Perbankan Indonesia Masuki Babak Baru, Ini Strategi Jawab Tantangan Era Digital
JAKARTA, investortrust.id – CEO Investortrust Primus Dorimulu menyampaikan, perbankan nasional memasuki babak baru dalam memberikan kontribusi terhadap pembangunan ekonomi nasional. Hal ini disampaikan dalam ajang Investortrust Best Bank 2025 bertajuk “Seize Indonesia’s Next Banking Chapter”.
Primus menyebutkan, perbankan ke depan harus menyediakan pembiayaan hijau berkelanjutan (green financing), cream finance, memperluas inklusi dan literasi keuangan, serta menjadi mitra transformasi digital bagi UMKM dan korporasi.
“Perbankan juga perlu mengoptimalkan kekuatan, mengubah aset menjadi keunggulan. Kekuatan perbankan ditentukan permodalan, teknologi, sumber daya manusia, dan kemampuan mendapatkan kepercayaan publik,” katanya di Hotel Sultan, Jakarta, Rabu (25/6/2025).
Baca Juga
Allo Bank Indonesia Raih Penghargaan Investortrust Best Bank KBMI II
Dalam paparannya, Primus menyoroti pemanfaatan teknologi, seperti artificial intelligence (AI), big data, dan embedded finance.
Menurutnya, embedded finance memungkinkan layanan keuangan, seperti pembiayaan, asuransi, dan investasi diintegrasikan langsung ke dalam platform non-keuangan sehingga pengguna dapat mengakses layanan tersebut tanpa harus berpindah aplikasi.
“Perbankan nasional juga harus berjalan bersama agenda nasional, kebijakan Prabowo Subianto-Gibran Rakabumng Raka, yaitu hilirisasi, kedaulatan pangan dan energi, program makan bergizi gratis (MBG), program 3 juta rumah, dan transformasi digital,” papar Primus.
Ia juga mengidentifikasi sejumlah tantangan yang dihadapi sektor perbankan saat ini, di antaranya ketatnya likuiditas, kompetisi antarbank, lambatnya pertumbuhan kredit, digitalisasi yang belum merata, serta ketimpangan struktur pasar.
Selain itu, kata Primus, persaingan dengan fintech, big tech, dan neobank juga semakin menekan bank-bank kecil, terutama dalam penguasaan teknologi.
Baca Juga
“Celakanya bank-bank besar yang awalnya bukan digital bank ternyata lebih cepat dalam digitalisasi. Sehingga (bank) kecil-kecil agak kesulitan kalau ‘balapan’ dengan bank besar, karena siapa yang punya uang banyak, dialah yang mempunyai teknologi,” tuturnya.
Primus menambahkan, perubahan perilaku nasabah, khususnya generasi Z dan milenial yang menginginkan layanan cepat dan berbasis mobile first, menjadi tantangan bagi seluruh perbankan. Di sisi lain, regulasi dan tuntutan keamanan yang semakin ketat dari OJK, ancaman keamanan siber, dan potensi penipuan digital juga perlu diantisipasi.
“Tantangan lain adalah perbankan dituntut melaksanakan agenda dunia, yaitu environmental, social and governance (ESG) dan inklusi. Investor dan regulator mendorong bank bertransisi ke arah keuangan hijau dan bertanggung jawab terhadap keadaan sosial. Ada pula tantangan menyiapkan internal, sumber daya manusia, teknologi dan budaya,” pungkas Primus.

