Allianz Indonesia Catat Pertumbuhan AUM 9,8% Jadi Rp 43,7 Triliun di 2025
JAKARTA, investortrust.id - Allianz Indonesia mencatat pertumbuhan dana kelolaan atau asset under management (AUM) sebesar 9,8% secara year on year (yoy) menjadi Rp 43,7 triliun (termasuk dana kelolaan Allianz Life, Allianz Syariah, dan DPLK Allianz) sepanjang 2025. Kinerja tersebut ditopang kondisi ekonomi domestik yang yang dinilai tetap resilien di tengah ketidakpastian global.
Chief Investment Officer Allianz Life Indonesia Ni Made Daryanti mengungkapkan, sepanjang tahun lalu Allianz Indonesia tetap fokus menjaga konsistensi pengelolaan dana nasabah melalui strategi investasi yang disiplin dan adaptif.
“Di tengah volatilitas global sepanjang 2025, Allianz Indonesia tetap berfokus pada konsistensi pengelolaan dana kelolaan nasabah dengan pendekatan investasi yang disiplin dan adaptif, sejalan dengan karakteristik bisnis asuransi yang berorientasi jangka panjang,” ujarnya, dalam keterangan pers, dikutip Senin (11/5/2026).
Made menilai, resiliensi ekonomi domestik dan likuiditas pasar menjadi fondasi penting dalam menjaga keseimbangan antara risiko dan imbal hasil portofolio investasi. Sepanjang 2025, perekonomian nasional tercatat tumbuh 5,11%.
Baca Juga
Perkuat Tata Kelola dan SDM, Allianz Life Indonesia Tunjuk 2 Direksi Baru
Dari sisi pasar modal, indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup menguat 22,13% ke level 8.646,94 di akhir 2025. Sementara, pasar obligasi juga menunjukkan penguatan dengan INDOBeX Government Index tumbuh 12,43% (yoy), didorong arus dana investor asing yang masih mencatatkan net buy.
Di tengah kondisi tersebut, Allianz Indonesia mengelola 49 jenis unit link fund. Tiga produk dengan dana kelolaan terbesar sepanjang 2025 yakni Smartlink Equity sebesar Rp 5,8 triliun, Smartlink Fixed Income Rp 1,7 triliun, dan Smartlink Balanced Rp 1,4 triliun.
Baca Juga
Memasuki 2026, Allianz Indonesia memandang prospek ekonomi domestik masih cukup kondusif. Pihaknya akan menerapkan strategi investasi yang lebih selektif pada 2026 dengan fokus pada kualitas aset, pengelolaan risiko terukur, dan fleksibilitas likuiditas.
“Dalam situasi pasar yang berubah cepat, kami mengajak nasabah untuk meninjau tujuan investasi, jangka waktu, toleransi risiko, serta alokasi aset secara berkala. Diversifikasi tetap menjadi kunci, dan pemilihan instrumen perlu selaras dengan profil risiko agar tujuan proteksi dan investasi berjalan seimbang dalam jangka panjang,” kata Made.

