Bank Mandiri Sebut Bisnis Perbankan Masih Moncer, Ini Indikasinya
JAKARTA, investortrust.id - Ekonomi global masih diliputi ketidakpastian, terutama akibat meningkatnya risiko geopolitik. Meski begitu, Wakil Direktur Utama PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, Alexandra Askandar yakin bisnis perbankan tahun ini masih moncer alias masih prospektif.
Sejumlah indikator, menurut Alexandra, mendorong optimistis tersebut, salah satunya pertumbuhan kredit yang tumbuh pesat. Tahun lalu, kredit tumbuh 10,4% secara tahunan (yoy), meski dana pihak ketiga (DPK) hanya tumbuh 3,73% atau tak setinggi tahun sebelumnya sebesar 9,01%.
“Kami melihat hal ini sebenarnya karena pemulihan ekonomi. Jadi, tidak ada sesuatu yang perlu kita khawatirkan,” ujar Alexandra Askandar di Jakarta, Kamis (29/2/2024).
Baca Juga
Relaksasi Covid-19 Akan Berakhir, Bank Mandiri Tegaskan Kesiapannya
Alexandra menjelaskan, melambatnya pertumbuhan DPK merupakan pertanda bahwa para deposan sudah mulai menggunakan dananya untuk konsumsi, bahkan untuk investasi.
“Pertumbuhan DPK yang melambat juga disumbang menurunnya kinerja perdagangan nasional yang berdampak terhadap rendahnya DPK valuta asing (valas),” papar dia.
Di lain sisi, kata dia, kondisi pemulihan ekonomi yang berlangsung di dalam negeri berdampak positif terhadap rendahnya rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) yang tahun lalu berada di level 2,19%.
Hal itu, menurut Alexandra, membuat profitabilitas industri perbankan semakin baik. Salah satu indikasinya, net interest margin (NIM) pada 2023 naik menjadi 4,85% dibanding tahun sebelumnya 4,71%.
Baca Juga
Tangkap Peluang Investasi di 2024, Bank Mandiri Kembali Gelar Mandiri Investment Forum (MIF)
Dia menambahkan, ekspektasi bahwa suku bunga akan menurun pada semester II-2024 kian menambah optimisme tersebut.
“Penurunan suku bunga akan memberikan optimisme kepada para pelaku ekonomi. Ujung-ujungnya, ini akan menjadikan prospek industri perbankan semakin cerah,” tegas dia.

