Ekonom Permata Bank Sebut Tahun Depan Ekonomi RI akan Dipengaruhi 3 Tantangan Ini
JAKARTA, investortrust.id - Chief Economist Permata Bank Josua Pardede menyebut, perkembangan ekonomi Indonesia di tahun depan masih akan dipengaruhi oleh tiga tantangan yang sebelumnya sudah terjadi di tahun ini, antara lain perlambatan ekonomi China, tahun pemilu 2024, dan konflik geopolitik.
”Yang pertama adalah perlambatan ekonomi China. Kita tahu China ini adalah mitra dagang utama Indonesia, bukan hanya penting buat Asia tapi juga penting buat Indonesia,” ujarnya, di acara Wealth Wisdom 2024 yang digelar Permata Bank, di Jakarta, Senin (18/11/2024).
Faktanya, lanjut Josua, pertumbuhan ekonomi China mengalami tren perlambatan. Tercermin dari pertumbuhan ekonomi di dua kuartal terakhir yang tumbuh di bawah 5%. Di bersamaan, China menjadi konsumen energi tertinggi dan salah satu tujuan ekspor utama Indonesia, baik crude palm oil (CPO), maupun batubara.
“Dan tentunya ini akan berimbas langsung terhadap ekspor Indonesia kalau kondisi ekonomi China ini terus mengalami perlambatan,” katanya.
Baca Juga
Permata Bank Optimistis Pemerintahan Baru Bisa Pacu Bisnis Wealth Management
Menurut Josua, tantangan kedua berkaitan dengan tahun pemilihan umum (pemilu) 2024. Selain Indonesia, tahun ini Amerika Serikat (AS) juga menggelar pemilu yang dimenangkan Donald Trump. Dengan kembali terpilihnya Trump, publik menanti-nanti seperti apa kebijakan industrial ke depan.
“Kemungkinan besar tarif impor kepada produk China akan diberlakukan, karena menteri perdagangannya yang sebelumnya di periode pertama kembali ditunjuk lagi,” ucap dia.
Baca Juga
Bantu Nasabah Kelola Kekayaan, Permata Bank Gelar Rangkaian Wealth Wisdom 2024
Ke depan, dikatakan Josua, publik sedang mengamati seperti apa dampaknya terhadap ekonomi RI. Dalam jangka pendek sebenarnya terjadi kecemasan di pasar, khususnya dari sisi ketidakpastian karena selama Trump menjadi presiden di periode pertamanya sering berkomentar apapun di media sosial, khususnya X (sebelumnya Twitter).
“Jadinya membuat market ke depannya harus menganalisis statement-nya dia dari sosmed, termasuk X-nya. Dampak lansung bagi market Indonesia jangka pendek ini adalah kekhawatiran bahwa kenaikan tarif impor akan direspon pemerintah China yang melakukan pembalasan, yang bisa mengakibatkan devaluasi nilai tukar yuan,” katanya.
Devaluasi tersebut pada akhirnya akan berimbas pada pelemahan mata uang yuan, rupiah, dan mata uang asia lainnya. Karena memang tadi korelasinya yuan ini cukup tinggi terhadap mata uang rupiah dan juga mata uang lainnya.
“Yang ketiga adalah geopolitik. Kalau kita mengikuti geopolitik dari tahun 2022, dari Rusia-Ukraina, lalu perang antara Israel dan Palestina, dan juga saat ini yang terus mengemuka adalah geopolitik di Timur Tengah,” ujar Josua.
Faktor ketegangan geopolitik memang tidak ada yang bisa memprediksi kapan akan berakhir, namun Trump tidak suka ikut campur dalam konflik geopolitik di Timur Tengah.
“Jadi good news-nya adalah harapannya tensi geopolitik Timur Tengah setelah Donald Trump tidak makin memanas. Itu sebenarnya yang kita lihat dampak dari kebijakan Trump,” ucap Josua.

