Modal Inti Tembus Rp 5,8 Triliun, BPD Bali Percepat Langkah Menuju KBMI 2
Poin Penting
|
DENPASAR, investortrust.id - Bank BPD Bali semakin mendekati target untuk naik kelas ke Kelompok Bank Berdasarkan Modal Inti (KBMI) 2, dengan ambang batas minimal Rp 6 triliun. Hingga April 2026, modal inti bank tercatat sebesar Rp 5,86 triliun, hanya selangkah lagi menuju kategori bank menengah.
Direktur Utama PT Bank BPD Bali, I Nyoman Sudharma, menyebut pencapaian ini merupakan hasil kombinasi strategi organik dan anorganik. “Pertumbuhan modal kami berasal dari laba ditahan dan dukungan pemegang saham daerah. Di sisi lain, kami juga membuka peluang konsolidasi untuk mempercepat skala usaha,” beber Nyoman Sudharma dalam wawancara dengan investortrust.id, Jumat (8/5/2026).
Baca Juga
Bukan Sekadar Audit, ICoFR di BPD Bali Bikin Anggaran Pemprov Makin Akurat
Dalam ‘corporate plan’ perusahaan, BPD Bali sebenarnya menargetkan pencapaian modal inti Rp 6 triliun pada tahun 2028. “Namun, melihat perkembangan sampai saat ini, sepertinya syarat modal inti sesuai KBMI 2 bisa dicapai pada 2026,” ujarnya.
Diakui, komitmen pemegang saham sangat besar pada pengembangan perseroan. Pada laporan akhir triwulan I 2026, modal inti Bank BPD Bali tercatat Rp 5,7 triliun. Angka Rp 6 triliun diproyeksikan akan tercapai pada paruh kedua tahun berjalan.
Pencapaian permodalan ini berasal dari pertumbuhan organik dan anorganik. Pada pertumbuhan organik, pendorong modal berasal dari retensi laba bersih. Hal ini didukung Pemegang Saham (Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota se-Bali) yang melakukan setoran modal tunai, tercatat Rp 746 miliar pada awal 2026.
Dalam strategi anorganik, Bank BPD Bali memiliki rencana untuk konsolidasi bisnis, baik dengan BPD lain maupun dengan lembaga keuangan non-bank. Dengan kondisi kesehatan bank, BPD Bali dapat menjadi anchor bank (bank induk) jika pembentukan Kelompok Usaha Bank (KUB) lintas provinsi di wilayah Bali-Nusa Tenggara dilaksanakan untuk skala ekonomi (economies of scale) dan efisiensi rasio permodalan.
Kinerja Keuangan Solid
Pada 2025, BPD Bali membukukan laba bersih Rp 1.101,47 miliar atau tumbuh 25,39% dibandingkan dengan realisasi tahun 2024 sebesar Rp 878,4 miliar. Dengan perolehan laba ini, perseroan dapat membagikan dividen cukup signifikan kepada pemegang saham.
Sesuai laporan keuangan perseroan dan laporan tugas pengawasan dewan komisaris tahun buku 2025, pembagian dividen untuk Tahun Buku 2025 sebesar Rp 826,10 miliar, naik 25% dari pembagian dividen tahun sebelumnya sebesar Rp 658,85 miliar.
Sepanjang tahun 2025, Bank BPD Bali menyalurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) senilai Rp1,76 triliun, yang menjangkau 8.946 pelaku usaha di seluruh kabupaten dan kota di Provinsi Bali.
BPD Bali menyalurkan kredit Rp25,29 triliun pada kuartal I-2026 atau tumbuh 8,66% jika dibandingkan periode sama 2025 yang mencapai Rp23,3 triliun.
“Kami terus melakukan upaya peningkatan fundamental bisnis, sinergi yang terintegrasi di seluruh lini bisnis untuk mendorong akselerasi pertumbuhan yang berkelanjutan,” beber Nyoman Sudharma.
Menurut dia, sektor UMKM menjadi salah satu inti penyaluran kredit melalui penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang telah terealisasi mencapai Rp550,9 miliar dan Kredit Program Perumahan (KPP) mencapai Rp78,41 miliar per Maret 2026.
Selain penyaluran KUR, Bank BPD Bali juga mencatat realisasi debitur naik kelas dari KUR melalui produk kredit usaha untuk sejahtera, unggul dan maju (Kusuma) dengan volume sebesar Rp1,27 triliun.
Kualitas Kredit dan Tantangan 2026
Nyoman Sudharma menuturkan, pihaknya sangat menekankan kehati-hatian (prudential) dalam penyaluran kredit. Ini terlihat dari Rasio kredit bermasalah (NPL) yang terjaga pada level rendah yakni 0,84%. “Tingkat NPL yang relatif rendah mencerminkan penerapan prinsip kehati-hatian BPD Bali dalam penyaluran kredit serta penguatan manajemen risiko,” ujarnya.
Pertumbuhan realisasi kredit juga sejalan dengan penambahan aset yang tumbuh 8,23% menjadi Rp 42,71 triliun.
Sedangkan penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai Rp35,46 triliun atau meningkat 5,36% secara tahunan.
Sementara itu, rasio kredit terhadap simpanan (Loan to Deposit Ratio/LDR) sebesar 71,32%, menunjukkan kemampuan yang baik dalam menyalurkan kredit.
Dari sisi profitabilitas, bank mencatat Net Interest Margin (NIM) sebesar 6,40% serta pertumbuhan fee-based income sebesar 24,18% secara tahunan, didorong oleh transformasi digital.
Efisiensi pendanaan juga terjaga berkat dominasi dana murah (CASA), yang memberikan ruang bagi bank untuk menyalurkan kredit dengan bunga kompetitif.
Sudharma menyebutkan, tantangan yang dihadapi Bank BPD Bali antara lain menjaga rentabilitas terkait dengan kondisi daya beli domestik, inflasi pada sektor pangan dan energi, serta kondisi geopolitik global yang berpengaruh pada aliran modal asing dan nilai tukar. Di tingkat regional, persaingan suku bunga simpanan antar bank lokal dan lembaga keuangan mikro berpengaruh pada margin. “Untuk mengantisipasi kondisi ekonomi tersebut, langkah strategis dilakukan. BPD Bali menetapkan proyeksi pertumbuhan kredit secara konservatif,” tambahnya.
Baca Juga
Selain kinerja keuangan yang solid, Bank BPD Bali juga berupaya meningkatkan kualitas pelayanan terhadap nasabah. Salah satu terobosan yang dilakukan adalah penguatan layanan pembayaran digital melalui QRIS, termasuk peluncuran QRIS NFC serta perluasan QRIS cross border bekerja sama dengan Bank Indonesia, yang memudahkan transaksi wisatawan mancanegara.
Menurut Sudharma, inovasi QRIS Cross Border merupakan jembatan strategis untuk menghubungkan UMKM lokal dengan ekosistem pariwisata global, sehingga manfaat ekonomi pariwisata dapat dirasakan langsung oleh pelaku usaha di tingkat desa. Saat ini, BPD Bali dalam proses persiapan implementasi sistem pembayaran digital QRIS lintas negara dengan China setelah sebelumnya sukses di Thailand, Malaysia, Singapura dan Jepang.

