Pengeluaran ke Sektor Jasa Besar, BI Pantau Perubahan Konsumsi Generasi Milenial
JAKARTA, investortrust.id - Bank Indonesia (BI) melaporkan, sekitar 70% pola konsumsi generasi milenial berbeda dengan generasi yang lebih tua. Data itu diperoleh dari hasil pantaun BI terhadap pola konsumsi kalangan milenial.
“Ada perbedaan, terutama terkait pola spending,” kata Wahyu Agung Nugroho, Direktur Departemen dan Moneter BI, dipantau dari Youtube BPS, Rabu (13/12/2023).
Wahyu mengatakan porsi belanja generasi milenial mengarah pada sektor jasa. Dari karakter belanja ini, dia menduga akan ada perubahan terhadap pembentukan inflasi. “Satu contoh, di Amerika Serikat, sumber inflasi bukan dari barang, tapi jasa. Ini nanti ada kebijakan moneternya,” ujar dia.
Meski demikian, kata Wahyu mengutip hasil penelitian, kebijakan moneter untuk menurunkan inflasi jasa itu memiliki efektivitas yang lebih rendah daripada kebijakan moneter untuk menurunkan inflasi barang.
“Kita akan lihat, apakah pergeseran konsumsi anak-anak muda ini ke jasa apakah signifikan juga di Indonesia dan apakah itu tertranslasi di inflasi,” kata dia.
Baca Juga
Bank Indonesia Ajak Investor Jepang Tanamkan Uangnya di Indonesia
Selain pola konsumsi, Wahyu juga mengamati perubahan sumber pembiayaan generasi milenial. Menurut dia, generasi milenial yang terbiasa dengan gawai tidak bergantung pendanaan dari bank konvensional.
“Mereka lebih ke fintech lending dan crowd funding. Ini menyebabkan implikasi ke inflasi (seolah) tidak ada, tapi lebih terkait ke pekerjaan Bank Indonesia mengenai stabilitas keuangan,” ucap dia.
Wahyu juga menyoroti perubahan metode belanja. Jika generasi terdahulu memaksimalkan toko atau pasar offline, kini generasi milenial lebih memilih menggunakan pasar online. “Ada banyak alasan di situ. Misalnya hemat waktu dan mudah membandingkan harga,” kata dia.
Kondisi itu, kata Wahyu, akan membuat kompetisi yang ketat di antara penjual Akibatnya, marjin (keuntungan) akan sangat tight dan inflasi secara struktural akan lebih rendah.
Baca Juga
Sentil Bank Indonesia, Jokowi: Kok Peredaran Uang untuk Pelaku Usaha Makin Kering?
“Tentunya kita harus bedakan inflasi yang rendah, karena struktural atau karena masalah signifikan seperti permintaan dan seterusnya,” ujar dia.
Untuk itu, Wahyu berharap Badan Pusat Statistik (BPS) bisa memetakan secara struktural demografi generasi muda yang mengarah ke transaksi digital. Terutama melalui Survei Biaya Hidup (SBH) yang digelar berkala. Sebab, digitalisasi akan terus berlanjut.
“Kami melihatnya sampai 2025 transaksi e-commerce dan penggunaan digital banking itu akan semakin dominan dan ini mengubah pola konsumsi masyarakat yang berdampak pada inflasi dan PDB,” ujar dia. (CR-7)
Baca Juga

