Perkuat Ketahanan Industri, AAJI Gelar Chief Risk Officer (CRO) Forum 2026
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Sebagai upaya untuk memperkuat ketahanan industri asuransi jiwa di tengah meningkatnya ketidakpastian global, Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) menggelar Chief Risk Officer (CRO) Forum AAJI 2026.
Ketua Bidang Hukum dan Kepatuhan AAJI Robby Yanuar Walid mengungkapkan, selain membawa dampak positif, percepatan transformasi digital juga memberikan tantangan seperti pengelolaan data, serta ancaman siber. Risiko tersebut menjadi semakin krusial dan perlu diantisipasi secara terstruktur.
“Penguatan ketahanan siber bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. AAJI terus mendorong penguatan ini melalui kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk melalui inisiatif cyber help desk sebagai dukungan awal bagi industri,” ujarnya, dalam keterangan pers, Rabu (6/5/2026).
Baca Juga
AAJI Buka Suara soal Limit Investasi Asuransi dan Dapen di Saham Naik Jadi 20%
Selama beberapa tahun terakhir, lanjut Robby, dinamika global menunjukkan peningkatan ketidakpastian signifikan yang dipicu oleh eskalasi moneter berbagai negara. Tekanan inflasi yang berkelanjutan, kenaikan suku bunga dalam periode singkat, serta volatilitas nilai tukar menciptakan tekanan berlapis pada stabilitas pasar global.
“Kondisi ini turut memengaruhi pergerakan yield instrumen keuangan serta valuasi aset,” katanya.
Bagi industri asuransi, kata Robby, perkembangan tersebut tak hanya berdampak pada aset karena penurunan valuasi dan fluktuasi hasil investasi, tapi juga dari sisi liabilitas akibat perubahan asumsi aktuaria dan perilaku nasabah.
Kenaikan suku bunga juga berpotensi memengaruhi nilai kewajiban jangka panjang, sementara tekanan ekonomi dapat mendorong peningkatan lapse (polis gugur) dan surrender (penebusan polis). Di lain sisi, tren kenaikan biaya medis serta perubahan pola morbiditas (jumlah orang yang sakit) turut meningkatkan eksposur risiko asuransi.
Baca Juga
AAJI Catat Premi Asuransi Jiwa Minus 1,8% Jadi Rp 181,27 Triliun di 2025
Menurut Robby, percepatan digitalisasi dan perubahan perilaku nasabah juga mendorong kompleksitas risiko operasional, termasuk tekanan pada kapasitas sistem. Secara lebih luas, meningkatnya ketegangan geopolitik turut berdampak pada lanskap keamanan siber, di mana ancaman menjadi semakin kompks dan berpotensi menjadi bagian dari dinamika konflik global.
“Kombinasi berbagai faktor tersebut mengarah pada potensi perfect storm, di mana risiko pasar, likuiditas, asuransi, operasional, dan siber terjadi secara simultan dan saling memperkuat. Pada kondisi ini, perusahaan asuransi jiwa dituntut untuk tidak hanya memahami risiko secara makro, tapi juga mampu menerjemahkannya ke dalam strategi pengelolaan risiko yang forward looking, terintegrasi, dan adaptif,” ucapnya.
Sementara itu, Deputi Komisioner Pengawas Perasuransian, Penjamin, dan Dana Pensiun (PPDP) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengatakan, saat ini industri asuransi menghadapi spektrum risiko yang semakin luas, mulai dari bencana alam, mortalitas (tingkat meninggal dunia), ancaman siber, tantangan kesehatan, serta kesiapan dana pensiun.
“Best practices bagi para CRO dalam industri bukan sekadar konsep, tapi memastikan kecukupan modal untuk menyerap risiko, membangun disiplin dalam mengenali dan mengelola risiko secara terukur, serta memperkuat tata kelola melalui komite yang berjalan efektif,” ujarnya.
“OJK juga memandang regulasi bukan sekadar aturan, melainkan pedoman yang mendorong perusahaan asuransi untuk menjadi lebih baik dan berdaya saing,” sambung Iwan.

