OJK: Kinerja Perbankan Stabil dengan Pertumbuhan Kredit yang Meningkat
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melaporkan bahwa intermedisi perbankan menunjukkan kinerja yang stabil dengan profil risiko yang terjaga dan likuditas di level yang memadai di November 2025.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengungkapkan, pada November 2025, kredit tumbuh sebesar 7,74% year on year (yoy), di mana bulan sebelumnya tumbuh sebesar 7,36%, menjadi sebesar Rp 8.314,48 triliun.
"OJK mencatat bahwa terdapat peningkatan pertumbuhan kredit secara signifikan menjelang akhir tahun," ujar Dian dalam acara Konferensi Pers Asesmen Sektor Jasa Keuangan dan Kebijakan OJK Hasil Rapat Dewan Komisioner (RDK) Bulanan Desember 2025 yang diselenggarakan secara virtual di Jakarta, Jumat (9/1/2026).
Dian menjelaskan, kinerja intermediasi sampai akhir tahun 2025 diperkirakan semakin solid dengan pertumbuhan kredit diperkirakan akan di atas batas bawah target yang ditetapkan OJK. Sementara, dana pihak ketiga (DPK) diyakini akan mencapai pertumbuhan double digit.
"Hal ini menunjukkan perbankan telah mampu mengatasi berbagai tantangan dalam penyaluran kredit," ungkap Mahendra.
Baca Juga
OJK Catat Premi Asuransi Tumbuh 0,41% Jadi 297,88 Triliun per November 2025
Lebih lanjut, Dian menyebut, sektor real telah mulai menunjukkan perbaikan permintaan. Berdasarkan jenis penggunaan, kredit investasi per November 2025 mencatatkan pertumbuhan tertinggi, yaitu sebesar 17,98%, diikuti oleh kredit konsumsi tumbuh sebesar 6,67%. Sedangkan kredit modal kerja tumbuh sebesar 2,04% yoy.
Dari kategori debitur, kredit korporasi tumbuh sebesar 12% yoy. Sementara kredit UMKM masih menghadapi tantangan yang cukup berarti, yang dalam pengertian masih terkonstraksi.
Di sisi lain, DPK tercatat tumbuh sebesar 12,03% yoy. Di mana, sebelumnya sebesar 11,48% menjadi sebesar Rp 9.899,07 triliun.
"Penurunan suku bunga perbankan terus berlanjut. Dibandingkan tahun sebelumnya, rata-rata tertimbang suku bunga kredit rupiah tercatat turun 26 basis point yoy menjadi 8,97% pada November 2025. Utamanya ini didorong oleh penurunan suku bunga kredit modal kerja yang turun 44 basis point yoy," jelas Dian.
Di sisi penghimpunan dana, rata-rata tertimbang suku bunga DPK rupiah juga terpantau menurun sebesar 29 basis point yoy menjadi 2,77%, dengan penurunan utamanya pada suku bunga deposito. Sementara itu likuiditas industri perbankan pada November 2025 juga memadai dengan rasio alat likuid non-core deposit atau AL/NCD dan AL/DPK masing-masing sebesar 131,49% dan 29,67%.
"Masih di atas threshold masing-masing sebesar 50% dan 10%," kata Dian.
Baca Juga
Bos OJK Beri Update Terkait Perlakuan Khusus untuk Debitur Terdampak Bencana di Sumatra
Sementara itu, liquidity coverage ratio berada di level 210,38%. Kemudian, kualitas kredit tetap terjaga dengan rasio NPL growth sebesar 2,21%, yang sebelumnya dalam angka 2,25%.
"Jadi ini menurun, dan NPL net membaik menjadi 0,86%. Oktober yang lalu sebesar 0,90%. Sementara loan at risk itu turun dibandingkan bulan sebelumnya menjadi 9,22% yang sebelumnya adalah 9,41%," terang Dian.
Dian menambahkan, ketahanan perbankan juga tetap kuat. Hal ini tercermin dari permodalan atau capital adequacy ratio yang berada di level tinggi sebesar 26,05%, yang sebelumnya adalah 26,38%.
"Menjadi bantalan mitigasi risiko yang kuat untuk mengantisipasi kondisi ketidakpastian global dewasa ini," ucap Dian.
Selanjutnya untuk tahun 2026, kinerja perbankan diproyeksikan tetap solid dengan pertumbuhan kredit dan DPK yang tetap stabil. Hal ini ditopang oleh kualitas kredit yang terjaga dan permodalan yang kuat.
Namun demikian, Dian membeberkan, mengingat bahwa rasio pertumbuhan kredit juga sangat tergantung pada faktor eksternal. Di antaranya adalah permintaan pembiayaan dan dunia usaha, kondisi iklim investasi, dan proses pertumbuhan ekonomi nasional.
"Maka tentu saja penguatan di seluruh aspek penopang pertumbuhan ekonomi tersebut itu akan menjadi kunci untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi melalui penyaluran kredit yang berkelanjutan," pungkas Dian.

