Perubahan Iklim Jadi Ancaman, Pakar Tekankan Pentingnya Jurnalisme Lingkungan
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id -- Isu perubahan iklim menjadi ancaman serius bagi seluruh wilayah Asia, termasuk India. Hal itu disampaikan Executive Director di Centre for Science and Environment (CSE) Anumita Roychowdhury dalam Program Voice of Tomorow yang digelar Kedutaan Besar India bersama dengan India News Desk, Sabtu (18/10/2025) lalu.
Sektor ketiga yakni pengelolaan sampah dan ekonomi sirkular.
India melalui inovasinya juga terus berupaya mengubah sampah menjadi energi. Kota-kota seperti Indore telah mencapai 100% pemisahan sampah dan menggunakan sampah basah untuk memproduksi biogas, yang kemudian digunakan untuk menggerakkan bus kota.
Anumita menyebut India menghadapi berbagai tantangan iklim di perkotaan, termasuk peningkatan efek panas perkotaan (heat effect) akibat penurunan area hijau dan badan air, serta peningkatan polusi dari mobilisasi yang memicu penyakit. Kota-kota India juga rentan terhadap perubahan pola air, termasuk banjir.
"Di Delhi sekarang, kita mulai menunjukkan bagaimana panas berdampak terdahadap area hijau dan sebagainya," kata Anumita dalam paparannya.
Anumita menyebut India telah mengimplementasikan serangkaian praktik baik di tiga sektor utama untuk memitigasi perubahan iklim dan dampaknya. Pertama yakni Mobilitas dan Transportasi. Salah satu langkah terpenting adalah peningkatan standar emisi dari Euro 5 beralih ke standar Euro 6 pada tahun 2020.
"Ketika India berada di level itu, mereka membuat keputusan untuk meninggalkan Euro 5 dan berpindah langsung ke Euro 6 dalam 3 tahun," ujarnya.
Ini adalah prinsip yang sangat penting yang harus diambil di negara Asia," imbuhnya.
Upaya kedua yang dilakukan India dalam memitigasi perubahan iklim yaitu elektrifikasi transportasi publik dan infrastruktur berbasis transit. Kota-kota di India memfokuskan investasi pada infrastruktur yang memprioritaskan pejalan kaki, bersepeda, dan transportasi umum yang aman, nyaman, dan mudah diakses.
Sektor lainnya yakni bangunan dan habitat. Untuk mengatasi lonjakan kebutuhan pendinginan yang berpotensi meningkatkan konsumsi energi, India mengambil langkah-langkah dalam desain bangunan seperti desain bioklimatik serta mewajibkan bangunan dengan mengurangi kebutuhan pendinginan.
Sektor ketiga yakni pengelolaan sampah dan ekonomi sirkular.
India melalui inovasinya juga terus berupaya mengubah sampah menjadi energi. Kota-kota seperti Indore telah mencapai 100% pemisahan sampah dan menggunakan sampah basah untuk memproduksi biogas, yang kemudian digunakan untuk menggerakkan bus kota.
Sementara itu, Jurnalis Lingkungan Senior Harry Surjadi menjelaskan bahwa secara sederhana jurnalisme lingkungan merupakan merupakan satu aliran jurnalisme denyan pokok bahasan khusus isu lingkungan hidup. Namun dalam arti luas, jurnalisme lingkungan mencakup pokok bahasan kesehatan, ekonomi, politik, perdagangan, pembangunan, simber daya alam dan masalah sains.
Harry juga menjelaskan, menjadi seorang jurnalis lingkungan harus memahami mengenai biologi, ekologi, hutan, ekonomi, dan sosiologi. Menurutnya liputan lingkungan tidak mudah karena persoalan lingkungan sering kali kompleks dan rumit.
"Liputan lingkungan juga kadang "tidak pasti" atau journalism of uncertainty. Misalnya ilmuwan tidak tahu dampak produk transgenik," ucapnya.
Adapun peran dan tugas jurnalis lingkungan yakni menginformasikan dan mengedukasi publik, menginvestigasi dugaan kasus korupsi di bidang lingkungan, hingga memonitor kebijakan pemerintah.

