Dorong Inklusi Keuangan, Rupiah Cepat Gelar Edukasi ke Penyandang Disabilitas
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Dalam rangka Bulan Inklusi Keuangan Nasional (BIKN) 2025, platform fintech peer-to-peer (P2P) lending Rupiah Cepat menggelar literasi dan inklusi keuangan bagi penyandang disabilitas.
Saat ini Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sedang mengarahkan pemberian akses keuangan kepada penyandang disabilitas. Hal ini merupakan bagian dari upaya untuk mewujudkan inklusi keuangan, memenuhi hak-hak penyandang disabilitas, mendorong pemberdayaan ekonomi penyandang disabilitas, serta memperluas pasar bagi Pelaku Usaha Jasa Keuangan (PUJK).
Rupiah Cepat menjalin kerja sama dengan Perkumpulan Penyandang Disabilitas (PPDI) melalui penyerahan dana CSR sebesar Rp 100 juta dan kegiatan literasi kepada anggota PPDI. Kegiatan literasi tersebut bertujuan untuk mendukung para penyandang disabilitas agar semakin mampu memanfaatkan layanan keuangan digital secara bijak dan mandiri.
Baca Juga
Bank DBS Indonesia Cetak 50 Talenta Penyandang Disabilitas Lewat Program DBS BERSIAP
Menurut Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 yang dirilis OJK dan BPS, indeks literasi keuangan Indonesia mencapai 66,4 %, sementara indeks inklusi keuangan meningkat ke 80,51%. Angka ini naik dari 65,43% (literasi) dan 75,02% (inklusi) pada 2024.
Meski demikian, capaian itu belum merata di semua kelompok masyarakat. Penyandang disabilitas masih menghadapi kesenjangan besar dalam akses keuangan. Berdasarkan Susenas BPS 2023, hanya 24,3% penyandang disabilitas usia di atas 15 tahun yang memiliki rekening bank.
Selain itu akses kredit bahkan lebih rendah, sekitar 14,2%, dibanding 20,1% pada rumah tangga non disabilitas. Kemudian, meski 75,7% penyandang disabilitas tercakup program jaminan kesehatan, kepemilikan produk keuangan swasta seperti asuransi individu masih di bawah 2%.
Data-data di atas menunjukkan bahwa literasi keuangan khusus disabilitas mendesak dilakukan agar mereka tidak tertinggal dalam transformasi ekonomi digital. Kesenjangan itu juga menunjukkan bahwa dukungan nyata dari berbagai pihak, terutama penyedia layanan keuangan digital, menjadi kunci agar disabilitas dapat ikut berkembang bersama dalam ekosistem ekonomi modern.
“Rupiah Cepat percaya bahwa literasi keuangan adalah hak semua kalangan, tanpa terkecuali. Dukungan ini kami harap tidak hanya meningkatkan pemahaman anggota PPDI terhadap produk keuangan digital, tetapi juga mendorong kemandirian ekonomi mereka,” ujar Direktur Rupiah Cepat Anna Maria Chosani dalam Kegiatan literasi keuangan bertema “Pemerataan Akses Keuangan untuk Kalangan Disabilitas”, di Jakarta, Kamis (9/10/2025).
Baca Juga
Kemenhan-Kemenaker Kolaborasi Hadirkan Sertifikasi Vokasi bagi Penyandang Disabilitas
Direktur Eksekutif AFPI Yasmine Meylia, juga menegaskan pentingnya sinergi multipihak untuk mendukug pemerataan akses keuangan.
“Data menunjukkan adanya kesenjangan inklusi keuangan di kelompok disabilitas. Karena itu, kolaborasi antara platform Pindar, asosiasi, regulator, dan komunitas sangat penting untuk memastikan tidak ada kelompok yang tertinggal dalam perjalanan menuju inklusi keuangan nasional,” ungkapnya.
Sejak berdiri pada tahun 2017, Rupiah Cepat telah melayani sekitar 6,9 juta penerima dana dengan jumlah dana yang tersalurkan lebih dari Rp 31,8 triliun. Rupiah Cepat juga menerapkan sistem manajemen keamanan informasi dengan sertifikasi ISO 27001 guna memastikan keamanan data pengguna.

