Indef: Pemangkasan BI Rate Berpotensi Dorong Kredit Perbankan Tumbuh 15% Tahun Ini
JAKARTA, investortrust.id - Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Abdul Manap Pulungan menyebut, upaya Bank Indonesia (BI) yang memangkas suku bunga acuan alias BI Rate menjadi 6% bisa membantu perbankan dalam mendorong penyaluran kredit.
Menurutnya, upaya tersebut menjadi langkah yang baik. Karena, meskipun industri perbankan mampu mencatatkan pertumbuhan kredit hingga periode terakhir, namun struktur pertumbuhannya masih kokoh.
“Dengan adanya revisi suku bunga ini diharapkan dapat memberikan atau mem-boosting pertumbuhan (kredit) yang lebih tinggi,” ujar Abdul, kepada investortrust.id, Rabu (18/9/2024).
Baca Juga
BI Rate Dipangkas Jadi 6%, Ekonom BCA Harap Likuiditas Perbankan Lebih Longgar
Dikatakan dia, dengan suku bunga yang relatif tinggi di kisaran 6,25% pada bulan lalu saja, kredit yang disalurkan perbankan mampu tumbuh di kisaran 12%. Kemudian kalau suku bunga acuan diturunkan, seharusnya pertumbuhan kredit bisa bergerak lebih tinggi.
“Nanti kita lihat di akhir atau di awal Oktober, bisa lah sekitar 13-15% (pertumbuhan kredit). Karena kalau itu tidak tumbuh, maka kita agak susah mencari pertumbuhan (ekonomi) 5,2% di tahun ini,” kata Abdul.
Baca Juga
Meski berpotensi besar mendongkrak penyaluran kredit, lanjut dia, namun penurunan suku bunga tidak serta merta bisa langsung menekan biaya dana atau cost of fund perbankan. Karena hal ini kembali lagi harus melihat pada kondisi internal dari masing-masing bank.
Sekadar informasi, dalam Pengumuman Hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulan September 2024, kemarin (19/9), BI memangkas BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 6%, dari sebelumnya 6,25%. Selain itu, bank sentral juga menurunkan suku bunga deposit facility dan lending facility sebesar 25 bps menjadi masing-masing 5,25% dan 6,75%.

