Sejumlah Produk Inovasi Baru Siap Mengakleserasi Performa Bank Jago
Poin Penting
|
MALANG, investortrust.id – Kolaborasi-sinergi dengan partner ekosistem dan inovasi menjadi fondasi penting serta kekuatan masa depan Bank Jago. Kombinasi startegi itu mampu menciptakan berbagai produk inovasi baru yang unggul di pasar dan mengakselerasi performa.
Presiden Direktur PT Bank Jago Tbk, Arief Harris Tandjung menyatakan, model kolaborasi menjadi kekuatan bank digital dengan kode saham ARTO tersebut. Itulah sebabnya, pihaknya senantiasa me-leverage ekosistem partner karena banyak sekali sinergi bisnis yang bisa dikreasikan dengan partner. “Partner merupakan fondasi dan kekuatan masa depan Bank Jago,” kata Arief dalam focus group discussion (FGD) dengan editor di Malang, Kamis (30/10/2025).
Karena itu, strategi untuk tahun 2026 agar Bank Jago performa tetap berkilau adalah terus berinovasi dan berkolaborasi dengan partner. “Kami konsisten me-leverage dengan partner untuk menghasilkan produk baru yang unik. Selama ini kami membuat produk bukan cuma agar bisnis bertumbuh. Kalau sekadar demi bisnis tumbuh sih gampang. Tapi bagaimana produk itu memberikan manfaat sesuai kebutuhan nasabah yang tidak dimiliki produk lain,“ tutur Arief.
Intinya, kata dia, Bank Jago harus terus berinovasi agar berada di garis depan kompetisi. Sebab, bank pesaing lain pasti akan mengejar.
Ada sejumlah produk baru yang segera meluncur di pasar. Direktur Bank Jago Sonny Christian Joseph menyebut, pihaknya kini tengah menyiapkan produk baru Jago Dana Siaga (JDS). Ini merupakan dana cepat cair yang bakal sangat membantu nasabah. Misalnya, nasabah memiliki tabungan Rp 1 juta, namun ada keperluan pembelian seharga Rp 2,5 juta. Nah, kekurangan dana itu, sebesar Rp 1,5 juta bisa dipenuhi dari Bank Jago.
“Ada fleksibilitas pengembalian cicilan agar sesuai kebutuhan nasabah. Produk ini akan diluncurkan 1-2 bulan lagi, sekarang sedang tahap finalisasi,” kata Sonny.
Produk baru lain yang tengah disiapkan adalah Visa Jago Pro. Ini merupakan kartu debit untuk para profesional dan entrepreneur. “Ini juga akan kami luncurkan 1-2 bulan ke depan,“ kata Arief.
Baca Juga
Selain Produk, 2 Hal Ini Jadi Andalan Bank Jago untuk Bersaing
Maya Kartika, Head of Culture, Communication and Sustainability Bank Jago, menuturkan, sejak awal berdiri, Bank Jago menasbihkan diri sebagai bank berbasis teknologi yang mengedepankan inovasi dan kolaborasi. Dalam prosesnya, bukan hanya soal teknologi dan bisnis, tapi juga soal keberanian menumbuhkan manusia untuk membangun organisasi yang sehat dan bertumbuh dari dalam.
“Menjadi ‘jago’ itu bukan soal teknologi semata, tapi soal cara berpikir, yakni terbuka, efisien, dan selalu ingin berkembang. Demikian juga dengan bank, tidak hanya tentang produk tapi juga tentang filosofi, yaitu bagaimana bank berbasis teknologi bisa hadir secara manusiawi, membantu masyarakat lokal, dan tetap relevan di tengah era digital,” ujarnya.
Kinerja Kuartal III-2025
Tentang kinerja keuangan kuartal III, Arief menegaskan bahwa pertumbuhan laba bersih Bank Jago mencapai 132%, senilai Rp 199 miliar, merupakan hasil kerja keras. Selain itu, perolehan laba tinggi terjadi karena kualitas kredit bagus, dipadu dengan efisiensi operasional dan produktivitas yang terus meningkat.
Sebagai bank yang size-nya masih relatif kecil, kata Arief, pertumbuhan tinggi sangat wajar. Tahun ini memang sangat dinamis. “Dengan hasil tinggi, kadang kita paranoid juga. Makanya kita tahu kapan harus push pertumbuhan dan kapan harus mengerem,“ kata dia.
Bank Jago membukukan laba bersih sebesar Rp 199 miliar sepanjang sembilan bulan pertama 2025, meningkat 132% dari Rp 86 miliar pada posisi yang sama di 2024. Pertumbuhan laba yang tinggi, kata Arief, dipicu inovasi berkelanjutan dan kolaborasi yang kuat dengan ekosistem keuangan digital. Inilah yang mendorong kinerja Bank Jago kuat di berbagai lini, baik jumlah nasabah, penghimpunan dana pihak ketiga (DPK), maupun penyaluran kredit.
Penghimpunan DPK mencapai Rp 23,9 triliun hingga akhir September 2025 (meningkat 41% YoY) serta penyaluran kredit sebesar Rp 23,5 triliun (tumbuh 36%). Penyaluran kredit dilakukan dengan menerapkan prinsip kehati-hatian, tercermin pada rasio kredit bermasalah (NPL) gross yang tetap rendah di level 0,4%.
Pertumbuhan kredit yang sehat juga mendorong aset Bank Jago bertumbuh 28% menjadi Rp 34,5 triliun. Adapun rasio kredit terhadap simpanan (LDR) tercatat 98% serta rasio kecukupan modal (CAR) mencapai 32,9%.
Tentang keluarnya saham Bank Jago (ARTO) dari daftar saham LQ-45 di Bursa Efek Indonesia, Arief menegaskan bahwa itu berada di luar kontrolnya, tapi merupakan keputusan BEI. Yang dilakukan Bank Jago adalah terus memperbaiki performa dan reputasi agar investor selalu menyadari tentang kualitas dan potensi bank digital ini. “Belakangan harga saham bank, termasuk bank-bank besar, memang tertekan karena ketidakpastian dan sentimen,“ ujarnya.
Baca Juga
Bank Jago (ARTO) Bukukan Laba Rp 199 Miliar di 9 Bulan Pertama 2025, Naik 132%
Kantor Cabang
Sebagai bank digital, Bank Jago tetap membutuhkan kantor cabang. Arief mengaku bahwa kantor cabang juga penting untuk branding. “Tahun depan ditargetkan membuka kantor cabang lagi, di salah satu kota terbesar di Indonesia,” kata Arief saat berkunjung di kantor cabang baru di Surabaya.
Sonny Christian Joseph menyatakan bahwa sejak memiliki kantor cabang di Surabaya, pertumbuhan nasabah yang menggunakan aplikasi Jago meningkat 22%.
Saat ini jumlah nasabah Bank Jago sekitar 18,6 juta dan akhir tahun diharapkan bisa tembus 19 juta. “Tahun depan dan seterusnya, pertambahan jumlah nasabah ditargetkan mencapai 4-5 juta per tahun,” ujar Arief.
Menurut Maya Kartika, spirit Bank Jago bukan semata lekat dengan teknologi, tapi juga terkandung semangat keterbukaan dan kedekatan. Itulah yang melatari pembukaan kantor cabang.
Inovasi dan Literasi
Pada kesempatan ini, Maya Kartika menjelaskan pula, model tanggung jawab sosial (CSR) yang ditempuh Bank Jago bukan dengan charity atau pemberian bantuan, melainkan lewat berbagai program peningkatan kesadaran (awareness) tentang kesehatan finansial (financial health) masyarakat. Karena itu, Bank Jago gencar menggelar literasi keuangan dengan berbagai kampus atau sekolah, agar semakin banyak mahasiswa dan anak didik yang melek kesehatan finansial.
Berbagai strategi dilakukan untuk mendidik kesehatan finansial masyarakat. Bank Jago bahkan memiliki 20-an penulis khusus yang mahir dalam literasi keuangan.
Semangat menggelorakan inovasi sekaligus literasi ditempuh dengan berbagai cara. Antara lain, mendesain Jago Digital Academy (JDA), yakni sebagai wadah kolaboratif bagi para talenta unggul di bidang teknologi (tech talents) guna mengakselerasi pengetahuan dan kemampuan digital mereka guna menciptakan berbagai inovasi digital yang lebih bermanfaat.
JDA bekerja sama dengan beberapa universitas terkemuka di Indonesia, sehingga bisa membuat program ini sebagai sesuatu yang bisa dipakai dunia pendidikan Indonesia, terutama untuk mendidik calon para talenta digital teknologi agar siap bekerja di industri.
Digital Academy memiliki tiga program yang dibuka untuk jalur kemampuan teknis, yakni enginering, product management, dan data science.
Ada pula Jago Money Quest, yakni permainan edukatif untuk meningkatkan literasi keuangan generasi muda. Juga Jagoan Kampus, yaitu program kolaborasi dengan mahasiswa untuk menumbuhkan kesadaran finansial dan semangat wirausaha muda.
Kemampuan Bank Jago dalam inovasi berbuah manis dengan masuk dalam ‘Top 6 Best Innovator Teams’ di ajang SDG Innovation Accelerator for Young Professionals 2025 (SDGI), yang digagas United Nations Global Compact (UNGC) bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Baca Juga
Head of Sustainability & Digital Lending Bank Jago, Andy Djiwandono menjelaskan, SDGI adalah konsep AI-Powered Financial Health Navigator, sebuah solusi inovasi holistik berbasis data untuk membantu masyarakat meningkatkan kesehatan finansial. Melalui teknologi ini bank dapat menganalisis riwayat transaksi, pola arus kas, saldo tabungan, dan kewajiban utang nasabah untuk menghasilkan skor kesehatan keuangan yang dipersonalisasi untuk setiap individu.
Menurut Andy Djiwandono, skor kesehatan keuangan ini kemudian diterjemahkan menjadi empat modul, yaitu skor, wawasan, tahapan, dan sumber daya, yang mencakup konten edukasi dan akses ke perencana keuangan. Analisis dan skor tersebut disusun berdasarkan Financial Health Framework yang dirumuskan oleh tim Bank Jago yang mendefinisikan kesehatan finansial dalam empat tahap, yaitu financial security, financial resilience, financial control, dan financial freedom.
Selain itu, Bank Jago menyodorkan Blind Friendly App Initiative, yakni fitur perbankan digital yang ramah bagi penyandang tuna netra. Aplikasi ini dilengkapi navigasi audio dan struktur antarmuka sesuai standar aksesibilitas global. Konsep ini mendapat ‘special recognition’ sebagai salah satu ide paling menarik dan partisipasi paling aktif dalam program tahun ini.

