Setelah Transformasi Bisnis, Market Cap BNI Melesat Hampir Tiga Kali Lipat
JAKARTA, investortrust.id - Kapitalisasi pasar (market cap) PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) melesat hampir tiga kali lipat berkat transformasi bisnis yang dilakukan perseroan. Transformasi yang dilakukan emiten bersandi saham BBNI itu antara lain meliputi transformasi model bisnis, transformasi organisasi, dan transformasi teknologi.
“Dalam tiga tahun ini, market cap BNI meningkat cukup pesat. Dari sekitar Rp 70 triliun tahun 2020, hingga hampir mencapai Rp 200 triliun tahun 2023,” papar Direktur Utama BNI, Royke Tumilaar pada BNI Year End Executive Chief Editor Gathering 2023 di Gedung Grha BNI, Jakarta, Rabu (20/12/2023).
Dikatakan, BNI tahun ini tumbuh cukup baik, dilihat dari sejumlah indikator. “Kita tumbuh, sustain, tapi prudent. Ini tidak mudah,” ujar Royke. Menurut dia, kinerja yang sustainable dan kecukupan modal yang baik telah mendorong kenaikan kapitalisasi pasar ke tingkat Rp 199 triliun atau tertinggi sejak 2020.
Bank BUMN itu telah melaporkan kinerja keuangan kuartal III-2023 cukup mengesankan. Laba bersih mencapai Rp 15,75 triliun. Angka tersebut naik 15,05% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya senilai Rp 13,69 triliun.
Baca Juga
Pertumbuhan Bank Solid hingga Oktober 2023, Saham BMRI, BBNI, BBRI, dan BBCA Pilihan Teratas
Perbaikan kinerja ini terjadi seiring dengan naiknya pendapatan bunga bersih perusahaan yang hingga akhir September 2023 tercatat senilai Rp 31,14 triliun, atau naik 3,1% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pencapaian laba didukung kinerja kredit yang sampai dengan September 2023 tumbuh 7,8% secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi Rp 671,4 triliun.
Royke memaparkan, proses transformasi BNI dimulai tahun 2020. “Dalam 3 tahun, lumayan kita dipercaya oleh investor, sehingga market cap naik signifikan. Ini juga berkat kerja keras tim manajemen untuk membawa BNI menjadi bank yang sustain dan tetap prudent,” tuturnya.
Banyak perubahan dilakukan, dan transformasinya terus berjalan. Termasuk, transformasi model bisnis, transformasi organisasi, dan transaformasi teknologi. “Di BNI, teknologi dan digital kita pisah,” ujarnya.
Tampaknya, transformasi yang dilakukan, cukup membuahkan hasil. Pada 2020, laba perseroan sebesar Rp 3,3 triliun, dengan dividen sebesar Rp 493 miliar. Sedangkan pada 2022 labanya melonjak menjadi 18,3 triliun, dengan dividen sebesar Rp 4,4 triliun.
Target 2024
Terkait transformasi model bisnis, Royke menjelaskan, BNI ke depan akan bertransformasi menjadi bank transaksi. “Kita tidak mau ketergantungan dengan gerak suku bunga yang ekstrim. Karena itu, kita banyak melakukan perubahan, termasuk perubahan business model,” ujarnya.
Perseroan ingin menjaga fundamental yang kuat. Menjaga cost of fund, melakukan efisiensi di berbagai lini. Transformasi teknologi dimaksudkan untuk bisa bersaing di pasar, selain mengefisienkan sistem pendukung operasional. ‘
Royke menyadari ada masalah global, begitu juga dengan politik dalam negeri terkait pemilihan umum 2024. “Tapi, kalau pemilu, saya yakin semua pemimpin berpikir positif untuk ekonomi dan untuk masa depan Indonesia,” paparnya.
Karena itu, Royke cukup optimistis dengan target yang lebih tinggi tahun 2024. Untuk pertumbuhan kredit, ia mematok target 10-12% atau meningkat dari 2023 sebesar 7-9%. Pertumbuhan DPK ditargetkan 7-9%, meningkat dari 11-12%. Sedangkan, return on equity (ROE) disasar 16-17%, sedikit lebih tinggi dari 2023 yaitu 15-16%.
Royke menekankan, ada empat fokus strategi yang tengah dijalankan BNI. Pertama, peningkatan ekspansi bisnis melalui top tier dengan memperkuat manajmen risiko. Kedua, peningkatan platform digital untuk optimalisasi transaksi perbankan dan cross selling. Ketiga, penguatan jaringan bisnis melalui optimalisasi outlet. Keempat, pengembangan jaringan bisnis internasional.
Baca Juga
BNI Bidik Pertumbuhan Kredit 10% Tahun 2024, Ini Faktor Pendukungnya

