Perang Palestina-Israel Berlanjut, Rupiah Rebound
JAKARTA, investortrust.id - Di tengah perang Palestina-Israel yang masih berlanjut dan menjelang rilis risalah pertemuan FOMC di Amerika Serikat, rupiah tercatat rebound hari ini. Hingga Rabu (11/10/2023) pukul 11.24 WIB, nilai tukar rupiah tercatat di level Rp 15.692 per dolar AS berdasarkan data Bloomberg, menguat kembali sekitar 0,30% dibanding perdagangan hari sebelumnya.
Analis pasar mata uang Lukman Leong memperkirakan rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat yang terkoreksi, menjelang rilis risalah pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) Rabu malam waktu Indonesia. “Dolar AS terkoreksi setelah pernyataan dovish akan suku bunga acuan AS dari dua pejabat The Fed. Raphael Bostic dan Neel Kashkari menyatakan The Fed tidak perlu kembali menaikkan suku bunga,” ujar dia ketika dihubungi Antara, Jakarta, Rabu ini.
Baca Juga
Perang Israel-Hamas Terus Berkecamuk, Indeks Utama Wall Street Masih Melaju
Khawatir Borong Obligasi AS
Lebih lanjut, Bostic mengkhawatirkan dampak perang Palestina melawan Israel. Sedangkan Kashkari menyinggung soal imbal hasil obligasi AS yang sudah tinggi akan menurunkan inflasi.
“Efek dari perang bisa memicu investor ke risk off dan memborong obligasi AS, yang akan menyebabkan imbal hasil obligasi turun dan ekspektasi suku bunga secara keseluruhan. Namun, masih terlalu dini untuk menyimpulkan,” ucap Lukman.
Tingkat imbal hasil obligasi pemerintah AS tercatat mengalami penurunan. Yield obligasi tenor 10 tahun turun dari kisaran 4,8 persen ke 4,6 persen.
Lukman memprediksi rupiah bergerak di kisaran Rp 15.650-15.750 per dolar AS hari ini. Pada Rabu pagi, kurs mata uang Garuda yang ditransaksikan antarbank di Jakarta menguat 0,09% atau 14 poin menjadi Rp 15.725 per dolar AS, dari sebelumnya Rp 15.739 per dolar AS.
Baca Juga
Saham Barito Renewable (BREN) Lagi-lagi ARA, Market Cap Kejar Emiten Prajogo Ini
Pada Selasa (10/10/2023), pengamat pasar uang Ariston Tjendra menyampaikan, ekspektasi pasar bahwa suku bunga The Fed akan bertahan di akhir tahun ini terlihat meningkat dari 57 persen menjadi 74 persen, menurut CME FedWatch Tool.

