Budaya Bank Jago: Memberi Kesempatan Setiap Orang Berkembang
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Di era digital yang bergerak cepat, PT Bank Jago Tbk memilih jalan berbeda. Dia tak hanya fokus pada inovasi teknologi tetapi juga mengembangkan manusia yang siap tumbuh bersamanya.
Di balik arah besar ini, ada Pratomo Soedarsono, Head of People & Culture Bank Jago, yang punya cara pandang unik terhadap organisasi. Dengan pengalaman lebih dari dua dekade di bidang sumber daya manusia (SDM) dan transformasi organisasi, serta latar belakang arsitektur dan administrasi bisnis, Pratomo atau yang biasa disapa Tommy, menganggap organisasi seperti ruang hidup. Ia tak hanya membutuhkan fondasi kuat, tapi juga alur yang selaras serta cahaya nilai yang menuntun setiap gerak penghuninya. Baginya, organisasi yang sehat tidak dibangun oleh struktur atau sistem semata, tetapi oleh budaya yang memberi kesempatan tumbuh semua orang.
“Sebuah budaya kerja dianggap adaptif ketika tidak hanya fokus pada percepatan dan digitalisasi, tetapi juga pada upaya memberi kesempatan bagi setiap orang untuk berkembang, menghasilkan ide baru, dan saling bekerja sama,” ujar Tommy dalam perbincangan dengan media, pekan lalu di di ruang kerjanya, Jakarta.
Pandangan Tommy tersebut kian menemukan relevansinya di tengah lanskap ekonomi dan industri perbankan yang berubah pesat. Dengan lebih dari 200 juta pengguna internet aktif dan pertumbuhan ekonomi digital tercepat di Asia Tenggara, Indonesia menjadi pasar yang sangat potensial sekaligus kompetitif bagi bank-bank digital.
Menurutnya, generasi muda menjadi penggerak utama perubahan ini. Mereka menuntut layanan yang bukan hanya cepat dan efisien, tetapi juga selaras dengan nilai hidup yang menekankan transparansi dan inklusivitas.
“Bukan cepatnya langkah atau canggihnya teknologi yang membuat budaya kerja adaptif, tapi bagaimana kita memberi kesempatan bagi setiap orang untuk belajar, bereksperimen, dan saling mendukung,” tegas Tommy.
Tiga Pilar
Untuk menjawab tantangan perubahan, Tommy menegaskan bahwa Bank Jago mendorong organisasinya untuk terus belajar, beradaptasi, dan tumbuh secepat perubahan lingkungannya. Semangat itu kemudian mendorong Bank Jago untuk membangun tiga pilar utama yang membentuk budaya adaptif para Jagoan (sebutan karyawan Bank Jago).
Pertama, Bank Jago mengembangkan tim yang mampu mengelola dirinya sendiri. Dalam hal ini, tim lintas fungsi diberi otonomi tinggi untuk mengambil keputusan dan menyelesaikan tantangan secara cepat, tanpa harus bergantung pada rantai hierarki yang panjang. Pola kerja seperti ini menumbuhkan rasa tanggung jawab bersama sekaligus mempercepat proses inovasi.
Kedua, Bank Jago memperkenalkan konsep Capability Journey, yakni perjalanan pengembangan diri yang dirancang agar setiap individu memahami posisi dan arah pertumbuhannya. Pendekatan ini menekankan bahwa “karier bukan sekadar naik jabatan, tetapi tentang memperluas kapabilitas dan menemukan makna dalam proses belajar.”
Ketiga, semangat belajar itu diperkuat melalui Jago Digital Academy (JDA), sebuah platform pembelajaran mandiri yang tak hanya berguna untuk karyawan tetapi juga terbuka bagi umum, khususnya mahasiswa dan mitra ekosistem. Melalui JDA, Bank Jago tak hanya menumbuhkan budaya berbagi pengetahuan, tetapi juga menjembatani kesenjangan antara dunia akademik dan industri, serta memperluas literasi digital di Indonesia.
Baca Juga
Sejumlah Produk Inovasi Baru Siap Mengakleserasi Performa Bank Jago
Kecerdasan Buatan
Seiring tren kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang semakin berkembang, Bank Jago juga mengambil langkah strategis untuk memanfaatkan AI tanpa mengorbankan nilai dan peran inti manusia. Pendekatannya sederhana, AI berperan sebagai co-pilot yang menangani tugas-tugas rutin. Sementara itu, manusia tetap memegang keputusan penting, membimbing tim, dan membangun kepercayaan dengan nasabah.
“Bank Jago memosisikan diri di lanskap ini bukan hanya sebagai bank yang mengandalkan teknologi, tetapi sebagai organisasi yang berfokus pada pengembangan budaya dan potensi manusia agar dapat beradaptasi dan bertumbuh di tengah perubahan digital yang cepat,” terang Tommy.
Dengan pendekatan ini, lanjut Tommy, mengubah organisasi yang kaku menjadi jaringan kolaboratif yang hidup. Para Jagoan bergerak berdasarkan rasa memiliki yang sama, saling belajar, dan mampu beradaptasi dengan cepat terhadap dinamika pasar. Sedangkan para pemimpin tidak lagi berperan sebagai pengarah semata, melainkan sebagai mentor dan fasilitator yang membantu anggota timnya bertumbuh.
Bagi Tommy, model ini bukan sekadar cara baru bekerja, melainkan cara baru memandang manusia di dalam organisasi. “Ketika orang diberi ruang dan kepercayaan, mereka tidak hanya bekerja lebih baik, tapi juga tumbuh lebih cepat,” ujarnya.
Semua inisiatif ini selaras dengan aspirasi Bank Jago, yang tidak hanya menghadirkan layanan keuangan digital yang cepat dan inovatif, tetapi juga membuka kesempatan jutaan orang untuk belajar, berkembang, dan bertumbuh melalui solusi keuangan digital yang nyata, relevan, dan manusiawi.***
Baca Juga
Selain Produk, 2 Hal Ini Jadi Andalan Bank Jago untuk Bersaing

