Global Energy Alliance Kucurkan US$ 1,7 Miliar untuk Transisi Energi Bersih Asia Tenggara
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Di tengah tantangan ekonomi dan politik global yang mengancam pencapaian cita-cita iklim dan pembangunan, Global Energy Alliance for People and Planet membagikan bagaimana kolaborasi mendalam antara pemerintah, filantropi, dan sektor swasta berlangsung.
Menilik laporan efek program 2025 yang baru dirilis, model kemitraan publik-swasta-filantropi dari Aliansi Energi Global membangun koalisi yang dipimpin negara dan memanfaatkan pembiayaan katalitik serta keahlian teknis untuk memajukan masa depan energi berkelanjutan.
Sejak dibentuk di COP26 tahun 2021, Aliansi Energi Global telah memberikan pendanaan katalitik sebesar US$ 503 juta, membantu membuka total investasi sebesar US$ 7,8 miliar, serta mendukung 137 proyek di lebih dari 30 negara.
Model kemitraan tersebut kini tengah dalam proses untuk meningkatkan akses energi bagi 91 juta orang, mendukung atau menciptakan 3,1 juta pekerjaan dan penghidupan, dan mencegah 296 juta ton emisi karbon.
“Temuan dalam laporan ini membuktikan jika nilai dari kemitraan dengan publik, swasta, dan filantropi menunjukkan bahwa transisi energi yang adil adalah mesin yang kuat untuk menciptakan pekerjaan dan pertumbuhan ekonomi,” kata Woochong Um, CEO Global Energy Alliance dalam siaran pers, Rabu (1/10/2025).
Baca Juga
“Laporan ini menunjukkan bahwa ketika pemerintah, investor, inovator, dan komunitas bersatu, kita dapat mendorong perubahan sistemik, menciptakan solusi yang bekerja secara lokal dan dapat berkembang secara global," tambahnya.
Salah satu wilayah utama bagi Energy Alliance sejak berdiri adalah Asia Tenggara. Dengan meningkatnya elektrifikasi di kawasan ini, tantangan utama dalam transisi energi bersih adalah ketergantungan pada sumber energi tradisional, keterbatasan modernisasi jaringan, serta hambatan dalam pembiayaan iklim.
Aliansi telah membantu membuka pembiayaan senilai US$ 1,7 miliar, menghasilkan 37 proyek yang sudah dilaksanakan dan siap untuk diluncurkan. Proyek-proyek ini ditargetkan untuk meningkatkan akses bagi 4 juta orang, meningkatkan pekerjaan dan mata pencaharian bagi 77.000 orang tambahan, serta mengurangi emisi karbon sekitar 18 juta ton.
Untuk mengatasi hambatan pembiayaan solusi iklim di Asia Tenggara, Alliance telah mendukung platform seperti Financing Asia’s Transition Partnership (FAST-P). FAST-P adalah inisiatif pembiayaan campuran yang mempertemukan mitra publik, swasta, dan filantropi internasional untuk mendukung dekarbonisasi dan ketahanan iklim di Asia. Alliance juga bermitra dengan Asian Development Bank untuk meluncurkan platform Enhancing Access to BESS for Low-carbon Economies (ENABLE), yang akan mengoperasionalkan Konsorsium BESS, memobilisasi pendanaan dan bantuan teknis untuk proyek penyimpanan tahap awal, serta mempercepat pertukaran praktik terbaik di kawasan.
“Transisi energi bersih di Asia Tenggara tidak bisa dicapai secara terpisah; ini membutuhkan aksi kolaboratif yang terkoordinasi lintas pemerintah, bank pembangunan, sektor swasta, dan komunitas. Di Alliance, kami berkomitmen untuk membangun kemitraan ini guna membuka pembiayaan iklim, memodernisasi jaringan, dan mempercepat penerapan solusi energi terbarukan,” ujar Kitty Bu, Wakil Presiden Asia Tenggara, Global Energy Alliance.
Baca Juga
DMGP Gelar Aksi Gotong Royong di Cianjur, Perkuat Komitmen Energi Bersih dan Kepedulian Sosial
Transisi Energi Bersih Indonesia
Di Indonesia, Aliansi sedang memajukan serangkaian proof points yang menunjukkan bagaimana integrasi energi terbarukan dapat memperkuat ketahanan energi dan memberikan manfaat bagi masyarakat. Inisiatif meliputi:
Secara paralel, Alliance memainkan peran penting dalam Transisi Energi Berkeadilan (JET) Indonesia. Alliance telah mendukung JET Secretariat dan Kantor Transisi di Indonesia dengan keahlian pembiayaan, koordinasi donor, dan perencanaan investasi, mendukung Institute of Essential Services Reform (IESR) dalam merancang peta jalan percepatan pensiun batubara yang memungkinkan pembiayaan campuran untuk pilot tahap awal, termasuk proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya Terapung Tembesi 46MW.
Agenda ini bekerja sama dengan PT Sarana Multi Infrastruktur dalam perencanaan transisi batubara di bawah Mekanisme Transisi Energi (ETM) Indonesia, membantu merancang jalur transisi yang adil dan inklusif.
“Indonesia menunjukkan bahwa solusi energi bersih dapat bekerja dalam skala besar ketika kemitraan kuat dan masyarakat menjadi pusat. Dari penyimpanan baterai dan integrasi tenaga angin hingga konversi diesel ke energi terbarukan dan elektrifikasi daerah terpencil, inisiatif ini menjadi bukti bahwa transisi dapat berjalan secara teknis dan inklusif secara sosial. Ini adalah pijakan untuk memobilisasi investasi yang lebih besar dan mempercepat peralihan kita menuju sistem energi yang lebih tangguh,” tambah Lucky Nurrahmat, Country Head Indonesia, Global Energy Alliance.
Fokus berikutnya adalah meningkatkan keterlibatan sektor swasta seiring percepatan transisi energi serta meningkatnya kebutuhan finansial dan teknologi. Melihat potensi aliansi ASEAN Power Grid, yang dipimpin oleh Sekretariat ASEAN dengan dukungan Asian Development Bank dan World Bank Group, Aliansi memberikan dukungan katalitik kepada pemerintah Asia Tenggara untuk transisi energi. Upaya ini diharapkan dapat mengurangi tambahan 100 juta ton emisi CO2 dan menambah lebih dari 13 GW kapasitas energi terbarukan baru.

