Haus Inovasi dan Kolaborasi, Bank Jago Tumbuh Akseleratif
YOGYAKARTA, investortrust.id – Mewujudkan digitalisasi bank yang resilien dan berkelanjutan harus berfondasikan setidaknya dua hal, yaitu inovasi dan kolaborasi. Bank digital yang malas berinovasi akan tersingkir dari arena persaingan, sedangkan kolaborasi menjadi sebuah keniscayaan untuk membentuk ekosistem digital yang kuat.
Bank Jago boleh dikata menjadi teladan sukses lantaran berpijak pada inovasi dan kolaborasi. Bank dengan kode saham ARTO ini memang tergolong haus dan addict menciptakan inovasi-inovasi dan agresif dalam berkolaborasi dengan menjalin kemitraan strategis untuk menciptakan ekosistem digital yang solid.
“Bank Jago itu DNA-nya adalah inovasi. Semakin kita terintegrasi dan semakin kita explore, kita selalu menemukan hal-hal baru dari partnership ini. Dan dari situ muncul peluang yang tak terbatas,” ujar Arief Harris Tanjung, Direktur Utama PT Bank Jago Tbk dalam diskusi santai dengan para editor media massa di Yogyakarta, Kamis (3/10/2024).
Dia didampingi Direktur Bank Jago Sonny Christian Joseph, CEO & Co Founder Bibit.id Sigit Kougawam, dan Head of Regulatory and Public Affairs GoTo Financial (GTF), Budi Gandasoebrata.
Resultan dari inovasi dan kolaborasi yang dijalin Bank Jago memang dahsyat. Hingga akhir semester I-2024, mobilisasi dana pihak ketiga (DPK) Bank Jago mencapai Rp 14,8 triliun, tumbuh 47% dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar Rp 10,1 triliun. “Sekitar 61% dari jumlah DPK tersebut merupakan current account and savings account (CASA), sedangkan sisanya 39% merupakan deposito berjangka,” tutur Arief.
Pertumbuhan akseletarif itu sejalan dengan pertambahan cepat pengguna Aplikasi Jago (Jago App). Saat ini, tercatat 13 juta pengguna aplikasi tersebut, dengan lebih dari 10 juta di antaranya adalah nasabah penyimpan. Pencapaian itu berkat kemitraan strategis Bank Jago dengan ekosistem GoTo dan platform reksadana online Bibit yang terhubung secara seamless. “Ini yang membuat 66% nasabah funding Aplikasi Jago berasal dari mitra ekosistem,” kata Arief.
Kolaborasi tersebut juga berdampak positif terhadap pertumbuhan kredit yang mencapai 40% pada akhir semester I-2024, di posisi Rp 15,7 triliun dibanding level semester I-2023 sebesar Rp 11,2 triliun.
Penyaluran kredit yang dilakukan secara berkualitas dan mengutamakan prinsip kehati-hatian juga membuahkan kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) gross yang rendah, hanya 0,4%.
Inovasi Baru
Berpijak dari pencapaian di semester pertama tersebut, Arief optimistis pertumbuhan bisnis Bank Jago pada sembilan bulan pertama ini bakal menembus 35%.
“Tahun ini memang mengejutkan. Pertumbuhan sembilan bulan pertama bisa di atas 30%, 35% lah. Itu terjadi karena improvement dan kolaborasi. Kami semakin yakin berada di jalur yang tepat. Berkolaborasi dengan ekosistem digital yang besar merupakan model bisnis yang tepat. Kita berhasil me-leverage kekuatan-kekuatan partner. Kita baru 3,5 tahun dengan lima cabang, nggak mungkin mampu memiliki 13 juta nasabah kalau berdiri sendiri,” tegas Arief.
Dengan pertumbuhan kredit yang impresif, aset Bank Jago per akhir paruh pertama 2024 menjadi Rp 24,2 triliun (tumbuh 29% year on year/yoy) dan laba bersih tercatat sebesar Rp 50 miliar (naik 23% yoy), serta rasio kecukupan modal (CAR) sebesar 50%.
.
“Sebagai bank berbasis teknologi (tech-based bank) Bank Jago tidak akan berhenti melakukan inovasi dan kolaborasi dengan ekosistem digital. Kami percaya kombinasi kedua hal tersebut dengan manajemen risiko dan tata kelola yang baik, merupakan landasan yang kuat bagi Bank Jago untuk bertumbuh lebih tinggi lagi,” ujar Arief.
Berbicara kondisi ekonomi makro terkini, Arief menilai bahwa ekonomi Indonesia cukup kuat. Pertumbuhan bank cukup bagus dengan pertumbuhan kredit tahun ini diprediksi 12%, dan CAR mencapai 26%. “Perbankan Indonesia harus bangga, selama 25 tahun sejak krisis 1998, Lehman Brothers 2008, dan Covid 2019, kita tetap resilien. Indonesia adalah contoh sukses dalam hal regulasi dalam membangun industri perbankan yang kokoh,” lanjut Arief.
Yang perlu menjadi catatan adalah deflasi lima bulan terakhir karena itu menjadi penanda tergerusnya daya beli. Tahun depan juga perlu diwaspadai dan masyarakat mencermati bagaimana susunan kabinet pemerintahan baru.
Arief juga menginformasikan bulan lalu Bank Jago telah mengantongi lisensi sebagai bank devisa. Karena itu, pihaknya siap meluncurkan sejumlah produk baru sebagai upaya untuk diversifikasi dan pendalaman (deepening) produk.
Direktur Bank Jago, Sonny Christian Joseph menambahkan, kolaborasi menjadi mesin utama pertumbuhan kredit Bank Jago. Sebagai bank yang DNA-nya inovasi, kata Sigit, Bank Jago sedang menyiapkan produk yang memenuhi harapan konsumen, yakni Jago Dana Stanby dengan fleksibilitas tinggi. “Dan kelebihan di ekosistem kita adalah transparansi dan tanpa penalti. Semua transparan dan affordable. Tidak dikenai fee ini-itu,” ujarnya.
Sementara itu CEO & Co Founder Bibit.id Sigit Kougawam menyatakan, pihaknya menciptakan produk reksa dana dengan berbagai fitur menarik serta memberikan kemudahan dan kenyamanan bagi nasabah. Hasilnya, saat ini lebih dari separuh nasabah reksa dana ada di Bibit.
Dia mengakui, ada penurunan jumlah asset under management (AUM) ritel reksa dana secara nasional dari Rp 170 triliun ke Rp 150 triliun. Hal itu terjadi karena sebagian nasabah beralih ke investasi di SBN (Surat Berharga Negara), termasuk nasabah Bibit. “Namun jumlah dana di platform Bibit secara agregat justru naik 50%,” ujar Sigit.
Sigit menyatakan, rasio AUM terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) di Indonesia baru 4%. Itu merupakan sinyal bahwa peluang untuk tumbuh sangat besar “Negara tetangga seperti Malaysia dan Thailand sudah di atas 20%. India, 10 tahun lalu mirip kita, sekitar 4%. Sekarang rasionya sudah 20%, karena digitalisasi yang masif dan kampanye yang gencar,” kata Sigit.
Sedangkan Head of Regulatory and Public Affairs GoTo Financial (GTF), Budi Gandasoebrata mengungkapkan, pihaknya menawarkan berbagai produk, antara lain Gopay Simpanan yang memberikan bunga lebih tinggi. Berbagai kemudahan dan fleksiblitasnya membuat produk GTF disukai konsumen.
Ketika ditanya tentang dampak penurunan daya beli secara umum dan turunnya jumlah kelas menengah, Budi menilai bahwa hal itu belum berdampak terhadap bisnis GTF. Transaksi Go Food dan Go Ride naik 24% pada kuartal II-2024 (yoy) serta transaksi GTF secara keseluruhan meningkat 24%.

