Laba Asuransi Jiwa Tertekan, OJK Wanti-Wanti Industri Tak Hanya Bergantung pada Investasi
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Kinerja industri asuransi jiwa hingga Februari 2026 menunjukkan dinamika yang beragam, dengan tekanan pada segmen asuransi jiwa dan penguatan pada asuransi umum.
Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun (PPDP) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Ogi Prastomiyono mengungkapkan, laba asuransi jiwa tercatat Rp 1,14 triliun atau menurun 12,56% secara year on year (yoy). Sebaliknya, asuransi umum membukukan laba Rp 4,32 triliun atau melonjak 123% (yoy).
“(Laba asuransi umum) didorong oleh perbaikan underwriting dan pengelolaan klaim,” ujarnya, dalam jawaban tertulis, dikutip Sabtu (18/4/2026).
Di lain sisi, hasil investasi justru mencatat pertumbuhan yang kuat. Asuransi jiwa membukukan hasil investasi sebesar Rp 9,37 triliun atau tumbuh 245,44% (yoy), sementara asuransi umum mencapai Rp 1,40 triliun atau meningkat 18,47% (yoy).
Meski begitu, Ogi mengingatkan bahwa industri tidak boleh terlalu bergantung pada kinerja investasi semata.
“Kinerja industri harus tetap bertumpu pada keseimbangan antara premi, underwriting, dan hasil investasi. Sehingga, tidak bergantung secara berlebihan pada kinerja investasi,” katanya.
Dari sisi premi, asuransi jiwa mencatatkan Rp 32,39 triliun atau tumbuh tipis 0,12% (yoy). Angka ini menunjukkan adanya fase stabilisasi setelah sebelumnya mengalami kontraksi akibat penyesuaian produk dan regulasi.
Baca Juga
“Ke depan, pertumbuhan premi diharapkan didorong oleh inovasi produk, penguatan distribusi, serta peningkatan literasi masyarakat,” ucap Ogi.
Sementara itu, tren klaim kesehatan masih menunjukkan peningkatan, baik pada asuransi jiwa maupun asuransi umum. Meski begitu, OJK menilai rasio klaim masih berada dalam batas yang terjaga.
Untuk menjaga kualitas kredit, Ogi menekankan pentingnya penguatan underwriting, pengelolaan klaim, serta pengendalian biaya layanan kesehatan oleh perusahaan asuransi.
Ke depan, lanjut dia, persaingan industri akan semakin bergeser ke arah inovasi, efisiensi, dan kualitas layanan, termasuk pemanfaatan teknologi seperti kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
“Secara keseluruhan, OJK melihat prospek industri asuransi tetap positif dengan pertumbuhan yang lebih sehat dan berkelanjutan, didukung oleh keseimbangan antara segmen individu dan kumpulan, serta penguatan tata kelola dan manajemen risiko di tengah dinamika pasar dan tantangan global,” ujar Ogi.

