Petakan 5 Sektor Strategis, Bank DBS Indonesia Ungkap Pergeseran Agenda Keberlanjutan di Indonesia
JAKARTA, investortrust.id - Lanskap keberlanjutan Indonesia sedang bergeser dari agenda kepatuhan menuju strategi ketahanan ekonomi dan daya saing bisnis. Untuk memetakan pergeseran ini, Bank DBS Indonesia meluncurkan riset "The Sustainability Shift: Indonesia's Industrial Landscape in Five Key Sectors, Opportunities and Risks" yang mengkaji bagaimana perubahan tersebut terjadi di lima sektor strategis, yakni energi, energi terbarukan, dan infrastruktur; teknologi, media, dan telekomunikasi; pangan dan agribisnis; kesehatan dan farmasi; serta logam dan pertambangan.
Salah satu temuan utama riset ini menegaskan bahwa pendekatan keberlanjutan tidak dapat diterapkan secara seragam di seluruh industri. Kelima sektor menghadapi tekanan untuk bergerak dari pendekatan compliance driven menuju strategi bisnis inti, namun pemicu (driver), tantangan, dan bentuk solusi yang dibutuhkan berbeda signifikan satu sama lain, sehingga bentuk intervensi financing maupun advisory dari perbankan perlu disesuaikan per sektor.
Director of Institutional Banking Group PT Bank DBS Indonesia, Anthonius Sehonamin mengungkapkan, di tengah perubahan lanskap bisnis yang semakin kompleks, perusahaan membutuhkan perspektif yang jelas untuk menentukan prioritas dan mengambil keputusan jangka panjang. Keberlanjutan kini semakin berkaitan erat dengan ketahanan usaha, daya saing, dan penciptaan nilai. Namun, pergeseran menuju bisnis yang lebih berkelanjutan tidak memiliki satu jalur yang sama di setiap sektor.
"Melalui riset ini, Bank DBS Indonesia berupaya memberikan insights yang lebih terarah mengenai perubahan yang terjadi di berbagai sektor strategis, sekaligus peluang dan tantangan yang perlu diantisipasi dunia usaha," kata Anthonius Sehonamin dalam keterangan yang diterima, Jumat (21/8/2026).
Baca Juga
1. Energi, energi terbarukan, dan infrastruktur: dari ketergantungan fosil menuju elektrifikasi.
Anthonius menjelaskan, kebutuhan listrik dari kendaraan listrik, hilirisasi mineral, AI, pusat data, dan elektrifikasi rumah tangga mendorong proyeksi konsumsi listrik naik dari sekitar 300 TWh (2024) menjadi lebih dari 1.800 TWh pada 2060. Potensi energi terbarukan besar, hingga sekitar 3.687 GW, namun baru dimanfaatkan kurang dari 0,5% karena terhambat oleh keterbatasan transmisi dan bankability proyek. Peluangnya meluas ke solar, penyimpanan energi berbasis baterai (BESS), grid modernization, hingga elektrifikasi industri.
2. Teknologi, media, dan telekomunikasi: dari konektivitas menuju layanan digital.
Pertumbuhan sektor telekomunikasi berbasis konektivitas melambat dari sekitar 9,69% (2015) menjadi 7,14% (Q1 2026), sementara nilai ekonomi digital terus naik, dengan estimasi total GMV mencapai sekitar US$ 99 miliar pada 2025 dengan 79% pengguna Indonesia yang sudah mengenal AI. Pergeseran nilai ini mendorong permintaan terhadap cloud, cybersecurity, dan pusat data, dengan green data center menjadi peluang investasi utama berikutnya.
3. Pangan dan agribisnis: dari ekspansi produksi menuju produktivitas dan ketahanan pangan.
Indonesia memproduksi sekitar 60% pasokan sawit dunia, namun pertumbuhan berikutnya bergantung pada replanting, peningkatan hasil panen, dan sertifikasi RSPO/NDPE, dan bukan lagi perluasan lahan. Di sektor perunggasan, program MBG dan ekspansi breeding stock membuka permintaan baru di sepanjang rantai nilai. Peluang investasi meluas ke agritech, cold chain, traceability, hingga pupuk organik.
4. Kesehatan dan farmasi: dari ketergantungan impor menuju resiliensi rantai pasok.
Sekitar 90% bahan baku farmasi aktif (API) Indonesia masih diimpor, dengan sumber yang terkonsentrasi di China (42%) dan India (11%). Di sisi akses, meski BPJS Kesehatan sudah mencakup 98,6% populasi, hanya sekitar 2% obat inovatif global yang mencakup FORNAS, sementara rasio dokter spesialis masih rendah (0,16 per 1.000 penduduk, dibanding kisaran OECD 1,5–3,0). Peluangnya ada pada lokalisasi API secara selektif, penguatan manufaktur, diversifikasi pemasok, serta skema pembiayaan tambahan seperti copayment/KAPJ.
5. Logam dan pertambangan: dari ekspansi skala produksi menuju daya saing berkelanjutan.
Indonesia menguasai sekitar 60% produksi nikel dunia dan naik ke peringkat ke-13 produsen baja terbesar dunia pada 2025, namun sekitar 97% listrik untuk pemrosesan nikel masih berasal dari captive coal power. Peluang value creation berikutnya bergeser ke hilir, seperti komponen baterai, BESS, daur ulang, hingga produk logam rendah karbon; seiring semakin ketatnya standar global seperti EU CBAM dan Battery Regulation.
Baca Juga
DBS Soroti Kriteria Utama Calon Gubernur BI Pasca Mundurnya Perry Warjiyo
Lebih lanjut, temuan riset menunjukkan bahwa besarnya peluang keberlanjutan di suatu sektor tidak serta-merta membuat sebuah proyek mendapatkan pembiayaan. Kesiapan proyek, profil risiko, kepastian arus kas, serta kompleksitas struktur pembiayaan menjadi faktor penting yang menentukan apakah suatu peluang dapat direalisasikan.
"Dalam konteks tersebut, peran perbankan tidak berhenti pada penyediaan modal. Perusahaan juga membutuhkan dukungan untuk meningkatkan kesiapan proyek, menentukan struktur pembiayaan yang sesuai, serta mengidentifikasi solusi yang dapat menjembatani kebutuhan keberlanjutan dengan kelayakan komersial," tutur Anthonius.

