Kayahutan Bawa Dekorasi Tanah Liat Tembus Pasar Global
JAKARTA, investortrust.id – Saat Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Maman Abdurrahman Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) Sunarso mengunjungi booth Kayahutan, Khoirunisa Prawita Sari sang pendiri tampak antusias.
Kayahutan merupakan salah satu UMKM dari 1.000 peserta yang ikut serta di BRI UMKM EXPO(RT) 2025 di International Convention Exhibition (ICE) BSD City, Tangerang, 30 Januari hingga 2 Februari lalu.
Tahun ini, sebanyak 1.000 UMKM unggulan yang berhasil terpilih dipamerkan dalam lima kategori utama, yaitu Home Decor & Craft (153 UMKM), Food & Beverage (358), Accessories & Beauty (181), Fashion & Wastra (273), dan Healthcare & Wellness (35).
“Nama Kayahutan karena awalnya kita jualan pot sama tanaman, terus penuh tanaman. Pas namanya seperti hutan. Tapi lebih dalam lagi, siapa sih yang tidak suka hutan? Hutan kan selalu dijaga. Kalau tidak ada hutan, kita sedih. Kita ingin keberadaan kita tuh seperti hutan yang memberikan manfaat ke banyak orang,” ucap perempuan kelahiran Jakarta, 30 September 1992 tersebut.
Foto: Investortrust/Lona Olavia
Kayahutan adalah UMKM yang memproduksi vas tanah liat buatan tangan sebagai produk utama. Kreasinya tidak terbatas pada produk buatan tangan terakota saja, tapi merambah ke tekstur seni, lukisan, dan seni dinding. Sebut saja, produk seni kreatif lokakarya, produk Montessori dan kelas seni suvenir karakter, produk berbasis tembikar, dan dekorasi seni dinding.
Khoirunisa mendirikan Kayahutan pada 2020. Sebelum itu dia menjadi konsultan IT di NTT Data sejak tahun 2014, namun pada 2019 ia memutuskan berhenti menjadi orang kantoran dan menjadi ibu rumah tangga. Di tengah keasyikan itulah, ibu dua anak ini merasakan punya kecintaan pada dekorasi, khususnya tanaman hias. Namun diakuinya passion terbesar adalah dekorasi rumah.
“Passion saya itu bukan di merawat tanaman jadi saya tidak berkembang di bisnis tanaman hias tersebut. Jadi, saya mencoba ke ranah usaha yang lebih besar, yaitu dekorasi rumah yang bertahan hingga saat ini,” kata ibu dari dua anak ini.
Baca Juga
Seru-seruan Bareng BRImo di Festival Ramadan Terbesar Ibu Kota
Alhasil kini, produk yang dihasilkan oleh Khoirunisa telah menjangkau berbagai provinsi di Indonesia, termasuk Aceh, Medan, Bengkulu, Palembang, Lampung, Sulawesi, dan Kalimantan. Tak puas dengan itu, Kayahutan juga kini merambah pangsa ekspor.
Omzet Kayahutan, sebutnya sekitar 500-5.000 pieces per bulan dengan omzet Rp 15-70 juta per bulan di 2024. “Kalau untuk tahun ini kan ada pergantian pemerintahan dan ada efisiensi. Jadi kita tidak muluk-muluk, supaya bisa bertahan sudah syukur. Tapi harapannya bisa di atas Rp 40 juta per bulan,” sebut Khoirunisa.
Foto: Investortrust/Lona Olavia
Sarjana Teknologi Pertanian dari Institut Pertanian Bogor (IPB) ini mengungkapkan, perkembangan industri kreatif Tanah Air, khususnya di segmen dekorasi rumah dan furnitur sangat pesat. Untuk mengambil celah itu, Kayahutan terus mengembangkan inovasi dalam desain produk dekorasi yang menggunakan tanah liat sebagai bahan utama, dengan fokus pada keunikan lokal. Sehingga ia percaya diri alias pede mampu memikat perhatian pasar lokal dan global.
“Kita (Indonesia) kan memang terkenal produsen clay, vas-vas aesthetic, terutama ke Korea, Jepang. Tapi Jepang itu dia agak segmented, karena dia lebih suka yang artisan. Maksudnya tidak yang massive product. Kalau Korea itu dia biasa, soalnya produksinya bisa 1.000-2.600. Ke Belanda dan Australia potensinya besar juga, sama negara Skandinavia. Tapi untuk tahap awal, penjajakan awalnya kami ke Jepang dan sudah sampai quotation, semoga deal,” katanya.
Baca Juga
Ngabuburit Asyik Ditemani Lantunan Melodi Taklukkan Hati Nasabah Muda BRI
Khoirunisa mengaku, potential buyer dari Jepang itu awalnya berasal dari pameran Brilianpreneur. Pameran yang disebut juga sebagai BRI UMKM EXPO (RT) BRILIANPRENEUR adalah pameran produk UMKM yang diselenggarakan oleh BRI. Pameran yang diselenggarakan secara tahunan sejak tahun 2019 ini bertujuan mempertemukan UMKM dengan pembeli luar negeri.
Untuk menjajaki ekspor, ia amat terbantu dengan pembinaan yang diberikan oleh bank yang dikenal "banknya wong cilik" itu. Sebab, untuk menggenapi peluang dibutuhkan pendanaan, mengingat pesanannya akan mencapai ribuan pieces.
“Modalnya mungkin ratusan juta, mungkin kita bisa meminta dibiayai, apa meminjam dana, financing oleh BRI dengan bunga yang rendah. Selama ini workshop juga sudah dibantu sama BRI untuk peminjaman dana,” ujarnya.
Pinjaman dana pertama kali diterima pada tahun 2022, kala itu Kayahutan tengah membangun workshop home decoration di Bantargebang, Bekasi. Dana pinjamannya saat itu sebesar Rp 250 juta yang digunakan untuk membeli lahan. Sementara untuk ekspor, ia sudah memiliki ancang-ancang pinjamannya sekitar Rp 100 juta jika kontrak diteken.
Sebagai tempat untuk menyalurkan produk yang dihasilkan, Khoirunisa memilih kios di wilayah Sunter, Jakarta Utara. “Di Sunter hanya untuk display produk jadi. Karena itu kan drop point untuk mendekatkan market kita ke Jakarta dan sekitarnya,” ucapnya.
Foto: Investortrust/Lona Olavia
Pottery class
Sebagai pengembangan dengan tren seni, Kayahutan pada tahun ini telah membuka pottery class. Pottery class adalah kelas tembikar atau gerabah yang mengajarkan cara membuat tembikar dari tanah liat. Untuk mengikutinya, Kayahutan mematok Rp 150.000 untuk per sesinya yang berlangsung selama dua jam. Kelas ini bisa diikuti oleh anak usia 4 tahun hingga dewasa.
Lalu untuk inovasi produk, tahun ini Kayahutan juga fokus pada pengembangan mainan Montessori yang terbuat dari clay. Mainan Montessori adalah salah satu media edukatif yang digunakan untuk membantu menggali potensi dan mengasah otak anak. Ambil contoh cylinder socket, sortir warna, balok susun pelangi, meronce, board book, dan puzzle.
Berbicara soal produk, Kayahutan mematok harga mulai dari Rp 20.000 hingga ratusan ribu. Produk yang digemari antara lain vas minions hingga gentong.
Salah satu pengunjung EXPO UMKM Rivaldo Philip yang mencoba membuat tembikar dari tanah liat, mengaku senang dengan kegiatan ini. Ia diberi kesempatan untuk berkarya langsung didampingi pendamping karena sudah membeli patung rusa mini.
“Perlu konsentrasi supaya tidak salah. Buat cangkir sudah lama, kalau pengrajin buat katanya dibawah semenit sudah jadi. Yang susah katanya buat patung agak lama 10 menit,” ungkapnya.
Foto: Investortrust/Lona Olavia
Sementara itu, Yosep pengrajin Kayahutan yang biasa disapa Mang Opep mengaku senang bekerja sebagai pengrajin. Meski sudah lama berprofesi sebagai pengrajin di Purwakarta sebelumnya, yang paling susah dibentuk adalah figur topeng dan karakter, sedangkan yang paling mudah adalah membuat piring.
“Dari dulu jiwa saya pengrajin. Suka main tanah saja dari dulu, dari kecil gitu kan. Kebetulan juga kan orang tua buat seperti ini,” katanya.

