BRImo Taipei Mempermudah Pekerja Migran
Poin Penting
|
TAIPEI, Investortrust.id— Dulu, mengirim uang hasil kerja dari Taiwan ke Indonesia tidak selalu berakhir bahagia bagi pekerja migran Indonesia (PMI). Ada yang menitipkan uang kepada saudara atau kenalan, tetapi dana itu tidak pernah sampai kepada keluarga di kampung halaman. Ada pula yang menjadi korban penipuan dalam proses pengiriman. Hasil tetesan keringat selama berbulan-bulan di negeri orang bisa lenyap di tengah jalan.
Cerita pilu seperti itulah yang perlahan ingin diputus PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI. Sebagai bank yang sejak lama memosisikan diri dekat dengan rakyat Indonesia, BRI berusaha mengikuti aktivitas masyarakat Indonesia sampai ke luar negeri. Taiwan menjadi salah satu negara yang dipilih. Pada 2021, BRI memperoleh lisensi untuk beroperasi sebagai kantor cabang di Taiwan.
“Saat ini, BRI merupakan satu-satunya bank Himbara yang beroperasi di Taiwan,” kata Direktur Utama BRI Hery Gunardi dalam diskusi dengan sejumlah pemimpin redaksi di Taipei, Sabtu (22/08/2026). Menjelang Hari Ulang Tahun (HUT) ke-131 pada 16 Desember 2026, BRI terus mempertegas posisinya sebagai bank milik rakyat Indonesia yang tidak hanya hadir dari Sabang sampai Merauke, tetapi juga mengikuti aktivitas masyarakat Indonesia hingga ke berbagai penjuru dunia. Bank yang didirikan Raden Bei Aria Wirjaatmadja di Purwokerto, Jawa Tengah, pada 16 Desember 1895 itu kini telah berkembang menjadi salah satu bank terbesar di Indonesia dengan jaringan layanan yang menjangkau pasar internasional.
Hingga 2026, BRI memiliki unit kerja luar negeri di enam negara dan yurisdiksi, yakni Amerika Serikat melalui New York, Hong Kong, Singapura, Kepulauan Cayman, Taiwan melalui Taipei, serta Timor-Leste melalui Dili. Kehadiran jaringan internasional tersebut memiliki arti strategis karena mendekatkan layanan perbankan BRI kepada diaspora Indonesia, pekerja migran, pelaku usaha, serta nasabah korporasi yang melakukan aktivitas ekonomi dan transaksi lintas negara.
Ekspansi BRI ke luar negeri juga semakin diperkuat oleh transformasi digital. Melalui BRImo dan pengembangan layanan digital lintas negara, BRI berupaya membuat batas geografis semakin tidak relevan dalam memperoleh layanan perbankan. Warga Indonesia yang berada di luar negeri dapat mengakses berbagai layanan keuangan secara digital, termasuk pembukaan rekening sesuai ketentuan yang berlaku, transaksi perbankan, hingga kebutuhan pengiriman dana ke Indonesia.
Dengan demikian, perjalanan menuju usia 131 tahun bukan hanya menggambarkan panjangnya sejarah BRI melayani masyarakat sejak 1895. Jaringan internasional dan transformasi digital menunjukkan perubahan BRI dari bank yang berakar kuat pada ekonomi rakyat di dalam negeri menjadi bank Indonesia dengan jangkauan global. BRI tumbuh bersama rakyat Indonesia dan ketika rakyat Indonesia melangkah ke berbagai penjuru dunia, BRI berupaya hadir mengikuti mereka.
Bidik Komunitas PMI
Pasar utama yang dibidik BRI Cabang Taiwan adalah komunitas Indonesia, terutama PMI yang jumlahnya kini telah menembus sekitar 400.000 orang. Ketika BRI mulai beroperasi di Taiwan pada 2021, jumlah PMI Indonesia masih berada di kisaran 300.000 orang. Dalam lima tahun, jumlah itu terus bertambah, sejalan dengan tingginya kebutuhan tenaga kerja asing di Taiwan.
PMI Indonesia tersebar di berbagai wilayah, tetapi konsentrasinya banyak berada di tiga kawasan utama di koridor barat Pulau Taiwan, yakni Taipei di utara, Taichung di tengah, dan Kaohsiung di selatan. Taipei merupakan pusat pemerintahan, bisnis, dan keuangan. Sekitar 160–170 kilometer ke arah selatan terdapat Taichung, pusat industri dan perdagangan Taiwan tengah. Dari Taichung menuju Kaohsiung di selatan masih terbentang sekitar 190–200 kilometer lagi.
Dengan demikian, jarak perjalanan darat Taipei–Kaohsiung melalui Taichung mencapai sekitar 350–370 kilometer. Bagi pekerja migran, jarak sejauh itu bukan perkara kecil jika mereka harus datang ke Taipei hanya untuk membuka rekening, mengurus layanan perbankan, atau mengirimkan uang kepada keluarga di Indonesia.
“Bayangkan PMI yang tinggal di Kaohsiung di selatan Taiwan harus ke Taipei untuk membuka rekening,” kata General Manager BRI Taiwan sekaligus Kepala Cabang BRI Taiwan Andik Kurniawan dalam kesempatan yang sama. Dengan BRImo, setiap PMI bisa membuka rekening dari mana saja dan mengirimkan uang ke kampung halaman, kapan dan di mana saja.
Taiwan memang memiliki sistem transportasi publik yang maju, termasuk kereta cepat yang menghubungkan wilayah utara dan selatan. Namun, bagi seorang pekerja migran, perjalanan tetap membutuhkan waktu dan biaya. Apalagi jika tujuan perjalanan hanya untuk menyelesaikan transaksi perbankan sederhana.
Di sinilah digitalisasi menjadi jawaban. Kehadiran BRImo Taiwan membuat layanan BRI dapat menjangkau PMI di seluruh wilayah tanpa harus membangun kantor cabang di setiap kota..
Pada awal BRI beroperasi di Taiwan pada 2021, BRImo Taiwan belum tersedia. Berbagai kebutuhan nasabah masih harus dilayani melalui kantor fisik. Kondisi tersebut menjadi tidak efisien ketika nasabah tersebar mulai dari Taipei, Taichung hingga Kaohsiung.
Kini, melalui BRImo Taiwan, nasabah dapat mengelola dananya dari tempat mereka bekerja. Sepanjang saldo tersedia dan nominal transaksi masih berada dalam batas yang ditentukan, pengiriman uang ke Indonesia dapat dilakukan secara digital. Untuk transaksi dalam jumlah sangat besar, nasabah tetap perlu memenuhi persyaratan deklarasi dan ketentuan kepatuhan yang berlaku.
Bagi PMI, kemudahan tersebut mempunyai arti besar. Remitansi bukan sekadar transaksi finansial. Uang yang mereka kirimkan merupakan biaya sekolah anak, kebutuhan sehari-hari orang tua, modal usaha keluarga, cicilan rumah, hingga tabungan yang dikumpulkan untuk masa depan setelah kembali ke Indonesia.
Karena itu, keamanan pengiriman menjadi sangat penting. Sistem perbankan yang tercatat dan dapat ditelusuri membantu mengurangi risiko uang hilang atau disalahgunakan sebagaimana dapat terjadi ketika dana dikirim melalui mekanisme informal.
Remitansi Terus Meningkat
Besarnya aktivitas PMI Indonesia di Taiwan tergambar dari volume remitansi yang difasilitasi BRI. Dalam pemaparan BRI Taipei, pangsa pasar BRI pada bisnis yang dilayaninya telah naik signifikan, mencapai sekitar 27,9%, dengan pertumbuhan sekitar 33% dibandingkan periode sebelumnya. Hingga Juni 2026, nilai remitansi yang difasilitasi BRI telah mencapai puluhan triliun rupiah.
Andik yakini tren kenaikan remitansi akan terus berlanjut. Menurut dia, meski saat ini ada sejumlah bank asing yang beroperasi —yakni Miziho dan UOB—, hanya BRI yang masuk segmen ritel di Taiwan.
Kenaikan remitansi PMI lewat BRI menunjukkan betapa besarnya aliran pendapatan pekerja Indonesia di Taiwan yang dikirim ke Tanah Air. Remitansi PMI bukan hanya menopang kehidupan keluarga penerima, tetapi juga menjadi salah satu sumber devisa dan penggerak ekonomi di berbagai daerah asal pekerja.
BRI melihat pasar tersebut bukan hanya peluang bisnis. Kehadiran bank Indonesia di Taiwan juga menjadi bagian dari upaya menyediakan jalur transaksi yang lebih aman, transparan, dan mudah diakses masyarakat Indonesia.
Dari Remitansi ke Layanan Perbankan Lengkap
Perjalanan BRI Taipei kemudian berkembang jauh melampaui remitansi. Seiring berkembangnya operasi sejak memperoleh lisensi pada 2021, kantor BRI di Taiwan mulai menjalankan fungsi layaknya kantor bank di Indonesia.
Nasabah dapat membuka tabungan dan deposito, memperoleh layanan transaksi, hingga menggunakan fasilitas kredit. BRI Taipei juga masuk ke pembiayaan konsumer, usaha menengah, dan korporasi.
Dana pihak ketiga, yang berasal dari tabungan dan deposito, terus meningkat. Tren ini menunjukkan BRI Taipei mulai membangun sumber pendanaan lokal, bukan sekadar menjadi saluran pengiriman uang dari Taiwan ke Indonesia.
Basis nasabahnya pun semakin beragam. Selain PMI, BRI melayani mahasiswa, tenaga profesional, pilot Indonesia yang bekerja pada maskapai Taiwan, awak kapal perikanan, hingga warga Taiwan yang mempunyai kepentingan ekonomi dengan Indonesia.
Pada sisi pembiayaan korporasi, BRI Taipei bergerak selektif. Salah satu sektor yang menjadi perhatian adalah energi terbarukan atau renewable energy. Taiwan sedang memperbesar pengembangan energi bersih, terutama tenaga angin dan tenaga surya, sejalan dengan transformasi bauran energinya. BRI melihat perubahan tersebut sebagai peluang pembiayaan.
Menariknya, sejumlah proyek yang dibiayai merupakan proyek lokal Taiwan, bukan hanya perusahaan Indonesia yang berekspansi ke sana. Dengan pendekatan tersebut, BRI Taipei mulai membangun posisi sebagai bank yang ikut masuk ke dalam aktivitas ekonomi domestik Taiwan.
Beberapa fasilitas pembiayaan bahkan dapat berbentuk sindikasi dengan nilai mencapai ratusan miliar rupiah per proyek. Meski demikian, prinsip kehati-hatian tetap menjadi pegangan.
Kualitas kredit di Taiwan yang relatif baik serta biaya dana yang rendah membuat tingkat bunga pembiayaan korporasi sangat kompetitif. Dalam diskusi disebutkan, spread sekitar 1% untuk kredit korporasi sudah dapat dianggap menarik di pasar Taiwan.
Melayani Mahasiswa hingga Pilot
Wajah masyarakat Indonesia di Taiwan pun semakin beragam. Mereka bukan lagi hanya pekerja migran di sektor manufaktur, perawatan lansia, atau rumah tangga.
Sejumlah tenaga profesional Indonesia kini bekerja di Taiwan, termasuk pilot senior yang bekerja pada maskapai penerbangan setempat. BRI melayani pembukaan rekening dan transaksi mereka selama tinggal dan bekerja di Taiwan.
Di sektor pendidikan, jumlah pelajar dan mahasiswa Indonesia di Taiwan disebut telah mencapai sekitar 20.000 orang. Taiwan semakin agresif menarik mahasiswa internasional karena menghadapi tantangan demografi: populasi menua dan tingkat kelahiran rendah. Kondisi tersebut membuat perguruan tinggi membutuhkan lebih banyak mahasiswa asing.
Untuk jenjang sarjana, cukup banyak mahasiswa Indonesia membiayai sendiri pendidikannya. Sementara pada jenjang magister dan doktoral, peluang memperoleh beasiswa relatif lebih banyak.
Komunitas mahasiswa tersebut sekaligus menjadi sumber tenaga kerja potensial bagi BRI Taipei. Sejumlah lulusan Indonesia dari perguruan tinggi Taiwan direkrut karena memiliki keunggulan bahasa dan pemahaman budaya kedua negara.
Mereka dapat berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dan Mandarin tradisional yang digunakan di Taiwan. Kemampuan itu penting karena hambatan bahasa masih menjadi persoalan bagi sebagian PMI ketika berhubungan dengan lembaga keuangan lokal.
Ada pekerja Indonesia yang kesulitan berkomunikasi ketika mendatangi bank atau lembaga keuangan Taiwan. Dalam sejumlah kasus, mereka akhirnya diarahkan ke BRI karena pelayanan dapat diberikan menggunakan bahasa yang lebih mereka pahami.
Melayani Awak Kapal
Segmen lain yang mendapat perhatian khusus adalah awak kapal asal Indonesia.
Taiwan memiliki industri long-distance fishing yang besar. Kapal-kapal penangkap ikan Taiwan tidak hanya beroperasi di sekitar Asia Timur, tetapi berlayar hingga kawasan yang sangat jauh, termasuk perairan Amerika Selatan.
Banyak awak kapal Indonesia bekerja di armada tersebut dan dapat berada di laut selama berbulan-bulan. Kondisi kerja semacam itu membuat mekanisme pembayaran gaji jauh lebih kompleks dibandingkan pekerja di daratan. BRI kemudian bekerja sama dengan sejumlah perusahaan dan asosiasi perikanan untuk menyediakan layanan payroll.
Sekitar 1.500 awak kapal Indonesia disebut telah dilayani melalui skema tersebut. Ketika perusahaan membayarkan gaji, dana dapat masuk melalui sistem perbankan dan selanjutnya diremit langsung kepada keluarga pekerja di Indonesia.
Sistem tersebut memberikan transparansi yang jauh lebih baik dibandingkan pembayaran tunai atau mekanisme informal. Jejak pembayaran tersimpan. Pekerja dapat memastikan gaji sudah dibayarkan, sementara keluarga di Indonesia dapat mengecek apakah dana telah masuk.
Transparansi semacam itu secara tidak langsung juga memperkuat perlindungan pekerja. Awak kapal merupakan kelompok yang relatif rentan karena bekerja jauh dari daratan dan sulit diawasi secara langsung.
Apabila kapal dilengkapi koneksi internet atau Wi-Fi, pekerja bahkan dapat membuka BRImo Taiwan dari tengah laut, mengecek saldo, memastikan gajinya masuk, lalu mengirimkan dana kepada keluarganya di Indonesia.
Dengan demikian, teknologi perbankan tidak hanya memberikan kemudahan transaksi, tetapi juga menambah lapisan transparansi dalam perlindungan hak pekerja migran.
Berkembang Signifikan
Perkembangan bisnis BRI di Taiwan menunjukkan pertumbuhan yang semakin kuat. Di tengah besarnya komunitas pekerja migran, mahasiswa, diaspora, hingga awak kapal asal Indonesia, BRI Taipei tidak hanya berfungsi sebagai jembatan transaksi keuangan antara Taiwan dan Indonesia, tetapi juga mulai membangun ekosistem layanan perbankan yang menjangkau semakin banyak kelompok masyarakat.
Salah satu indikatornya terlihat dari pangsa pasar. Berdasarkan pemaparan dalam diskusi dengan para pemimpin media di Kantor Cabang BRI Taipei, Sabtu (22/08/2026), GM BRI Cabang Taipei Andik Kuniawan menjelaskan, BRI telah menguasai sekitar 27,9% pangsa pasar pada bisnis yang dilayaninya di Taiwan. Angka tersebut dicapai dengan pertumbuhan sekitar 33% dibandingkan periode sebelumnya, menunjukkan semakin besarnya kepercayaan masyarakat Indonesia di Taiwan terhadap layanan BRI.
Bisnis remitansi menjadi salah satu motor pertumbuhan tersebut. Hingga Juni 2026, nilai remitansi yang difasilitasi BRI Taipei telah mencapai sekitar US$447 juta. Apabila tren transaksi pada semester pertama dapat dipertahankan, nilai remitansi sepanjang 2026 diperkirakan dapat mencapai US$850 juta hingga US$900 juta.
Nilainya sangat besar. Dengan asumsi kurs sekitar Rp16.000 per dolar AS, remitansi US$850 juta-US$900 juta setara sekitar Rp13,6 triliun-Rp14,4 triliun. Dana tersebut sebagian besar merupakan hasil kerja masyarakat Indonesia di Taiwan yang dikirimkan kembali kepada keluarga mereka di Tanah Air.
Taiwan bukan hanya menjadi salah satu negara tujuan utama Pekerja Migran Indonesia (PMI), tetapi juga salah satu sumber devisa penting bagi Indonesia. Berdasarkan data Bank Indonesia, sepanjang 2025 remitansi PMI dari Taiwan mencapai sekitar US$2,97 miliar, atau setara sekitar Rp47 triliun-Rp48 triliun dengan asumsi kurs Rp16.000 per dolar AS. Besarnya angka tersebut menunjukkan kuatnya kontribusi ratusan ribu pekerja Indonesia di Taiwan terhadap perekonomian keluarga di Tanah Air.
Tren tersebut berlanjut pada 2026. Pada triwulan I-2026, remitansi dari Taiwan telah mencapai sekitar US$801 juta, meningkat sekitar 15% dibandingkan US$697 juta pada triwulan I-2025. Jika momentum pertumbuhan itu bertahan, nilai remitansi dari Taiwan sepanjang 2026 berpeluang melampaui capaian tahun sebelumnya.
Peningkatan remitansi antara lain ditopang kenaikan pendapatan pekerja. Mulai 1 Januari 2026, upah minimum bulanan Taiwan naik 3,18%, dari NT$28.590 pada 2025 menjadi NT$29.500 pada 2026. Kenaikan upah memberikan ruang lebih besar bagi PMI untuk meningkatkan pengiriman sebagian pendapatannya kepada keluarga di Indonesia.
Pada saat bersamaan, jumlah masyarakat Indonesia di Taiwan juga terus bertambah. Hingga pertengahan 2026, jumlah WNI yang terdata berada pada kisaran 300.000 hingga lebih dari 364.000 orang. Besarnya komunitas tersebut, ditambah kenaikan upah dan meningkatnya penggunaan kanal remitansi formal, semakin memperkuat posisi Taiwan sebagai salah satu kantong remitansi dan sumber devisa penting bagi Indonesia. Di balik miliaran dolar remitansi itu terdapat hasil kerja PMI yang mengalir langsung ke rumah tangga di berbagai daerah untuk membiayai konsumsi, pendidikan, perumahan, tabungan, dan kegiatan produktif keluarga.
Karena itu, remitansi bukan semata-mata bisnis yang menghasilkan pendapatan bagi bank. Di balik setiap dolar yang dikirim terdapat hasil kerja para pekerja Indonesia yang kemudian mengalir ke berbagai daerah di Tanah Air. Uang tersebut digunakan keluarga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, pendidikan anak, kesehatan, membangun atau memperbaiki rumah, menabung, hingga menjadi modal usaha. Dalam skala yang lebih besar, remitansi ikut menopang konsumsi masyarakat dan memberikan kontribusi terhadap perekonomian nasional.
Potensi bisnis BRI Taipei juga berkembang di luar remitansi pekerja migran. Salah satunya berasal dari warga Taiwan yang membutuhkan layanan perbankan berkaitan dengan skema izin tinggal jangka panjang di Indonesia. Andik menjelaskan, salah satu skema tersebut mensyaratkan penempatan dana mulai sekitar US$130.000, atau setara kurang lebih Rp2 miliar, untuk jangka waktu tertentu. Dana harus tetap ditempatkan sebagai bagian dari persyaratan izin tinggal, dan BRI menjadi salah satu bank yang dapat menampung dana tersebut.
Hingga pembicaraan berlangsung, BRI disebut telah memiliki sekitar 50 rekening dari total sekitar 3.000 rekening yang berkaitan dengan segmen tersebut. Angka itu menunjukkan bahwa pangsa BRI masih relatif kecil, tetapi sekaligus menggambarkan ruang pertumbuhan yang cukup besar. Dengan basis 3.000 rekening, masih terbuka peluang bagi BRI untuk memperbesar penetrasi pada kelompok warga asing yang memilih Indonesia sebagai alternatif tempat tinggal jangka panjang.
Program tersebut juga menarik bagi sebagian warga Taiwan karena memberikan pilihan untuk tinggal lebih lama di Indonesia. Selain faktor ekonomi dan kedekatan geografis, dinamika geopolitik kawasan disebut menjadi salah satu pertimbangan. Dengan mempunyai izin tinggal jangka panjang, Indonesia dapat menjadi salah satu alternatif tempat tinggal sekaligus memberikan kemudahan untuk masuk dan menetap apabila sewaktu-waktu diperlukan.
Potensi 20.000 Mahasiswa Indonesia
Pasar lain yang tidak kalah menjanjikan adalah komunitas pelajar dan mahasiswa Indonesia. Jumlah pelajar dan mahasiswa Indonesia di Taiwan disebut telah mencapai sekitar 20.000 orang. Populasi sebesar itu menciptakan ekosistem tersendiri, mulai dari kebutuhan rekening bank, pembayaran pendidikan dan kebutuhan sehari-hari, transfer dana dari dan ke Indonesia, hingga berbagai layanan digital.
Taiwan sendiri semakin aktif menarik mahasiswa internasional seiring tantangan demografi yang dihadapinya. Penduduk menua, sedangkan tingkat kelahiran rendah. Akibatnya, sejumlah perguruan tinggi berpotensi kekurangan mahasiswa apabila hanya mengandalkan lulusan sekolah dari penduduk lokal. Kehadiran mahasiswa internasional, termasuk sekitar 20.000 pelajar dan mahasiswa asal Indonesia, menjadi semakin penting bagi keberlangsungan ekosistem pendidikan tinggi Taiwan.
Karakter mahasiswa Indonesia juga berbeda berdasarkan jenjang pendidikan. Untuk jenjang S1, cukup banyak mahasiswa yang membiayai pendidikan secara mandiri. Sedangkan pada jenjang S2, dan terutama S3, tersedia lebih banyak peluang memperoleh beasiswa. Lulusan doktoral juga mempunyai prospek cukup baik karena Taiwan membutuhkan tenaga berkualifikasi tinggi untuk menopang sektor teknologi dan industrinya.
Bagi BRI, komunitas mahasiswa tersebut bukan sekadar pasar potensial. Mereka juga menjadi sumber sumber daya manusia. BRI memanfaatkan keberadaan lulusan Indonesia dari berbagai universitas di Taiwan dengan merekrut sebagian dari mereka. Keunggulan kelompok ini adalah kemampuan berbahasa Indonesia dan Mandarin sekaligus memahami budaya serta karakter masyarakat kedua negara. Kombinasi tersebut menjadi modal penting bagi BRI dalam melayani nasabah Indonesia maupun Taiwan.
Melayani 1.500 Awak Kapal Indonesia
Segmen lain yang mempunyai karakter sangat berbeda adalah sektor perikanan. Taiwan merupakan salah satu pemain penting dalam industri long-distance fishing, dengan kapal-kapal penangkap ikan yang tidak hanya beroperasi di perairan sekitar Taiwan, tetapi berlayar ribuan kilometer hingga mencapai perairan Amerika Selatan.
Di atas kapal-kapal tersebut bekerja banyak awak kapal asal Indonesia. Tantangan mereka jauh lebih kompleks dibandingkan pekerja yang bekerja di daratan. Para awak kapal dapat berada di laut selama berbulan-bulan, jauh dari kantor bank, mesin ATM, bahkan jaringan telekomunikasi yang stabil. Padahal, pada saat yang sama mereka harus memastikan penghasilan yang diperoleh dapat diterima keluarga di Indonesia secara aman.
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, BRI bekerja sama dengan sejumlah perusahaan dan asosiasi perikanan dalam menyediakan layanan payroll. Dalam skema tersebut, sekitar 1.500 awak kapal Indonesia disebut telah mendapatkan pelayanan. Ketika perusahaan membayarkan gaji, BRI membantu menyalurkan dana sekaligus memfasilitasi remitansi langsung ke rekening keluarga mereka di Indonesia.
Mekanisme tersebut memberikan transparansi dan keamanan yang lebih baik dibandingkan pembayaran tunai ataupun pengiriman melalui mekanisme informal. Bagi awak kapal yang berada ribuan kilometer dari rumah, kepastian bahwa hasil kerja mereka masuk ke rekening dan dapat dikirim langsung kepada keluarga merupakan kebutuhan yang sangat penting.
Deretan angka tersebut memperlihatkan besarnya ruang pertumbuhan BRI di Taiwan: pangsa pasar 27,9%, pertumbuhan sekitar 33%, remitansi US$447 juta hanya dalam enam bulan dan berpotensi mencapai US$850 juta-US$900 juta setahun, sekitar 20.000 mahasiswa Indonesia, sekitar 1.500 awak kapal yang telah dilayani melalui payroll, serta peluang dari segmen sekitar 3.000 rekening terkait izin tinggal jangka panjang, yang sekitar 50 rekening di antaranya telah berada di BRI.
Pada akhirnya, angka-angka itu bukan sekadar statistik bisnis. Di balik remitansi yang menuju US$900 juta terdapat hasil kerja masyarakat Indonesia yang mengalir kembali ke kampung halaman. Di balik 20.000 mahasiswa terdapat generasi muda yang sedang meningkatkan kompetensi. Dan di balik 1.500 awak kapal terdapat pekerja Indonesia yang mencari nafkah hingga perairan Amerika Selatan. Di situlah peran BRI Taipei menjadi lebih luas: bukan hanya menjalankan bisnis perbankan, tetapi menjadi jembatan finansial yang menghubungkan aktivitas ekonomi masyarakat Indonesia di Taiwan dengan keluarga dan perekonomian di Tanah Air.
Call Center Dua Shift, Tujuh Hari Seminggu
BRI Taipei melengkapi layanan digital dengan penguatan pelayanan langsung. Call center dijalankan dalam dua shift selama tujuh hari seminggu.
Model pelayanan itu disesuaikan dengan karakter pekerja Indonesia yang memiliki jam kerja beragam. BRI tidak hanya mengandalkan layanan kantor pada jam kerja normal, tetapi berusaha membangun ekosistem yang terdiri atas kantor fisik, digital banking, jaringan remitansi, call center, serta pegawai multibahasa.
Pendekatan tersebut membuat BRI Taipei berkembang dari kantor yang semula bertumpu pada remitansi menjadi unit perbankan yang semakin lengkap.
Nasabahnya kini mencakup pekerja pabrik, pekerja rumah tangga dan caregiver, awak kapal, mahasiswa, profesional, pilot, perusahaan lokal Taiwan, hingga warga Taiwan yang mempunyai hubungan finansial dengan Indonesia.
Sebagian warga Taiwan, misalnya, mulai memanfaatkan skema izin tinggal jangka panjang di Indonesia seperti Golden Visa atau Second Home Visa. Dalam diskusi disebutkan terdapat skema yang mensyaratkan penempatan dana mulai sekitar US$130.000 atau kurang lebih Rp2 miliar untuk periode tertentu.BRI menjadi salah satu bank yang dapat menampung dana dalam skema tersebut.
Kekuatan Digital Banking BRI
Sejak memimpin BRI 24 Maret 2025, demikian Hery Gunardi, salah satu perubahan fundamental yakni dilakukan adalah arsitektur BRImo. BRImo generasi sebelumnya dibangun dengan pendekatan yang relatif monolitik. Dalam sistem seperti ini, berbagai fungsi berada dalam satu kesatuan besar sehingga setiap penambahan atau perubahan fitur berpotensi memerlukan pengujian kembali terhadap keseluruhan aplikasi.
Model seperti itu dinilai tidak lagi memadai ketika BRI ingin memperluas layanan dengan cepat, termasuk ketika masuk ke berbagai negara. Setiap negara mempunyai kebutuhan, regulasi, kebiasaan transaksi, dan ekosistem digital yang berbeda. Karena itu, BRI membutuhkan platform yang jauh lebih fleksibel.
Pendekatan tersebut berbeda dengan BRImo generasi baru yang dikembangkan menggunakan konsep microservices. Dalam arsitektur ini, setiap layanan atau kelompok layanan dapat dikembangkan secara lebih independen. Online registration, payment, transfer, investasi, dan layanan lainnya dapat mempunyai modul atau service masing-masing.
Dengan demikian, ketika BRI hendak mengembangkan fitur payment, misalnya, tim teknologi tidak harus mengutak-atik keseluruhan aplikasi. Pengembangan dan pengujian dapat difokuskan pada modul payment tersebut dan integrasinya dengan sistem utama.
Arsitektur baru tersebut, kata Direktur Teknologi Informasi (TI) BRI Saladin Dharma Nugraha Effendy, sekaligus membuka kemungkinan BRImo menjadi platform yang dapat mengakomodasi berbagai layanan dan ekosistem. Konsepnya menyerupai ekosistem aplikasi digital besar di sejumlah negara, di mana berbagai kebutuhan pengguna dapat dipenuhi melalui satu aplikasi utama dan sejumlah layanan atau mini-app di dalamnya.
Karena berbasis microservices, BRI juga tidak perlu memaksa seluruh pengguna memperbarui aplikasi setiap kali sebuah fitur baru diluncurkan. Untuk fungsi-fungsi inti yang menyangkut keamanan, saldo, transfer, dan pembayaran, pembaruan tertentu tentu dapat dibuat mandatory. Namun, untuk penambahan fitur lainnya, BRI dapat melakukan pembaruan secara lebih fleksibel dan relatif tidak terasa oleh nasabah.
Misalnya, ketika BRI menambahkan kerja sama dengan maskapai penerbangan, layanan investasi, emas, atau produk lainnya, pengguna tidak selalu harus melakukan upgrade besar terhadap aplikasi. Pengelolaan fitur dapat dilakukan dari sisi platform.
Dengan desain seperti ini, BRImo pada akhirnya tidak hanya menjadi aplikasi untuk mengecek saldo, melakukan transfer, atau membayar tagihan. BRImo diarahkan menjadi pintu masuk ke ekosistem finansial yang jauh lebih luas.
Nasabah yang membutuhkan layanan sederhana tetap dapat menggunakan fungsi-fungsi dasar. Namun, nasabah yang ingin membeli emas, mengelola investasi, melihat portofolio, atau menggunakan produk keuangan lainnya dapat memperoleh layanan tersebut dalam ekosistem yang sama.
Arah pengembangannya bahkan dapat melampaui transaksi finansial konvensional. BRImo berpotensi menjadi platform yang menghubungkan kebutuhan keuangan dengan berbagai kebutuhan keseharian nasabah.
Menjadi Rumah Finansial PMI
Meski cakupan bisnisnya terus meluas, fondasi BRI Taipei tetap masyarakat Indonesia. BRI hadir mengikuti perjalanan mereka: dari pekerja yang merawat orang lanjut usia di rumah-rumah keluarga Taiwan, buruh di kawasan industri, mahasiswa di kampus-kampus, pilot di kokpit pesawat, hingga awak kapal yang berbulan-bulan berada ribuan kilometer dari daratan.
Kebutuhan mereka berbeda-beda, tetapi persoalannya sama: mereka hidup jauh dari Tanah Air dan membutuhkan jembatan keuangan yang aman serta mudah dijangkau.
BRImo Taiwan membuat jarak geografis itu semakin tidak berarti. PMI di Kaohsiung tidak lagi harus menempuh perjalanan sekitar 350 kilometer ke Taipei hanya untuk melakukan transaksi sederhana. Pekerja di Taichung tidak perlu mengorbankan banyak waktu dan biaya perjalanan. Bahkan awak kapal yang sedang berada di laut dapat mengakses rekening selama tersedia koneksi internet.
Yang dulu membutuhkan perjalanan berjam-jam kini dapat diselesaikan melalui telepon seluler. Lebih penting lagi, uang hasil kerja keras PMI dapat dikirim melalui jalur yang tercatat, transparan, dan langsung menuju rekening keluarga di Indonesia. Risiko menitipkan uang kepada orang lain atau menggunakan jalur informal pun dapat dikurangi.
Di situlah arti strategis BRImo Taiwan bagi ratusan ribu orang Indonesia yang bekerja jauh dari rumah. BRI Taipei tidak lagi sekadar menjadi sebuah kantor cabang bank Indonesia di luar negeri. Ia perlahan berkembang menjadi rumah finansial masyarakat Indonesia di Taiwan sekaligus jembatan yang menghubungkan hasil tetesan keringat mereka dengan keluarga di Tanah Air.
