Angkat Tema ‘The Resilience Code: Breaking the Macro Storm’, Investortrust Kembali Gelar Best Bank Awards 2026
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Investortrust kembali menyelenggarakan ‘Best Bank Awards 2026’ sebagai bentuk apresiasi terhadap industri perbankan nasional.
CEO Investortrust, Primus Dorimulu, menegaskan bahwa penghargaan ini bukan sekadar memilih bank terbaik, tetapi membangun tolok ukur (benchmark) nasional bagi industri. Penghargaan ini juga diharap dapat memberikan sinyal tata kelola yang baik kepada investor global.
“Kami juga bermaksud mendorong budaya excellence sehingga seluruh industri perbankan terus meningkatkan standar pelayanan, inovasi, dan tata kelolanya,” tegas Primus saat membuka Investortrust Best Bank 2026 di Hotel Aryaduta, Jakarta, Senin (6/7/2026).
Investortrust menggelar penghargaan ini karena meyakini perbankan bukan sekadar salah satu sektor ekonomi, melainkan juga jantung sistem keuangan dan urat nadi pembangunan nasional.
Primus mengatakan, ketika perbankan sehat, investasi akan bergerak dan dunia usaha berkembang melalui pertumbuhan kredit yang berkualitas. Selanjutnya kepercayaan masyarakat terhadap bank juga dapat memperkuat kepercayaan terhadap perekonomian nasional.
Baca Juga
Investortrust Anugerahkan Best Bank 2026, Ini Daftar 21 Bank Terbaik
Dengan aset industri perbankan yang telah melampaui Rp 13.800 triliun, sektor ini menjadi tulang punggung pembiayaan bagi perekonomian Indonesia yang kini bernilai sekitar US$ 1,5 triliun. Oleh karena itu, pertumbuhan Indonesia tidak dapat tercapai tanpa industri perbankan yang sehat, kuat, inovatif, dan dipercaya.
Pada penyelenggaraan tahun ini, Investortrust mengangkat tema ‘The Resilience Code: Breaking the Macro Storm’. Tema ini dipilih karena dunia telah memasuki era dimana ketidakpastian telah menjadi normal baru.
Primus mengingat bahwa dunia menghadapi perang dan konflik geopolitik, fragmentasi perdagangan global, suku bunga yang bertahan tinggi dalam beberapa tahun terakhir. Fluktuasi nilai tukar, tekanan inflasi, percepatan digitalisasi, revolusi kecerdasan buatan, ancaman keamanan siber, hingga perubahan perilaku nasabah juga terjadi pada masa yang sama.
“Seluruh dinamika tersebut membentuk apa yang kami sebut sebagai macro storm atau badai makro yang menguji hampir seluruh institusi keuangan di dunia,” tegasnya.
Meski demikian, Primus menilai setiap badai selalu melahirkan pemimpin-pemimpin baru. Oleh karena itu, resilience saat ini tidak lagi sekadar berarti mampu bertahan hidup, melainkan tetap dipercaya ketika pasar bergejolak, tetap inovatif ketika teknologi berubah, tetap sehat ketika ekonomi melambat, dan tetap bertumbuh ketika dunia menghadapi badai.
Baca Juga
BRI Smashes Records with $3.2 Billion Dividend as Forbes Names it One of the World’s Best Banks
Dia merinci bahwa ketangguhan tidak hanya dibangun oleh modal yang besar atau laba yang tinggi, tetapi juga dibangun oleh tata kelola yang kuat, manajemen risiko yang disiplin, hingga transformasi digital yang berkelanjutan.
Primus pun meyakini, tahun 2026 merupakan turning point bagi industri perbankan Indonesia. Menurutnya, tantangan di sektor ini semakin kompleks, mulai dari persaingan dana murah hingga perkembangan kecerdasan buatan.
Namun di sisi lain, ia meyakini bahwa Indonesia masih memiliki peluang yang sangat besar, dengan pertumbuhan kredit pada level sehat, rasio kecukupan modal berada di atas 26%, dan rasio kredit bermasalah tetap terjaga.
“Artinya, badai memang ada. Tetapi peluang yang menanti juga jauh lebih besar,” pungkasnya.
Primus percaya, dekade berikutnya akan menjadi milik institusi yang mampu memadukan stabilitas yang kokoh, kemampuan beradaptasi yang tinggi, dan keberanian untuk terus bertumbuh.
