BSI Dukung Indonesia Jadi Pusat Ekonomi Syariah Dunia
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Sebagai upaya untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional melalui penguatan ekonomi syariah, PT Bank Syariah Indonesia Tbk atau BSI (BRIS) telah melakukan berbagai langkah strategis. Hasilnya, BSI menjadi leading sharia bank di Indonesia, dan telah masuk dalam jajaran Top 10 Sharia Global Bank kategori market capitalization.
Wakil Direktur Utama BSI Bob T Ananta mengungkapkan, sebagai bank syariah terbesar di Indonesia, pihaknya mendukung penuh harapan pemerintah untuk menjadikan Indonesia sebagai pusat ekonomi syariah dunia pada 2029.
“BSI akan fokus kepada tiga agenda besar, yaitu penguatan halal value chain, pengembangan keuangan syariah, serta literasi dan inklusi keuangan syariah,” ujarnya, dalam keterangan pers, Rabu (20/8/2025).
Baca Juga
Menurut Bob, BSI memiliki peran strategis dalam agenda besar tersebut. Ia berharap kehadiran BSI dapat menjadi kekuatan ekonomi syariah baru untuk mendorong ekonomi Indonesia yang lebih besar lagi ke depannya.
“Ekonomi syariah diharapkan menjadi simbol kedaulatan ekonomi bangsa. Melalui pengembangan ekosistem halal, BSI mendukung seluruh segmen, baik wholesale maupun UMKM (usaha mikro kecil dan menengah) untuk bersama meningkatkan halal value chain,” katanya.
Baca Juga
Kabar Baik Penumpang, Subsidi Transportasi 2026 Naik Jadi Rp 9 Triliun
Di sisi bersamaan, pemerintah sendiri memang menargetkan Indonesia mampu menjadi pusat ekonomi syariah pada 2029. Dalam Sarasehan Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memaparkan enam inisiatif strategis guna mempercepat transformasi ekonomi syariah.
Antara lain, Gerbang Santri (Gerakan Pengembangan Pesantren dan Rantai Nilai Halal) untuk memperkuat kemandirian ekonomi pesantren, JAWARA Ekspor (Jaringan Wirausaha Syariah Mendorong Ekspor) yang akan membangun integrasi sistem informasi ekspor halal dan memperluas akses pasar internasional.
Selanjutnya, GEMA Halal (Gerakan Berjamaah Akselerasi Halal) yang mendorong percepatan sertifikasi produk halal, SAPA Syariah (Sinergi Perdagangan dan Pembiayaan Syariah) yang memperkuat pembiayaan perdagangan berbasis syariah.
Kemudian, KANAL ZISWAF (Kolaborasi Nasional Zakat, Infak, Sedekah, dan Wakaf) yang mengoptimalkan peran sosial keuangan syariah, serta LENTERA EMAS (Literasi dan Inklusi Ekonomi Syariah Menuju Indonesia Emas) yang akan meningkatkan pemahaman publik tentang ekonomi syariah.
Sementara itu, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan, penguatan sektor keuangan syariah menjadi kunci bagi Indonesia untuk merealisasikan ambisi tersebut. Ia mencatat, pangsa aset keuangan syariah nasional saat ini sudah mencapai 51,42%.
“Perlu terus ditingkatkan terutama pada instrumen keuangan syariah yang inklusif dan berkelanjutan seperti SUKUK hijau dan cash waqf - linked Sukuk (CWLS),” ucapnya.

