Ini Strategi Investasi Allianz di Tengah Ketidakpastian Ekonomi Global
JAKARTA, investortrust.id - Ketidakpastian ekonomi global yang berpotensi mempengaruhi pasar modal saat ini dinilai juga bisa berdampak terhadap perusahaan asuransi yang memasarkan produk asuransi yang dikaitkan dengan investasi (PAYDI) atau unit link. Menyikapi hal tersebut, Allianz Indonesia menerapkan strategi investasi yang dinamis.
”Kami mengelola fund dengan menempatkan instrumen investasi sesuai mandat strategi investasi dari masing-masing fund. Fund manager Allianz selalu memonitor secara aktif kondisi pasar dengan memperhatikan kondisi makro dan ekonomi, pasar modal, serta risiko-risiko yang ada,” ujar Chief Investment Officer Allianz Life Indonesia, Ni Made Daryanti, dalam keterangan resmi, Selasa (2/4/2024).
Pada fund dengan underlying equity, lanjut Ni Made, pihaknya mengambil strategi taktis dan selektif. Dengan memperhitungkan tahun ini menjadi tahun yang terdiri atas dua bagian, dengan semester kedua tahun 2024 yang lebih optimis yang didorong oleh sejumlah hal.
“Preferensi perusahaan pada saham yang memiliki kekuatan harga, neraca yang efisien, dan tata kelola perusahaan yang baik tidak berubah dalam kondisi apa pun,” kata dia.
Baca Juga
Saat Gaji dan THR Datang Bersamaan, Anda Perlu Simak Tips Allianz Life Ini
Sedangkan pada fund dengan underlying fixed income, strategi Allianz Indonesia masih mempertahankan porsi obligasi yang tinggi dengan durasi di atas tolok ukur.
”Perusahaan terus berusaha memanfaatkan peluang yang ada untuk memperpanjang durasi ke depannya,” jelas Ni Made.
Menurut dia, dengan terjaganya inflasi sesuai target Bank Indonesia (BI) dan pemerintah, terjaganya defisit anggaran di bawah 3%, terjaganya penerbitan obligasi, kemungkinan penurunan tingkat suku bunga di tahun ini, dan stabilnya nilai Rupiah, berpotensi mendorong pelaku pasar asing melanjutkan masuk ke pasar obligasi Indonesia.
Baca Juga
Ini Strategi Allianz Life Indonesia untuk Pacu Kinerja Unit Link
“Namun, kami tetap memperhatikan risiko-risiko seperti meningkatnya tensi geopolitik, melebarnya defisit anggaran, penurunan pertumbuhan ekonomi global, dan meningkatnya harga minyak dunia,” terang Ni Made.

