OJK Pastikan Perbankan Nasional Kokoh Hadapi Dampak Konflik Timur Tengah
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan industri perbankan nasional dalam kondisi kokoh dan memiliki bantalan risiko yang memadai di tengah potensi lonjakan harga energi hingga akhir tahun. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah, terutama di Selat Hormuz, tidak akan berdampak signifikan terhadap industri perbankan di Tanah Air.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae menjelaskan, dinamika di Timur Tengah berpotensi membawa dampak berantai. Meski demikian, hasil uji ketahanan (stress test) yang dilakukan OJK menunjukkan sistem keuangan domestik masih sangat tangguh.
"Kita memahami bahwa dinamika konflik geopolitik di Timur Tengah memang berpotensi memiliki dampak terhadap perekonomian global maupun domestik,” ujar Dian menjawab investortrust.id dalam jawaban tertulis Konferensi Pers RDK Bulanan (RDKB) April 2026, Minggu (17/5/2026).
Baca Juga
Respons Positif Arahan Prabowo, OJK Sebut Kredit Rakyat 5% Jadi Peluang Bisnis Bank
Dian menambahkan, dampak ketegangan geopolitik di Timur Tengah muncul terutamadipicu terganggunya rantai pasok (supply chain), sehingga berpotensi mendisrupsi, baik harga maupun suplai komoditas energi, dan stabilitas perekonomian global.
Menurut Dian, dampak tidak langsung ke perbankan Indonesia dapat terjadi melalui peningkatan risiko pasar dan risiko kredit. Dari sisi risiko pasar, meningkatnya volatilitas di pasar keuangan global serta tekanan terhadap nilai tukar dapat memengaruhi kinerja portfolio keuangan perbankan, khususnya bagi yang memiliki eksposur besar pada liabilitas valuta asing.
“Adapun dari risiko kredit, kenaikan harga energi dan tekanan inflasi dapat meningkatkan biaya produksi dan distribusi pada sektor usaha serta menurunkan profitabilitas perusahaan dan kemampuan membayar debitur serta daya beli Masyarakat,” papar dia.
Namun demikian, kata Dian Ediana, di tengah berbagai risiko yang berasal dari dinamika global tersebut, kinerja perbankan Indonesia secara umum tetap solid dengan profil risiko terjaga serta fungsi intermediasi yang berjalan baik.
"Permodalan perbankan juga masih cukup kuat untuk menjadi bantalan mitigasi risiko dalam mengantisipasi kondisi ketidakpastian global," tutur Dian.
Dian mengungkapkan, pada Maret 2026, kinerja permodalan perbankan terjaga tinggi. Hal itu tecermin pada rasio keuckupan modal (CAR) sebesar 25,09%. Risiko kredit juga tetap terjaga dengan baik, ditunjukkan oleh rasio kredit bermasalah (NPL) yang masih di bawah 3%, yakni 2,14%. “Selain itu, tren coverage cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) relatif stabil,” tandas dia.
Baca Juga
Indonesia Masuk 10 Besar Target ‘Traffic Anomaly’, OJK Imbau Perbankan Makin Hati-Hati
Dian Ediana Rae mengemukakan, untuk mengukur ketahanan bank dalam menghadapi berbagai potensi shocks makro ekonomi, OJK dan perbankan melakukan stress test secara rutin. “Stress tress menggunakan skenario situasi perekonomian, pasar keuangan, dan politik global maupun domestik, termasuk dinamika harga energi,” uajr dia.
Dian menuturkan, hasil stress test OJK dan perbankan menunjukkan bahwa tingkat permodalan perbankan saat ini masih memadai untuk menghadapi risiko yang disebabkan oleh perubahan signifikan dalam kondisi makroekonomi Indonesia.
Perubahan itu antara lain meliputi perlambatan pertumbuhan ekonomi, depresiasi nilai tukar rupiah, dan peningkatan suku bunga yang memengaruhi penurunan nilai aset perbankan.
OJK, menurut Dian, juga senantiasa berkoordinasi dengan pemerintah serta pemangku kepentingan lain, termasuk yang tergabung dalam Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK). Hal itu dilakukan guna memperkuat bauran kebijakan, monitoring, dan melaksanakan langkah-langkah yang diperlukan untuk menjaga stabilitas sistem keuangan.

