Dorong Ekonomi Desa dan Reforestasi, Pertamina Kembangkan Hutan Lestari
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Program pelestarian hutan yang dijalankan PT Pertamina (Persero), badan usaha milik negara di sektor energi, mendorong pemulihan lingkungan sekaligus membuka sumber ekonomi baru bagi masyarakat di berbagai daerah, mulai Bali hingga Lampung dan Jawa Tengah.
Inisiatif ini dikembangkan melalui program Hutan L3stari, yang mengintegrasikan reforestasi, pemberdayaan masyarakat, dan edukasi lingkungan sebagai bagian dari dukungan terhadap ketahanan pangan dan ekonomi nasional.
Di lereng Gunung Agung, Bali, upaya ini bermula dari kawasan Hutan Mahawana Basuki Besakih yang sempat terdampak erupsi pada 2017. Melalui pendekatan berbasis filosofi Tri Hita Karana, konsep keseimbangan hubungan manusia, Tuhan, dan alam, masyarakat didorong untuk memulihkan ekosistem sekaligus meningkatkan kesejahteraan.
Tokoh lokal I Nyoman Artana menekankan pentingnya menjaga kawasan hulu sebagai penopang ekosistem Bali. “Mengelola lingkungan harus dimulai dari hulu. Jika lokasi ini tidak dipelihara dengan baik, Bali akan rentan terhadap bencana dan perubahan iklim,” ujar dia dikutip Senin (23/3/2026).
Pendekatan tersebut membuahkan hasil ekonomi. Kelompok binaan mampu memproduksi 100–150 kg madu per tahun dengan harga mencapai Rp 500.000 per liter untuk madu kelanceng. Selain itu, aktivitas wisata alam di kawasan tersebut berkembang pesat dengan pendapatan mencapai Rp 120 juta per bulan, sekaligus membuka lapangan kerja baru bagi warga setempat.
Baca Juga
Wamen ESDM: Stok BBM Pertamina Aman Capai 28 Hari pada Idulfitri
Transformasi serupa terjadi di Ulubelu, Lampung. Wastoyo, warga setempat, mengisahkan perubahan pola pikir masyarakat yang sebelumnya bergantung pada penebangan hutan. Ia mengakui praktik tersebut dahulu menjadi pilihan karena keterbatasan pengetahuan. “Dulu, menebang pohon adalah cara instan kami untuk menyambung hidup karena ketidaktahuan. Kami terjebak dalam siklus perusakan demi sesuap nasi,” katanya.
Perubahan terjadi setelah adanya program Sekolah Hutan Lestari yang memberikan pendampingan intensif kepada Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Margo Rukun. Melalui program ini, masyarakat beralih menjadi pembudidaya tanaman dan pengelola hasil hutan secara berkelanjutan.
Kelompok tersebut telah menanam 50.000 bibit pohon Multi-Purpose Tree Species (MPTS), yakni jenis tanaman yang memiliki nilai ekonomi dan fungsi ekologis, serta mengembangkan pengolahan limbah kopi menjadi pupuk organik melalui unit Pertaganik Bestari.
Hasilnya, KUPS Margo Rukun mencatat omzet hingga Rp 2,2 miliar per tahun. Produk bibit dan model budi daya lebah yang mereka kembangkan bahkan telah diadopsi oleh sejumlah perusahaan multinasional sebagai standar rehabilitasi lahan.
Sementara itu, di Kampung Laut, Cilacap, Jawa Tengah, Wahyono memulai rehabilitasi mangrove di kawasan pesisir yang sebelumnya mengalami kerusakan akibat pembalakan. Upayanya sempat diragukan warga, namun kini menjadi contoh keberhasilan pemulihan ekosistem. “Dulu semuanya gersang, namun, saya yakin mangrove adalah ‘pabrik’ alami kita, kini, keraguan warga sirna,” ujar Wahyono.
Ia kini mampu memproduksi hingga 800.000 bibit mangrove per tahun. Kawasan tersebut telah berkembang menjadi pusat eduwisata dan menarik perhatian peneliti internasional sebagai model pemulihan ekosistem pesisir.
Wahyono menambahkan bahwa perubahan pola pikir masyarakat menjadi kunci keberhasilan program tersebut. “Dulu mereka bilang saya gila, sekarang kita ‘gila’ bersama-sama untuk menjaga hutan demi masa depan anak cucu,” katanya.
Baca Juga
Vice President Corporate Communication Pertamina Muhammad Baron mengatakan keberhasilan di tiga wilayah tersebut mencerminkan komitmen perusahaan dalam mendukung program kedaulatan pangan nasional, sejalan dengan visi pemerintah di bawah Presiden Prabowo Subianto.
Ia menambahkan bahwa program Hutan L3stari telah menanam lebih dari 8 juta pohon produktif dan mangrove, serta membina masyarakat melalui integrasi antara reforestasi dan pemberdayaan ekonomi.
“Pertamina membuktikan bahwa menjaga energi bumi bisa sejalan dengan menghidupkan kemandirian masyarakat, hutan tidak lagi hanya dijaga agar tidak rusak, tapi dirawat agar terus memberi kehidupan,” ujar Baron.

