Amartha Dorong Kesehatan Finansial Jadi Fondasi Pertumbuhan Ekonomi Akar Rumput
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Sebagai upaya untuk mendorong kesehatan finansial sebagai fondasi baru dalam mendorong pertumbuhan ekonomi akar rumput yang inklusif dan berkelanjutan, Amartha menggelar The 2026 Asia Grassroots Forum bertema ‘Enabling Growth, Elevating Financial Health’.
Chief Compliance and Sustainability Officer Amartha, Aria Widyanto mengungkapkan, keberhasilan inklusi keuangan saat ini tak lagi hanya diukur dari jumlah masyarakat yang memiliki akses terhadap layanan keuangan, tapi juga dari kemampuan mereka bertahan dan mencapai kesejahteraan di tengah dinamika ekonomi.
“Membangun kesehatan finansial membutuhkan partisipasi dan kolaborasi lintas sektor untuk menciptakan ekosistem yang terintegrasi dan berkelanjutan,” ujarnya, di Jakarta, Rabu (20/5/2026).
Melalui forum tersebut, lanjut Aria, Amartha juga mendorong kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat ekosistem UMKM melalui pembahasan mengenai pembiayaan inklusif, pemanfaatan fintech (financial technology) dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), hingga pengembangan solusi kesehatan finansial yang dapat diterapkan secara luas.
“Di The 2026 Asia Grassroots Forum tahun ini, kami ingin memastikan layanan keuangan digital tidak hanya memperluas akses, tetapi juga memperkuat kesehatan finansial masyarakat akar rumput agar dapat tumbuh lebih berdaya dan berkelanjutan,” katanya.
Peran UMKM sendiri dinilai sangat penting dalam menopang ekonomi nasional. Secara global, UMKM mewakili lebih dari 90% entitas bisnis, menyerap sekitar 70% tenaga kerja, dan menyumbang hampir 50% terhadap produk domestik bruto (PDB). Di Indonesia, lebih dari 65,5 juta UMKM berkontribusi lebih dari 60% terhadap PDB nasional serta menyerap sekitar 97% tenaga kerja.
Meski begitu, pelaku UMKM masih menghadapi berbagai tantangan struktural, mulai dari keterbatasan modal usaha, tingginya biaya hidup, pendapatan yang fluktuatif, hingga kemampuan pengelolaan keuangan rumah tangga dan usaha yang belum optimal. Kondisi ini menunjukkan bahwa penguatan ekonomi akar rumput tak cukup hanya melalui akses pembiayaan, tapi juga membutuhkan ekosistem yang mendukung kesehatan finansial secara menyeluruh.
Baca Juga
Fintech Kerek Ekonomi Desa, Amartha Salurkan Rp 13,2 Triliun ke UMKM
Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda mengatakan, akses permodalan masih menjadi hambatan utama bagi banyak UMKM, khususnya perempuan pelaku usaha di akar rumput.
“Fintech, termasuk p2p lending, dapat menjembatani kebutuhan ini dengan cara yang lebih cepat dan tepat. Namun, pembiayaan digital perlu diarahkan untuk kegiatan produktif dan didukung tata kelola yang baik agar dapat membantu UMKM memperluas pasar serta menjaga keberlanjutan usaha,” ucapnya.
Tantangan itu dinilai semakin relevan bagi UMKM perempuan yang sering menjalankan peran ganda sebagao pengelola usaha sekaligus pengatur keuangan keluarga. Data International Finance Corporation (IFC) menunjukkan, UMKM milik perempuan mencakup sekitar sepertiga dari total UMKM di negara berkembang, namun masih menghadapi kesenjangan pembiayaan hingga US$ 1,9 triliun.
Associate Professor Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi Bisnis (FEB) Universitas Gadjah Mada (UGM) Poppy Ismalina menilai, pemberdayaan perempuan perlu dilakukan secara menyeluruh, tak terbatas pada akses pembiayaan saja.
“Pemberdayaan ekonomi perempuan bukan hanya tentang memberikan akses permodalan, tapi juga memastikan perempuan berada dalam posisi pengambilan keputusan, memiliki pengetahuan, keterampilan, dan kepercayaan terhadap sistem keuangan, serta dapat mengakses produk keuangan digital dengan baik,” katanya.

