semangat perjuangan dan pengabdian.
Menurutnya, kemampuan bertahan selama 80 tahun di industri perbankan merupakan bukti ketangguhan dalam melewati berbagai siklus krisis dan disrupsi teknologi.
"Dan rasanya tidak semua institusi mampu untuk melewati fase tersebut dengan tetap mendapatkan kepercayaan dari masyarakat," kata Putrama.
Keberhasilan BNI dalam menjaga kepercayaan masyarakat selama puluhan tahun disebut tidak lepas dari kompas nilai yang konsisten, yaitu "Swadharma Bhakti Nagara".
Putrama memerinci, Swadharma adalah sebuah kesadaran akan tanggung jawab profesional untuk menjalankan peran dengan disiplin dan dengan integritas. Bhakti adalah pengabdian, bahwa setiap keputusan bisnis memiliki dimensi kemanfaatan yang lebih luas dari sekadar sebuah angka. Dan Nagara adalah orientasi yang tegas bahwa BNI bekerja untuk kepentingan bangsa dan negara.
"Nilai-nilai inilah yang menjaga BNI untuk dapat tetap kokoh di tengah tekanan zaman, di mana strategi boleh berubah, model bisnis boleh berevolusi, namun kompas pengambilan keputusan dan nilai-nilainya tetap sama, yaitu Swadharma Bhakti Nagara," tegas Putrama.
Baca Juga
BNI Perkuat Aksi Lingkungan, Angkut 423 Kg Sampah dari Pantai Mertasari
Falsafah ini kini diterjemahkan ke dalam tiga perilaku organisasi yang relevan dengan perkembangan zaman, yakni Sefa, Karya, dan Raksa.
"Sefa adalah the way we serve, melayani sepenuh hati dengan empati dan tanggung jawab. Karena hubungan bank dengan nasabah dibangun atas dasar sebuah kepercayaan. Kemudian Karya adalah the way we perform, berdaya secara profesional, agile, dan tuntas dalam eksekusi. Karena kinerja adalah bukti, bukan sekadar janji. Dan yang terakhir adalah Raksa. Raksa adalah the way we protect, menjaga amanah melalui integritas dan kesadaran risiko," jelas Putrama.
Lebih jauh, Putrama menekankan bahwa stabilitas keuangan tidak hanya soal rasio angka, tetapi juga soal persepsi dan kepercayaan publik. Ia optimis bahwa dengan menjaga integritas dan kolaborasi bersama regulator serta media, BNI akan terus tumbuh sebagai pilar ekonomi nasional yang resilien.
"Bahwa stabilitas keuangan tidak hanya dibangun dari sebuah rasio-rasio prudensial, namun juga dibentuk oleh sebuah persepsi, oleh narasi, dan tingkat kepercayaan publik," ujarnya.
Putrama menambahkan, dalam delapan dekade perjalanannya, BNI mengajarkan satu hal yang sederhana, yakni institusi bisa tumbuh karena strategi, tetapi bertahan adalah adalah karena kepercayaan. Dikatakan Putrama, kepercayaan ini tidak dibangun dalam satu momentum, tetapi kepercayaan ini lahir dari sebuah konsistensi, konsistensi antara nilai, tindakan, dan pikiran.
"Dan juga komitmen suatu perannya adalah menjaga integritas, bahkan ketika situasi yang kita hadapi sedang tidak mudah. Memasuki usia 80 tahun BNI, komitmen BNI sederhana, namun tegas menjaga fundamental, merawat kepercayaan, dan bertumbuh dengan nilai yang sama seperti saat BNI didirikan. Selama kepercayaan itu dapat dijaga antara institusi, regulator, pelaku usaha, dan media, kami optimis sistem keuangan Indonesia akan tetap resilien dan mampu menata masa depan dengan benar," pungkas Putrama.

