Rupiah Tembus Rp 17.300 per US$, Ini Respons Bank Indonesia
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah menembus Rp 17.300 per US$ pada perdagangan di pasar spot Kamis (23/4/2026). Pada pukul 11.05 WIB, berdasarkan Bloomberg, rupiah mencapai posisi Rp 17.303 per US$.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengatakan, tekanan pada rupiah yang terjadi sejak pagi tadi lebih banyak disebabkan meningkatnya ketidakpastian global. Sehingga mata uang regional mengalami tekanan yang sama.
"Bank Indonesia akan terus meningkatkan intensitas intervensi untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan memperkuat struktur suku bunga instrumen moneter pro-market untuk tetap menarik aliran modal masuk ke instrumen aset domestik di tengah berlanjutnya dampak perang Timur Tengah," kata Destry melalui pesan singkatnya kepada investortrust.id, Kamis (23/4/2026).
Baca Juga
Rupiah Anjlok ke Rp 17.300 per Dolar AS, Airlangga: BI Bertugas Jaga Stabilitas
Menurut Destry, intervensi yang berkesinambungan akan terus BI lakukan secara konsisten. Intervensi dilakukan melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, disertai dengan pembelian SBN di pasar sekunder.
"Pelemahan rupiah masih sejalan dgn regional, secara year to date melemah -3,54%. Cadangan devisa tetap terjaga di level US$ 148,2 milyar pada akhir Maret 2026," kata dia.
Dihubungi investortrust, analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong pelemahan rupiah saat ini tercatat tertinggi sepanjang sejarah. Menurut dia, pelemahan rupiah karena adanya sentimen risk off umumnya di pasar Asia yang dipicu oleh kekhwatiran dan ketidakpastian perkembangan perang di Timur Tengah dan kenaikan indeks dolar AS, walau tidak siknifikan.
"Dan imbal hasil obligasi AS, kenaikan harga minyak mentah dunia," ujar Lukman.
Baca Juga
Bank Indonesia Holds Rates as Fed Pivot Delays and Middle East Tensions Threaten Rupiah
Lukman mengatakan risk off juga mengabaikan keputusan BI menahan BI Rate di 4,75%.
"Benar, rupiah menjadi makin tidak menarik di tengah meningkatnya imbal hasil obligasi AS," kata dia.
Mengacu kepada data investing, imbal hasil US Treasury 10 tahun terpantau meningkat. Hingga berita ini dibuat, imbal hasil US Treasury 10 tahun mencapai 4,32% naik dari sehari lalu yang sebesar 4,29%.

