Bank Indonesia Guyur Likuiditas Rp 165 Triliun untuk Sektor Bisnis Prioritas
JAKARTA, investortrust.id – Bank Indonesia (BI) terus memperkuat stimulus kebijakan makroprudensial untuk mendorong kredit perbankan, termasuk di sektor prioritas. BI telah mengguyur tambahan likuiditas senilai Rp 165 triliun ke sektor prioritas yang memiliki daya ungkit besar terhadap pertumbuhan ekonomi.
Demikian terungkap dalam rapat bulanan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di Jakarta, Selasa (30/01/2021).
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyatakan, BI meningkatkan efektivitas implementasi Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) untuk mendorong kredit/pembiayaan perbankan kepada sektor-sektor prioritas yang memiliki daya ungkit besar terhadap pertumbuhan ekonomi. Hal itu ditempuh melalui pemetaan secara berkala atas sektor-sektor prioritas dan penguatan koordinasi dengan pemerintah, otoritas keuangan, perbankan, dan pelaku usaha.
Menurut dia, implementasi KLM telah memberikan tambahan likuiditas ke sektor keuangan sebesar Rp 165 triliun per posisi Desember 2023, atau meningkat sebesar Rp 56 triliun sejak penerapan KLM pertama kali di 1 Oktober 2023.
Kebijakan BI lainnya adalah menurunkan rasio Penyangga Likuiditas Makroprudensial (PLM) sebesar 100 bps dari 6% menjadi 5% untuk Bank Umum Konvensional (BUK), dengan fleksibilitas repo sebesar 5%; dan rasio PLM syariah sebesar 100 bps dari 4,5% menjadi 3,5% untuk Bank Umum Syariah/Unit Usaha Syariah (BUS/UUS), dengan fleksibilitas repo sebesar 3,5%. Kebijakan itu berlaku efektif sejak 1 Desember 2023.
“Penurunan ini ditujukan untuk memberikan fleksibilitas pengelolaan likuiditas oleh perbankan dalam penyaluran kredit/pembiayaan dan mendorong pendalaman pasar keuangan,” kata Perry.
Selain itu, BI melanjutkan pelonggaran rasio Loan to Value/Financing to Value (LTV/FTV) Kredit/Pembiayaan Properti menjadi paling tinggi 100% untuk semua jenis properti untuk mendorong pertumbuhan kredit di sektor properti dan melanjutkan pelonggaran ketentuan Uang Muka Kredit/Pembiayaan Kendaraan Bermotor menjadi paling sedikit 0% untuk semua jenis kendaraaan bermotor baru, dengan tetap memerhatikan prinsip kehati-hatian dan manajemen risiko.
Lebih lanjut Perry Warjiyo menekankan bahwa BI terus memperkuat dan memperluas kerja sama internasional dengan bank sentral dan otoritas negara mitra, khususnya di area kebanksentralan termasuk mempercepat konektivitas pembayaran dan Local Currency Transactions (LCT), serta memfasilitasi promosi investasi, perdagangan, dan pariwisata di sektor prioritas bekerja sama dengan instansi terkait.

