Dari Mustahik Jadi Pengusaha Mandiri Lewat Lele dan Cuanki
JAKARTA, investortrust.id - Bakso cuanki dan aneka olahan lele dari Poklahsar Lele menjadi kisah inspiratif dari mustahik yang kini bertransformasi menjadi pelaku usaha mandiri. Mustahik adalah sebutan bagi orang yang berhak menerima zakat.
Dua produk unggulan dari program pemberdayaan mustahik Yayasan Baitul Maal BRILiaN (YBM BRILiaN), turut meramaikan gelaran tahunan BRILiaN Fest dan mendapat pujian dari Ketua Ikatan Wanita BRI (IWABRI) Pusat Rena Sunarso.
“Rasa dan makanannya enak-enak,” ujarnya kepada Investortrust, belum lama ini di gelaran tahunan BRILiaN Fest di BRILiaN Sport Hall, Jakarta.
Fasilitator Ekonomi YBM BRILiaN RO Banten Ayu Afriana Afiah menjelaskan, bakso cuanki merupakan hasil pemberdayaan 10 mustahik perantauan asal Garut yang kini menetap di Cilegon.
Berawal dari bekerja sebagai karyawan, mereka kini menjadi pengusaha mandiri setelah menerima pendampingan dan modal usaha dari YBM BRILiaN. Tak hanya sukses mengembangkan 10 pangkalan dagang tetap, mereka juga telah menyisihkan hasil usahanya untuk pembangunan masjid di kampung halaman.
“Untuk bakso cuanki, Alhamdulillah setiap bulan dengan beranggotakan 10 orang omzetnya minimal Rp 45 juta dengan keuntungan rata-rata per bulan per orang dapat Rp 2 jutaan,” katanya.
Foto: Investortrust/Lona Olavia
Baca Juga
Tak Berhenti Berusaha
Perjuangan hidup membawa 10 perantau dari Garut ke Kota Cilegon dengan harapan kehidupan yang lebih baik. Mereka diceritakan Ayu memulai segalanya dari nol, bekerja sebagai karyawan di usaha cuanki dengan sistem penggajian. Saat itu, impian untuk memiliki usaha sendiri terasa jauh, tetapi mereka tidak pernah berhenti berusaha.
Hingga akhirnya, di tahun 2023, YBM BRILiaN hadir membawa harapan baru. Dengan pendampingan dan modal pemberdayaan, 10 orang tersebut berani melangkah lebih jauh. Dari yang semula hanya mengikuti pengusaha lain, kini mereka menjadi bos bagi diri sendiri. Dari lima orang yang pertama kali bergabung, kini menjadi 10 orang yang memiliki usaha cuanki mandiri.
Kini, usaha mereka semakin berkembang. Dengan 10 pangkalan tetap, mereka tidak hanya menjual di jalanan, tetapi juga melayani pesanan catering untuk berbagai acara besar, termasuk acara di BRI dan bazaar di pusat perbelanjaan kota Cilegon.
Usaha bakso cuanki adalah jajanan baso khas Bandung yg dijual dengan gerobak dorong, komposisinya terdiri dari bakso daging, siomai goreng, tahu bakso, dan kaldu kuah sop.
Penerima manfaat dari program Mustahik Income Generating Program (MIGP) bakso cuanki adalah mustahik lulusan dari program sekolah kesetaraan Paket C PKBM Ummatan Wasathon Kota Serang, Banten. Mustahik awalnya cuma ikut mendagangkan bakso cuanki orang lain, sekarang setelah mendapatkan program MIGP dari YBM BRILiaN, para mustahik secara mandiri mempunyai aset gerobak dorong dan modal usaha.
“Perubahan ini bukan hanya soal bisnis, tetapi tentang meraih martabat dan kemandirian. Empat dari mereka bahkan sudah bisa membawa serta anak dan istri mereka untuk menetap di Cilegon, membangun kehidupan yang lebih layak dan penuh harapan,” ucap Ayu.
Foto: YBM BRILiaN
Seperti halnya bakso cuanki, Poklahsar Lele yang merupakan kelompok pengolah dan pemasar aneka olahan lele dari wilayah Serang. Terdiri dari 10 anggota mustahik, kelompok ini mampu menciptakan berbagai produk inovatif dari lele termasuk abon lele. Abon lele ini bahkan telah menjalin kerja sama maklon dengan jaringan Alfamart se-Jabodetabek dengan permintaan tetap sebesar 150 kilogram per bulan.
“Untuk abon lele saat ini omzetnya mencapai Rp 8 – 12 juta per bulan dengan bagi hasil rata-rata per orang Rp 800.000 hingga Rp 1,5 juta per bulan,” sebut Ayu.
Ayu bercerita, usaha abon lele ini dibentuk dengan motivasi usaha bersama kelompok untuk bisa menambah penghasilan, untuk biaya hidup masing-masing anggota kelompok. Diawali dengan pembuatan ikan bumbu marinasi yang dibekukan, hingga menciptakan kreasi olahan ikan lainnya yang dilakukan secara bersama-sama.
Baca Juga
YBM BRILiaN Raih SK Izin Operasional Sebagai Lembaga Amil Zakat Skala Nasional
Motor Penggerak Ekonomi
Sementara itu, Staf Pemberdayaan di YBM BRILiaN Muhammad Irshad mengatakan, kehadiran produk-produk ini di BRILiaN Fest tidak hanya menambah semarak acara, tetapi juga menunjukkan wajah zakat yang produktif. YBM BRILiaN melalui berbagai program pemberdayaan terus membuktikan bahwa zakat dan infak dapat menjadi motor penggerak kemandirian ekonomi umat, serta memberikan ruang tumbuh bagi mustahik untuk berkembang menjadi pejuang nafkah yang bermartabat.
"Untuk program pendayagunaan, kami salah satunya memiliki MIGP. MIGP berfokus pada pemberdayaan ekonomi bagi para mustahik melalui berbagai sektor usaha, termasuk UMKM, pertanian, peternakan, dan perikanan," kata Irshad.
Foto: Investortrust/Lona Olavia
Dalam praktiknya, YBM BRILiaN bekerja sama dengan 17 regional office yang tersebar di seluruh Indonesia untuk melaksanakan program ini. Produk UMKM yang dihasilkan oleh mustahik cukup beragam, mulai dari bakso cuanki, emping melinjo, jamur tiram crispy, hingga keripik pisang. Produk-produk ini dijual dengan harga yang terjangkau, berkisar antara Rp 15.000 hingga Rp 100.000, dengan harapan dapat meningkatkan pendapatan mustahik.
Dana zakat yang dikelola oleh YBM BRILiaN berasal dari pemotongan 2,5% penghasilan karyawan BRI yang telah memenuhi nisab. Selain itu, lembaga ini juga menerima zakat fitrah, infak, dan sedekah yang kemudian digunakan untuk mendukung berbagai programnya.
"Dari dana zakat ini, kami berupaya memberdayakan mustahik agar dapat menghasilkan pendapatan dan meningkatkan taraf hidup mereka," tambah Irshad.
Sebagai informasi, YBM BRILiaN adalah lembaga filantropi Islam yang mengelola dana zakat, infak, dan sedekah secara profesional. Lalu merupakan lembaga amil zakat nasional (LAZNAS) yang didirikan oleh PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI).

