Ada Pembacaan Arsitektur APBN 2027, Rupiah Ditutup Menguat
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Jumat (14/8/2026). Rupiah menguat 0,28% ke posisi Rp 17.827 per dolar AS.
Posisi rupiah menguat jelang pidato Presiden Prabowo Subianto tentang arsitektur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2027.
Dalam pantauan papan data Bloomberg, nilai tukar sejumlah mata uang bergerak menguat terhadap dolar AS pada pukul 15.21 WIB. Yen Jepang menguat 0,21%, yuan China menguat 0,04%, dan dolar Singapura menguat 0,11%.
Kepala Ekonom Bank Danamon, Irman Faiz memberi catatan terhadap pidato Presiden Prabowo pada sesi pagi.
“Pidato pagi tersebut memperkuat pandangan kami bahwa komposisi pertumbuhan Indonesia semakin didorong oleh investasi seiring dengan normalisasi stimulus fiskal,” kata Irman.
Baca Juga
Irman menjelaskan realisasi investasi yang kuat akan terus menopang pertumbuhan, tetapi untuk mencapai ambisi pertumbuhan 6% secara berkelanjutan, investasi harus mampu diterjemahkan menjadi peningkatan produktivitas, lapangan kerja, dan pendapatan rumah tangga. Hal ini menjadi semakin penting mengingat indikator rumah tangga terbaru masih menunjukkan dinamika konsumsi yang relatif hati-hati.
Selain itu, Irman menyoroti agenda kemandirian pangan dan energi secara struktural konstruktif, tetapi dampaknya terhadap neraca eksternal lebih kompleks daripada yang tercermin dalam angka utama.
“B50 berpotensi menurunkan impor solar secara signifikan dan mengurangi sensitivitas Indonesia terhadap guncangan harga minyak global. Namun, peningkatan penyerapan CPO domestik secara bersamaan dapat mengurangi penerimaan ekspor,” kata dia.
Demikian pula, kelanjutan investasi dalam hilirisasi, energi, dan proyek strategis lainnya diperkirakan akan membuat impor barang modal tetap tinggi dalam jangka pendek. Dengan demikian, transisi menuju kemandirian yang lebih besar dapat memperkuat transaksi berjalan secara struktural, tetapi belum tentu langsung menghasilkan penyempitan defisit.
Menurut Irman, PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) dapat lebih cepat memberikan dampak terhadap rupiah jika menghasilkan peningkatan retensi penerimaan ekspor di dalam negeri. Transparansi yang lebih baik dan berkurangnya kebocoran dapat meningkatkan ketersediaan devisa di dalam negeri.
“Namun, angka US$ 14 miliar tidak boleh ditafsirkan sebagai peningkatan pasokan devisa domestik dalam jumlah yang sama, karena dampak akhirnya terhadap nilai tukar bergantung pada tambahan penerimaan yang ditahan di dalam negeri dan dikonversi ke rupiah,” ucap dia.
Baca Juga
Irman mengatakan kejelasan kebijakan juga penting untuk memastikan bahwa pengawasan yang lebih ketat tidak meningkatkan biaya transaksi bagi eksportir atau menghambat investasi swasta.
Konsolidasi BUMN memberikan tambahan potensi positif bagi fiskal, tetapi tidak secara fundamental menghilangkan keterbatasan ruang fiskal Indonesia. Peningkatan efisiensi dan dividen yang lebih besar dapat menyediakan sumber daya tambahan untuk belanja prioritas, tetapi nilainya tetap kecil dibandingkan keseluruhan belanja pemerintah dan kebutuhan pembiayaan.
Oleh karena itu, kinerja penerimaan negara, belanja yang telah ditetapkan, dan meningkatnya biaya pembayaran utang tetap menjadi faktor yang lebih penting dalam menentukan kapasitas fiskal Indonesia dalam jangka menengah.

