Emas dan Perak Tembus Rekor Tertinggi Baru di Tengah Ketegangan Geopolitik dan Pelemahan Dolar
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Harga emas diperkirakan melonjak hampir 3% hingga Minggu (28/12/2025) atau dalam sepekan ini karena investor mencari perlindungan terhadap meningkatnya ketidakpastian global.
Harga emas dan perak melonjak ke rekor tertinggi baru, Jumat (26/12/2525) kemarin karena investor berbondong-bondong ke aset safe-haven di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan melemahnya dolar AS. Hal ini memperpanjang reli logam mulia yang kuat pada akhir 2025.
Harga emas spot terakhir naik 0,6% menjadi US$ 4.506,76 per ons troy pada pukul 21:55 ET (02:55 GMT), setelah melonjak ke puncak rekor baru US$ 4.530,6 per ons sebelumnya pada hari itu. Sementara itu, kontrak Berjangka Emas AS untuk pengiriman Februari naik 0,7% menjadi US$ 4.537,55.
Baca Juga
Selanjutnya harga perak spot melonjak lebih dari 4% untuk mencapai rekor tertinggi baru di US$ 75,14 per ons, dan diperkirakan akan melonjak lebih dari 7% pekan ini.
Dikutip dari investing.com, Ketegangan geopolitik di Venezuela dan Nigeria mendorong harga emas.
Permintaan aset safe-haven naik setelah AS meningkatkan tekanan pada ekspor minyak Venezuela, sebuah langkah yang menimbulkan kekhawatiran tentang gangguan pasokan dan ketidakstabilan regional yang lebih luas.
Menambah keresahan pasar, Presiden Donald Trump mengatakan di media sosial bahwa pasukan AS telah melakukan serangan terhadap target militan di Nigeria. Dia menyoroti kesediaan Washington untuk menggunakan kekuatan militer di berbagai wilayah.
Baca Juga
Harga Referensi dan Patokan Ekspor Emas Mulai Diberlakukan, Ini Dasar Penentuannya
Perak mengikuti kenaikan emas, didukung tidak hanya oleh daya tariknya sebagai aset defensif, tetapi juga oleh penggunaannya di industri, khususnya di bidang elektronik dan teknologi energi bersih.
Arus masuk investasi yang kuat dan ketersediaan yang terbatas memperkuat pergerakan harga selama kondisi perdagangan yang menipis karena liburan.
Dolar Tetap Lemah
Reli tersebut semakin didukung oleh pelemahan dolar AS, yang merosot terhadap sekeranjang mata uang utama. Dolar berada di bawah tekanan di tengah meningkatnya ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mulai melonggarkan kebijakan moneter pada 2026 karena inflasi menunjukkan tanda-tanda pendinginan dan pertumbuhan ekonomi yang melambat.
Baca Juga
Harga Emas Diramal Tembus Rp2,7 Juta, Dunia Menuju US$5.500 per Troy Ons
Dolar yang lebih lemah biasanya meningkatkan permintaan komoditas berdenominasi dolar dengan membuatnya lebih murah bagi pemegang mata uang lain.
Penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS juga mendukung aset nonbunga seperti emas, karena investor menilai kembali prospek suku bunga AS dan mengalihkan portofolio ke aset penyimpan nilai.
Dengan likuiditas yang kemungkinan akan tetap tipis selama periode libur Natal dan Tahun Baru, fluktuasi harga bisa menjadi berlebihan. Namun demikian, analis mengatakan, fundamental yang lebih luas menunjukkan kekuatan berkelanjutan pada emas dan perak hingga tahun baru.

