CEO Izidata: Perusahaan “Credit Scoring” Perkuat Industri Fintech
JAKARTA, investortrust.id – Keberadaan perusahaan skor kredit (credit scoring) sangat penting dalam ekosistem industri teknologi keuangan (fintech) di era digital saat ini. Credit scoring terutama dibutuhkan perusahaan Fintech Peer to Peer (P2P) Lending untuk mengelola risiko saat menyalurkan dana dari para kreditor (lender).
Saat ini ada 13 perusahaan credit scoring yang tercatat dalam Inovasi Keuangan Digital (IKD) Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Salah satu perusahaan credit scoring yang sudah tercatat di OJK adalah Izidata.
Menurut CEO Izidata Indonesia, Sigit Pratama, perusahaan credit scoring berperan memetakan profil risiko dari calon nasabah (borrower) Fintech P2P Lending. Hasilnya digunakan untuk memutuskan Apakah calon nasabah tersebut layak mendapat pembiayaan. Jika dianggap layak, juga dipetakan bagaimana potensi risikonya, yang menjadi dasar seberapa besar pinjaman yang bisa disalurkan.
“Kami membantu Fintech P2P bisa lebih jelas dan akurat dalam memilih nasabah. Dan kita bisa memetakan ke depan P2P ini mau dibawa ke arah mana, dan kita juga bisa membantu P2P bisa bertumbuh secara revenue,” ujar Sigit, saat ditemui sesuai Focus Group Discussion (FGD) “Implementation Digital Finance 2024 and Beyond”, di The Habibie-Ainun Library, Kamis (5/10/2023).
Dia menegaskan, Izidata juga berkomitmen untuk mengakselerasi literasi dan inklusi keuangan di Indonesia. “Izidata berkomitmen Bersama dengan OJK untuk mendukung ekonomi cepat bertumbuh, khususnya bagi nasabah-nasabah unbanked yang tidak tersentuh dalam banking. Kita coba membantu menganalisis nasabah unbanked ini yang sudah mengajukan (pinjaman) ke P2P klien kita, untuk kita kategorikan mana yang cocok untuk dibiayai dan mana yang belum cocok untuk dibiayai,” jelas Sigit.
Diungkapkan, saat ini mayoritas kliennya adalah perusahaan Fintech P2P. “Kurang lebih ada 78 P2P klien kami. Yang P2P itu sekitar 80%. Sisanya dari multifinance dan banking,” ungkapnya.
Menurut Sigit, tantangan pengembangan layanan keuangan digital ke depan masih banyak. Salah satunya masalah infrastruktur digital yang belum merata. Banyak daerah terpencil yang belum tersentuh jaringan internet. Kalaupun sudah ada koneksi internet, kualitas jaringannya masih belum memadai.
“Dengan kondisi infrastruktur seperti itu, masyarakat yang tergolong unbanked tentu tidak bisa menikmati layanan keuangan, khususnya keuangan digital, secara maksimal. Mereka tidak bisa mengajukan ke P2P,” jelasnya.
Sigit mengungkapkan, menghadapi tantangan tersebut, pihaknya berencana memperluas sayap, antara lain bermitra dengan lembaga keuangan mikro yang ada di tengah-tengah masyarakat. “Kami mencoba memasuki lini bisnis dari institusi finansial lain, seperti BPR (Bank Perkreditan Rakyat) dan koperasi,” ungkapnya.
Izidata, lanjut Sigit, akan melakukan sosialisasi ke koperasi-koperasi mengenai pentingnya memetakan potensi risiko. “Langkah ini sekaligus mengedukasi masyarakat supaya tidak hanya konsumtif, tetapi juga harus berpikir ini uangnya untuk apa, dan lebih produktif lah,” tandasnya.
Mendorong agar pinjaman nasabah bisa diarahkan ke kegiatan produktif, menjadi rencana Izidata ke depan. “Kita tidak mau klien hanya pinjam uang untuk konsumtif. Kaum muda yang sudah akrab dengan Fintech P2P juga para nasabah lainnya, juga harus memikirkan bagaimana cara mengembalikan uang, bukan hanya meminjam. Inilah pentingnya mengarahkan agar pinjaman digunakan untuk kegiatan produktif,” tuturnya.
Selain itu, edukasi juga diarahkan untuk menyadarkan masyarakat mengenai masih maraknya pinjol ilegal. Hal ini didorong oleh banyaknya kasus pinjol ilegal yang merugikan masyarakat, bahkan banyak kasus bunuh diri karena terjerat pinjol ilegal ini. (CR-4).

