Tumbuh 62%, Samir Salurkan Pembiayaan Luar Jawa Lebih dari Rp 1 Triliun
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Samir sebagai Layanan Pendanaan Bersama Berbasis Teknologi Informasi (LPBBTI) atau Pinjaman Daring (Pindar) mencatat total penyaluran pembiayaan ke luar Pulau Jawa dari Januari hingga September 2026 tumbuh sebesar 62% secara tahunan (year on year/YoY), atau setara dengan Rp 1,02 triliun lebih. Adapun untuk pertumbuhan tertinggi terjadi di Pulau Sumatra (65%), disusul oleh Pulau Kalimantan (64%), Sulawesi(60%), Bali dan Nusa Tenggara (57%), Pulau Maluku (47%), dan Pulau Papua (38%).
Direktur Utama Samir Handy Juniandri mengatakan bahwa perusahaan tetap memastikan perluasan akses pembiayaan ke luar Pulau Jawa disertai dengan penguatan manajemen risiko, prinsip kehati-hatian, dan tata kelola yang baik (good corporate governance/GCG). Menurut Handy, upaya Samir memperluas pembiayaan sekaligus meningkatkan literasi keuangan digital merupakan bagian dari strategi perusahaan agar pertumbuhan bisnis tidak hanya terkonsentrasi di Jawa, tetapi ikut membuka akses modal bagi UMKM di berbagai daerah.
Secara portofolio, kata Handy, untuk Pulau Jawa memang masih mendominasi dengan kontribusi sebesar 69%. Namun, lanjut Handy, dari sisi pertumbuhan telah terjadi penurunan sekitar 0,2% secara tahunan dan ini menunjukkan penyaluran pembiayaan di luar Pulau Jawa terus tumbuh positif dengan peminjam laki-laki masih lebih banyak sekitar 52% dibandingkan peminjam perempuan yang mencapai 48%.
“Pindar Samir memiliki posisi yang semakin penting dalam menyediakan alternatif pembiayaan bagi UMKM. Dukungan Samir terhadap pembiayaan UMKM sejalan dengan kebijakan OJK untuk mendorong industri Pindar di Indonesia sebagai sarana untuk menghadirkan akses pembiayaan yang semakin luas dan berkualitas serta memberikan manfaat nyata dalam mendorong perekonomian masyarakat,” ujar Handy dalam keterangan yang diterima, Sabtu (17/10/2026).
Baca Juga
Tekan TWP90 di Angka 2%, Ini Strategi Fintech Samir Jaga Kualitas Kredit
Handy menjelaskan, masa depan industri ini membutuhkan kolaborasi yang lebih erat dari stakeholders, seperti pemerintah, regulator, investor, perbankan, ekosistem pendukung, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya.
“Samir akan terus berkomitmen untuk memperkuat kolaborasi dengan bank-bank lain maupun layanan keuangan formal lainnya dengan skema channeling di mana saat ini sudah ada tiga lender institusi dari sektor perbankan dari total 12 lender institusi, yakni PT Bank Neo Commerce Tbk, PT Super Bank Indonesia Tbk, dan PT Bank Sahabat Sampoerna,” kata Handy.
Secara kumulatif, Samir berhasil menyalurkan total pembiayaan sebesar lebih dari Rp 8,25 triliun kepada sebanyak 2 juta lebih peminjam yang tersebar di seluruh Indonesia. Sedangkan dari kualitas kredit yang disalurkan, Samir juga berhasil menjaga rasio kredit macetnya di angka 1,95% per 16 Oktober 2026 atau masih di bawah industri yang mencapai sebesar 4,73%.
