Sejumlah Risiko ini Disebut Jadi Tantangan Perusahaan Asuransi di 2025
JAKARTA, investortrust.id - Menurut Survei Opini Eksekutif yang dilakukan World Economic Forum beserta Marsh McLennan dan Zurich Insurance Group, kawasan Asia Pasific (APAC) tengah bergulat dengan ketidakpastian ekonomi, risiko iklim dan kurangnya tenaga kerja, yang muncul sebagai risiko utama bagi bisnis dalam dua tahun ke depan. Industri asuransi pun dihadapkan pada sejumlah tantangan.
Chief Risk Officer untuk APAC di Zurich Insurance Group Sid Medappa mengungkapkan, oleh karena itu penting bagi perusahaan asuransi untuk mengedepankan manajemen risiko yang proaktif dan terintegrasi untuk mengatasi tantangan yang saling berkaitan saat ini.
“Membangun ketahanan akan sangat penting bagi bisnis untuk menghadapi ketidakpastian ekonomi, mengurangi risiko iklim, dan mengatasi kekurangan tenaga kerja saat mereka memasuki tahun 2025,” ujarnya, dilansir InsuranceAsia, Kamis (26/12/2024).
Namun, lanjtu Medappa, di Asia Timur, kekurangan tenaga kerja dan bakat telah melampaui masalah ekonomi, yang mencerminkan meningkatnya tantangan dalam mempertahankan tenaga kerja terampil, khususnya di sektor teknologi informasi (TI) dan digital.
Baca Juga
OJK Masih Optimistis pada Prospek Pertumbuhan Industri Asuransi dan Dana Pensiun di 2025
Risiko terkait iklim, menurutnya juga meningkat di seluruh wilayah APAC, degan peristiwa cuaca ekstrem seperti banjir dan gelombang panas yang menimbulkan ancaman signifikan, terutama di Oseania dan Asia Timur.
“Meningkatnya frekuensi dan keparahan ini menggarisbawahi perlunya bisnis untuk berinvestasi dalam strategi adaptasi dan mitigasi iklim untuk melindungi operasi dan aset,” kata Medappa.
Dikatakan dia, inflasi terus membebani bisnis di Oseania dan Asia Tenggara, meningkatkan biaya dan membebani pengeluaran konsumen. Sementara itu, kesenjangan sosial ekonomi, termasuk kemiskinan dan ketimpangan pendapatan di Asia Selatan dan Tenggara semakin menambah parah potensi risiko.
Ketegangan geopolitik, khususnya di Asia Timur juga menambah tantangan, karena menimbulkan gangguan perdagangan, sanksi, dan pembatasan investasi yang menghambat rantai pasokan dan stabilitas ekonomi.
Sekadar informasi, survei tersebut berdasarkan jawaban lebih dari 11.000 pemimpin bisnis di 121 negara, menyoroti kemerosotan ekonomi yang tengah berlangsung yang ditandai oleh resesi dan stagnasi. Tujuan survei ini agar bisa menjadi perhatian utama bagi sebagian besar sub wilayah, termasuk Oseania, Asia Tenggara, dan Asia Selatan.

