DAI: Industri Asuransi Harus Ciptakan Nilai Tambah, Alih-alih Kejar Keuntungan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Ketua Umum Dewan Asuransi indonesia (DAI) Yulius Bhayangkara menekankan, industri asuransi harus mengubah cara pandang dalam menjalankan bisnis.
Menurutnya, keberhasilan industri tak lagi semata-mata diukur dari besarnya laba maupun pertumbuhan premi, melainkan dari kemampuan menciptakan nilai tambah bagi masyarakat dan pembangunan nasional.
“Peran terpenting nampaknya saat ini buat kita industri bukan cuma keuangannya baik, bukan cuma untung yang besar, bukan cuma bisa premi yang lebih banyak, tetapi bagaimana kemudian menciptakan nilai bagi bangsa,” ujar Yulius, dalam sambutan di acara Investortrust Best Insurance 2026, yang digelar di Glass House, Habitate Jakarta, Kamis (30/7/2026).
Baca Juga
Industri Asuransi Disebut Punya 2 Peran Strategis: Pengelola Risiko dan Penggerak Investasi
Ia mengatakan, industri asuransi harus mampu menunjukkan relevansinya di tengah berbagai perubahan ekonomi dan kebutuhan pembangunan bagsa. Tanpa memberikan nilai tambah yang nyata, industri berisiko semakin ditinggalkan oleh para pemangku kepentingan.
“Poin terpenting adalah kita harus bersama-sama dengan Indonesia. Kalau kita tidak bisa menciptakan nilai tambah, kita akan ditinggal,” kata Yulius.
Karakteristik asuransi sebagai push product, lanjut dia, membuat peran saluran distribusi menjadi sangat penting. Berbeda dengan produk konsumsi sehari-hari yang dicari masyarakat secara langsung, asuransi membutuhkan edukasi dan pendekatan melalui berbagai kanal distribusi.
Baca Juga
Menurut Yulius, hal tersebut menjelaskan mengapa kanal distribusi seperti bancassurance, pialang asuransi, agen, hingga perusahaan pembiayaan memiliki kontribusi besar terhadap pertumbuhan industri.
Keberhasilan kerja sama tersebut, bergantung pada kemampuan perusahaan asuransi dalam memberikan nilai tambah kepada para mitranya.
“Kenapa distribution channel seperti bancassurance itu jadi sangat penting? Karena kita bernilai bagi bank. Kalau kita kasih value buat orang lain, ada feedback buat kita,” ucap Yulius.
Ia menekankan, bisnis asuransi sejatinya bukan sekadar aktivitas menjual polis, melainkan bisnis yang menciptakan nilai bagi seluruh pemangku kepentingan.
Minimnya Peran Asuransi di Proyek Strategis Nasional
Lebih lanjut, Yulius menyoroti masih minimnya peran industri asuransi dalam proyek strategis nasional (PSN). Sejumlah proyek pembangunan bahkan belum memasukkan mekanisme transfer risiko melalui asuransi dalam tahap perencanaannya.
“Kita pernah ketemu dengan lembaga lain yang menciptakan perencanaan di Indonesia. Ketika diskusi, kita dengar mereka, tidak ada komponen perasuransian di situ. Ada risk management, tapi komponen asuransinya tidak ditaruh di situ,” ujarnya.
Meski mengakui kondisi industri saat ini relatif sehat dan tetap mencatatkan keuntungan, Yulius mengingatkan bahwa keberlanjutan industri akan ditentukan oleh kemampuannya memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Menjaga relevansi industri asuransi terhadap kebutuhan Indonesia, lanjut dia, menjadi tantangan sekaligus agenda utama yang harus diwujudkan oleh seluruh pelaku industri asuransi ke depan.
“Bagian terpenting sebenarnya buat industri kita di masa depan adalah bagaimana kita tetap relevan buat Indonesia,” kata Yulius.
