Surip Mawardi, Puluhan Tahun Kembangkan Kopi Tahan Karat Daun
JAKARTA, investortrust.id - Surip Mawardi merupakan sosok yang tak asing di industri kopi. Lulusan Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) ini mendedikasikan dirinya untuk hidup bersama kopi, dengan puluhan tahun menekuni riset dan inovasi untuk mengembangkan varietas kopi baru yang unggul dan berdaya saing.
Dari jerih payahnya, Surip berhasil mengembangkan varietas kopi genjah dan berbatang pendek, Sigararutang. Selama 17 tahun, dia juga menyeleksi secara manual varietas Andungsari yang memiliki produktivitas tinggi dan tahan penyakit.
Baca Juga
Surip juga mengembangkan varietas Komasti yang besar dan cepat berbuah. Surip butuh 27 tahun mengembangkan varietas ini di Pusat Penelitian Kopi dan Kakao di Jember, Jawa Timur.
“Ir Surip adalah peneliti dan pemulia varietas kopi Indonesia yang diakui komunitas kopi dunia. Ia berhasil mengembangkan varietas-varietas baru yang merevolusi perkebunan kopi Indonesia,” kata Founding Director Indonesia Coffee Summit Yuswohady, melalui keterangan resmi, Senin (30/10/2023).
Menurut Yuswohady, varietas yang dikembangkan Surip terbukti cepat berbuah, berbatang pendek kokoh, dan tahan hama karat daun. Penyakit ini pernah menghancurkan inisiatif kopi pertama Belanda yang sebenarnya mampu berbuah lebat dan bercita rasa enak.
Tarik Minat Peremajaan
Karena varietas baru yang genjah itu, lanjut Yuswohady, banyak petani kopi tertarik untuk meremajakan kebun kopinya dengan tanaman baru, guna meningkatkan produksi. Ini juga membuahkan penataan perkebunan kopi yang lebih teratur.
“Pak Surip juga sangat fasih mengurai keutamaan varietas kopi Gayo dan varietas lain di seluruh Indonesia. Untuk memberikan apresiasi atas dedikasinya yang luar biasa, Indonesia Coffee Summit memberikan penghargaan Indonesia Coffee Heroes Award 2023 untuk kategori Lifetime Achievement kepada Pak Surip,” ucap dia.
Baca Juga
Surip pun mengaku bangga menerima penghargaan tersebut. Dia menyebut, saat ini, tantangan terbesar pengembangan varietas kopi di Indonesia yaitu perubahan iklim yang kian terasa dampaknya.
“Perubahan iklim yang dimulai dengan pemanasan global dapat merembet memengaruhi berbagai aspek, seperti kelembaban, curah hujan, hingga tekanan udara. Semuanya itu dapat berpengaruh besar pada pertumbuhan dan perkembangan tanaman kopi,” ucap Surip.
Saat ini, Surip bekerja di kebun laboratorium pribadinya di Silangit, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara. Tidak hanya menjadi display varietas kopi Indonesia beserta teknik menanam, Surip juga menjadikan laboratorium miliknya sebagai kebun bank varietas kopi dunia. (CR-7)

