BSI (BRIS) Bidik Pertumbuhan Tabungan Pelajar 10% pada 2026
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk atau BSI (BRIS) menargetkan pertumbuhan tabungan pelajar sebesar 10% sepanjang 2026, seiring upaya perseroan memperluas literasi dan inklusi keuangan syariah di kalangan generasi muda.
Corporate Secretary BSI Wisnu Sunandar mengungkapkan, segmen pelajar menjadi salah satu fokus utama pihaknya karena memiliki peran strategis dalam membangun budaya pengelolaan keuangan sejak dini.
Selain mendorong kebiasaan menabung, peningkatan jumlah rekening pelajar juga diharapkan dapat memperkuat basis dana murah atau current account and saving account yang akhirnya mendorong dana pihak ketiga (DPK) bank berkode saham BRIS ini.
“Saat ini BSI mengelola tabungan pelajar mencapai Rp 1,7 triliun. Kalangan pelajar menjadi segmen yang akan kami sasar tahun ini dengan jumlah target pertumbuhan tabungan pelajar sekitar 10% dari tahun lalu,” ujar Wisnu, dalam keterangan pers, Rabu (4/6/2026).
Baca Juga
Menurutnya, BSI terus memperkuat penetrasi layanan keuangan syariah di sektor pendidikan. Hingga saat ini, perseroan telah dipercaya mengelola lebih dari 60.000 sekolah mulai dari tingkat SD hingga SMA di seluruh Indonesia. Jumlah tersebut setara 10% dari total sekolah dasar hingga menengah atas yang ada di Tanah Air.
Tingginya kepercayaan dari institusi pendidikan, lanjut Wisnu, menunjukkan minat masyarakat terhadap layanan perbankan syariah terus meningkat. Saat ini, BSI juga memiliki basis nasabah mencapai 23,7 juta orang yang tersebar di seluruh Indonesia.
Baca Juga
Persaingan Bisnis Bullion Makin Ketat, BSI (BRIS) Fokus Garap Nasabah Internal
Untuk memperluas literasi dan inklusi keuangan syariah, BSI berkolaborasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui program GENCARKAN (Gerakan Cerdas Keuangan). Program itu menyasar berbagai segmen, mulai dari pelajar, pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), hingga masyarakat umum.
Selain itu, BSI turut mendukung program Kejar (Satu Rekening Satu Pelajar) yang bertujuan meningkatkan pemahaman keuangan sejak usia dini sekaligus mendorong budaya menabung di kalangan siswa.
“Generasi muda memiliki potensi besar untuk menjadi bagian fokus literasi dan inklusi keuangan karena menjadi kelompok awal yang diharapkan mampu mengelola keuangan sejak dini. Mereka diharapkan menjadi motor penggerak literasi di lingkungannya,” kata Wisnu.

