PIS Perkuat Komitmen ESG Lewat Konservasi Hiu Paus
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - PT Pertamina International Shipping (PIS) mendorong upaya konservasi populasi hiu paus (Rhincodon typus) di Indonesia melalui keberhasilannya dalam menandai (tagging) 4 ekor hiu paus di perairan Kepulauan Derawan, Kalimantan Timur. PIS kini tercatat telah berhasil menandai 7 ekor hiu paus selama 2 tahun terakhir.
Proses penandaan hiu paus di perairan Derawan berlangsung beberapa waktu lalu dengan menggandeng Konservasi Indonesia, sebuah yayasan nasional yang mendukung pembangunan berkelanjutan dan pelestarian lingkungan di Indonesia. Keberhasilan penandaan sejumlah individu baru hiu paus menjadi kemajuan dalam upaya studi dan observasi ikan terbesar di dunia ini. Adapun 4 hiu paus tersebut diberikan nama sesuai dengan nama kapal tanker kebanggaan PIS, yakni; Pride, Prime, Bangka, Belitung.
“Tujuan utama tagging hiu paus ini adalah bagaimana kami dari PIS dapat berperan aktif dalammenjaga kelestarian fauna di Indonesia. Data-data yang kami kumpulkan bersama mitra yang berpengalaman diharapkan dapat mendukung upaya menjaga satwa yang sangat penting di lautanIndonesia. Dengan demikian, kami juga bisa mengatur operasional kami sehingga dapatberdampak positif terhadap keberlangsungan satwa tersebut,” ujar Manager CSR PIS Alih Istik Wahyuni dalam siaran pers, Selasa (13/1/2026).
Baca Juga
Cegah Kepunahan Hiu Paus Papua, Elnusa (ELSA) Bantu Pasang Alat Pelacak
Seperti yang disebutkan, salah satu tujuan penandaan hiu paus ini juga agar PIS dapat mengenali rute-rute yang biasa dilintasi oleh populasi hiu paus di Nusantara sehingga kapal-kapal merekadapat menghindari tabrakan rute yang sama. Dari hasil penelitian sejumlah pihak, tabrakan dengan kapal-kapal besar menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap kematian hiu paus dan penurunan populasinya.
“Data-data yang kami dapatkan dari hasil tagging hiu paus ini akan membantu kami memetakan jalur-jalur dan migrasi hiu paus tersebut. Data ini akan kami integrasikan dengan data pelayaran yang kami punya sehingga kami bisa meminimalisasi potensi risiko tabrakan hiu paus dengan kapal-kapal yang dioperasikan PIS. Dengan begitu kami juga bisa berkontribusi untuk menjaga kelestarian hiu paus di Indonesia,” imbuh Alih.
Focal Species Conservation Senior Manager Konservasi Indonesia Mochamad Iqbal Herwata Putra menjelaskan saat ini populasi hiu paus di dunia menghadapi sejumlah ancaman atas keberlangsungan hidupnya. Ancaman tersebut diperkirakan telah menyebabkan populasi hiu paus turun lebih dari 50%. Kabar baiknya, melalui upaya pemulihan yang terus dilakukan berbagai pihak, populasi hiu paus mungkin pulih dalam 100 tahun ke depan.
“Tabrakan dengan kapal, polusi laut, perubahan iklim, tidak sengaja tertangkap, dapat menyebabkan hiu paus terdampar di bibir pantai di berbagai tempat. Keterdamparan ini menjadi perhatian para peneliti karena hal ini menjadi faktor yang mengganggu upaya pemulihan populasi hiu paus. Dengan terus menandai individu hiu paus yang tersebar di Indonesia, termasuk di perairan Derawan, PIS dan Konservasi Indonesia dapat terus menghimpun data yang penting untuk mempelajari koridor migrasi hiu paus yang pada akhirnya dapat melindungi spesies yang terancam punah tersebut,” terang Iqbal.
Baca Juga
Prabowo Sumbang US$1 Miliar untuk Dana Abadi Konservasi Hutan Tropis
Penandaan hiu paus (whale shark tagging) adalah bagian dari program “Marine BiodiverSEAty” yang berada di bawah payung program “BerSEAnergi untuk Laut”, sebuah inisiatif CSR PIS di bawah pilar Environmental Preservation. Melalui program ini, PIS menegaskan komitmennya dalam melindungi hiu paus, spesies payung yang saat ini masuk dalam kategori terancam punah menurut daftar IUCN. Penandaan dilakukan menggunakan perangkat tag satelit yang memungkinkan peneliti melacak pola pergerakan, jalur migrasi, dan habitat kritis hiu paus di sekitar ekosistem Derawan dan wilayah perairan Indonesia yang lebih luas.
Pada tahun lalu, kegiatan serupa juga dijalankan PIS di perairan Taman Nasional TelukCenderawasih, Kwatisore, Kabupaten Nabire, Papua Tengah. Kala itu, PIS berhasil menandai 3 ekor hiu paus. Setelah sukses menandai total 7 individu hiu paus di Kwatisore dan KepulauanDerawan, PIS menyebut pihaknya akan terus melanjutkan program ini guna memperbanyak data untuk dipelajari.
“Kami akan melanjutkan program ini agar kami dapat memetakan risiko tabrakan kapal denganhiu paus (Whale Shark–Ship Collision Risk Map) serta rekomendasi mitigasi dan masukan teknisbagi pengembangan SOP keselamatan laut,” tegas Alih.
Berdasarkan laporan International Union for Conservation of Nature (IUCN), hiu paus merupakan salah satu hewan yang masuk ke dalam daftar merah terancam punah sejak 2016. Sejak itu upaya konservasi hiu paus terus digalakkan oleh berbagai pihak, termasuk oleh PIS sebagai perusahaan yang bergerak di industri maritim.

