Perbesar Kredit Konsumer, BTN Garap Bisnis Pay Later
Jakarta, investortrust.id – PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BTN berencana memperbesar porsi kredit konsumer. Salah satu strategi yang dilakukan, BTN juga akan menggarap bisnis buy now pay later (BNPL) yang saat ini marak dilayani oleh perusahaan jasa keuangan berbasis teknologi (fintech). Bisnis pay later diharapkan bisa mendorong kenaikan kredit non-kredit pemilikan rumah (KPR) yang selama ini menopang bisnis Perseroan.
Direktur Utama BTN Nixon Napitupulu menjelaskan, langkah bisnis tersebut didasari pengalaman selama ini, bahwa setelah KPR selesai atau dilunasi oleh nasabah, umumnya tidak berlanjut. Nasabah yang sebelumnya menikmatik KPR dari BTN mencari pembiayaan dari bank lain untuk memenuhi kebutuhannya.
Para nasabah tersebut, tidak sedikit yang dianggap layak (eligible) untuk mendapat fasilitas kredit baru. “Tahun lalu ada 600.000 nasabah KPR kami yang eligible untuk mendapatkan second facility. Bukan top up tetapi mendapat kredit baru. Ini yang kita akan garap,” ungkap Nixon dalam forum diskusi akhir pekan lalu.
Baca Juga
BTN Resmi Jadi Member UNEP FI, Begini Manfaatnya Bagi Perseroan
Berdasarkan perhitungan 600.000 nasabah eks-KPR tersebut bisa mendapat pinjaman lanjutan Rp 30 juta hingga Rp 60 juta. Dengan demikian ada potensi penyaluran kredit konsumer hingga Rp 18 triliun.
“Ini tanpa menambah agunan. Apalagi dia selama ini lancer, sehingga tidak ada risiko kredit. Kita ubah prosesnya untuk mendapatkan second facility. Kita menawarkan kepada yang eligible, langsung masuk mobile, proses secara digitalisasi, langsung bisa approval dan pinjaman cair,” jelasnya.
Langkah tersebut, menurut Nixon, selain sebagai strategi bisnis, juga upaya untuk membantu memerangi pinjaman online (pinjol) ilegal. “Pinjol ilegal enggak bisa hanya dimusuhin. Yang bisa hanya dengan dihadapi bank. Makanya OJK menggerakkan bank untuk masuk BNPL. Karena bank yang sanggup menurunkan bunga. Kalo di bank (bunga) bisa 12%. Jadi yang paling eligible menahan laju pinjol ilegal yang mengaku fintech ini ya bank,” jelasnya.
Dengan demikian, lanjut Nixon, upaya BTN mengembangkan BNPL Ibarat pisau bermata dua. Di satu sisi untuk memperbesar porsi kredit konsumer. Di sisi lain untuk membantu memerangi pinjol ilegal. “Dengan (bunga) 12%, BTN untung, nasabah juga untung. Untuk ke depan, bisnis personal lending untuk nasabah yang eligible mendapat second facility akan kita gencarkan, daripada kena pinjol,” ujarnya.
Sementara itu, Direktur Consumer and Commercial Lending BTN Hirwandi Gafar menambahkan, salah satu pertimbangan BTN memperbesar kredit konsumer setelah melihat kenyataan perumahan yang sebelumnya dibiayai melalui KPR, telah tumbuh aktivitas ekonominya. “Di perumahan yang sudah selesai KPR-nya, kita melihat sudah mulai hidup kegiatan ekonominya. Sehingga kita melihat ada potensi pembiayaan yang bisa kita garap. Jadi kita mulai mengedukasi para pengembangnya, agar BTN bisa masuk ke bisnis personal loan,” jelasnya.
Sementara itu, Direktur Consumer and Commercial Lending BTN Hirwandi Gafar menambahkan, salah satu pertimbangan BTN memperbesar kredit konsumer setelah melihat kenyataan perumahan yang sebelumnya dibiayai melalui KPR, telah tumbuh aktivitas ekonominya. “Di perumahan yang sudah selesai KPR-nya, kita melihat sudah mulai hidup kegiatan ekonominya. Sehingga kita melihat ada potensi pembiayaan yang bisa kita garap. Jadi kita mulai mengedukasi para pengembangnya, agar BTN bisa masuk ke bisnis personal loan,” jelasnya.
Baca Juga
OJK Sebut BTN Syariah dan Bank Muamalat Belum Ajukan Izin Merger
Hirwandi menambahkan, mulai 2024, pengajuan personal loan di BTN diproses secara digitalisasi, seiring dengan pengembangan mobile apps BTN Mobile. “Termasuk di dalamnya kita akan masuk bisnis BNPL, supaya transaksi nasabah bisa kita perbesar,” katanya.
Selain personal loan, Hirwandi menambahkan, BTN juga akan memperbesar porsi kredit UMKM. “Setelah perumahan selesai dibangun, bisnis UMKM biasanya mulai bermunculan. Oleh karenanya, ini juga menjadi peluang bisnis bagi BTN, sehingga tidak terputus sejak dari KPR, kita harapkan bisa berlanjut ke personal loan dan kredit UMKM,” ungkapnya.
Dia mengungkapkan, untuk pembiayaan sektor UMKM, BTN juga ikut menyalurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR). “KUR BTN terus tumbuh. Pada 2022 kami menyalurkan KUR Rp 600 miliar, tahun 2023 naik menjadi Rp 1,8 triliun, dan tahun ini ditargerkan meningkat 2-3 kali,” jelasnya.
Di samping KUR, lanjutnya, BTN juga menawarkan produk kredit UMKM sampai dengan Rp 500 juat. “Supaya ragam dari produk dan layanan bisa dipilih oleh masyarakat. Nanti semua proses secara digital.
Menyangkut layanan digital BTN Mobile sendiri juga mengalami peningkatan. Jumlah pengguna sepanjang tahun lalu meningkat 1 juta pengguna menjadi 2,7 juta pengguna. Volume transaksi meningkat Rp 36,2 miliar dengan jumlah transaksi yang juga meningkat 235 juta transaksi.

