Perusahaan Tak Terapkan ESG Akan Kehilangan Investor dan Kreditor
JAKARTA, investortrust.id -- Penerapan enviromental, social, and governance (ESG) di perusahaan merupakan keharusan dan tidak bisa dihentikan. Perusahaan yang tidak menerapkan ESG akan kehilangan investor, kreditor, dan konsumen.
Dalam sambutannya pada penganugerahan “Disclosure Transparancy Awards 2023, Rabu (29/11/2023), Pemimpin Redaksi investortrust.id, Primus Dorimulu menyatakan, sejumlah studi menunjukkan, UMKM yang memiliki sustainability report lebih mudah mendapatkan investor dan konsumen.
Menurut Primus, setiap korporasi dan institusi wajib mengimplementasi ESG dan itu harus tercermin pada Sustainnability Report. OJK sudah mewajibkan perusahaan publik dan bank untuk menyampaikan sustainability report. Dan sustainability report itu harus benar-benar transparan dan disampaikan apa adanya kepada publik.
“Muncul pertanyaan, apakah ada korelasi positif antara penerapan ESG dengan kinerja perusahaan dan harga saham bagi listed companies? Jawabannya, ya. Ada!” kata Primus.
Karena ESG sudah menjadi isu PBB dan umat manusia, terutama generasi muda, Gen Y dan Gen Z, maka perusahaan yang tidak atau kurang mengindahkan penerapan ESG akan kesulitan mendapatkan pendanaan dari perbankan, pendanaan dari investor, dan pasar. Masyarakat konsumen akan memberikan sanksi kepada perusahaan yang tidak menjalankan ESG.
ESG Awards bertujuan untuk membangkitkan awarness, kesadaran korporasi akan tanggung jawab terhadap bumi, masyarakat, dan itu dimulai dari tata kelola perusahaan atau governance. “Kita yakin, ke depan, perusahaan yang memiliki penerapan ESG yang baik akan lebih sukses secara finansial dan memiliki going concern atau keberlanjutan usaha yang lebih baik,” ujar Primus pada acara yang digelar investortrust.id tersebut.
Pihaknya mengapresiasi Pemerintah RI yang sudah cukup memberikan perhatian terhadap penerapan ESG. Hasil studi Bumi Global Karbon Foundation (BGK) menunjukkan, kepatuhan terhadap ESG oleh korporasi semakin baik.
ESG di Mata Paslon Capres-Cawapres
Lebih lanjut Primus menyatakan, salah satu isu yang dipersiapkan oleh tiga pasangan calon (paslon) presiden-wapres adalah soal ESG. Bukan hanya dalam debat capres dan cawapres, tapi juga dalam berbagai forum, para kandidat akan dimintai pendapat mereka.
ESG diinisiasi dan diberlakukan secara formal oleh PBB. Laporan PBB tahun 2004 – yang berjudul Who Cares Wins– menyebutkan secara tegas ESG dalam konteks modern.
Konsep Who Cares Wins hendak menegaskan prinsip bahwa organisasi dan perusahaan yang memperhatikan tanggung jawab sosial dan lingkungan mereka akan mendapatkan manfaat jangka panjang.
Inti dari Who Cares Wins adalah, pertama keberlanjutan dan keuntungan bersama. Ada moral dalam pembangunan ekonomi. Kedua, pertanggungjawaban sosial perusahaan (CSR).
Ketiga, investasi berkelanjutan. Who Cares Wins mendorong investor untuk mempertimbangkan faktor lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) dalam keputusan investasi mereka, dengan keyakinan bahwa hal ini akan mengarah pada hasil yang lebih berkelanjutan dan menguntungkan jangka panjang.
Keempat, kolaborasi antarsektor. “Konsep ini juga mendukung kerjasama antara sektor swasta, publik, dan organisasi non-profit untuk mencapai tujuan keberlanjutan,” kata Primus.
Kelima, inisiatif global. Who Cares Wins sering terkait dengan upaya global untuk mengintegrasikan keberlanjutan ke dalam pasar modal dan praktik bisnis, sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan PBB.
“Jadi, secara keseluruhan, Who Cares Wins adalah tentang bagaimana menghubungkan kepedulian terhadap masyarakat dan lingkungan dengan kesuksesan bisnis, menunjukkan bahwa perusahaan yang bertanggung jawab secara sosial dan lingkungan cenderung lebih sukses dalam jangka panjang,” kata Primus.
ESG dalam SDGs
Pada 1 Januari 2001, PBB meluncurkan MDGs, program 15 tahun. Pada 2015, PBB meluncurkan SDGs karena banyak target yang belum diraih. Ada 17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) yang dielaborasi dalam ESG: environmental (5 tujuan), social (8), governance 4 tujuan. Tagline pun bertambah dari yang hanya planet, people, and profit, menjadi planet, people, profit, peace, and partneship.
Sementara itu, lima tujuan di aspek lingkungan (environmental) dalam SDGs meliputi:
TUJUAN 6. Memastikan ketersediaan dan manajemen air bersih yang berkelanjutan dan sanitasi bagi semua.
TUJUAN 7. Memastikan akses terhadap energi yang terjangkau, dapat diandalkan, berkelanjutan dan modern bagi semua.
TUJUAN 12. Memastikan pola konsumsi dan produksi yang berkelanjutan.
TUJUAN 14. Mengkonservasi dan memanfaatkan secara berkelanjutan daya laut, samudra dan maritim untuk pembangunan yang berkelanjutan.
TUJUAN 15. Melindungi, memulihkan dan mendukung penggunaan yang berkelanjutan terhadap ekosistem daratan, mengelola hutan secara berkelanjutan, memerangi desertifikasi (penggurunan), dan menghambat dan membalikkan degradasi tanah dan menghambat hilangnya keanekaragaman hayati.
“Semua negata berusaha menurunkan emisi karbon dan bergerak menuju net zero emission 2060. Di sini, kita mengenal istilah dekarbonisasi, carbon capture, carbin trading, carbon tax, energi transisi, sicular economy, dan pembangunan berkelanjutan,” kata Primus.
Sedangkan 8 tujuan yang dicakup dalam aspek sosial terdiri atas:
TUJUAN 1. Mengakhiri kemiskinan dalam segala bentuk dimanapun.
TUJUAN 2. Mengakhiri kelaparan, mencapai ketahanan pangan dan nutrisi yang lebih baik dan mendukung pertanian berkelanjutan.
TUJUAN 3. Memastikan kehidupan yang sehat dan mendukung kesejahteraan bagi semua untuk semua usia.
TUJUAN 4. Memastikan pendidikan yang inklusif dan berkualitas setara, juga mendukung kesempatan belajar seumur hidup bagi semua.
TUJUAN 5. Mencapai kesetaraan gender dan memberdayakan semua perempuan dan anak perempuan.
TUJUAN 8. Mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan, tenaga kerja penuh dan produktif dan pekerjaan yang layak bagi semua.
TUJUAN 10. Mengurangi ketimpangan didalam dan antar negara.
TUJUAN 11. Membangun kota dan pemukiman yang inklusif, aman, tangguh dan berkelanjutan.
Selanjutnya, 4 tujuan dalam governance (tata kelola) meliputi:
TUJUAN 9. Membangun infrastruktur yang tangguh, mendukung industrialisasi yang inklusif dan berkelanjutan dan membantu perkembangan inovasi
TUJUAN 13. Mengambil aksi segera untuk memerangi perubahan iklim dan dampaknya.
TUJUAN 16. Mendukung masyarakat yang damai dan inklusif untuk pembangunan berkelanjutan, menyediakan akses terhadap keadilan bagi semua dan membangun institusi-institusi yang efektif, akuntabel dan inklusif di semua level.
TUJUAN 17. Menguatkan ukuran implementasi dan merevitalisasi kemitraan global untuk pembangunan yang berkelanjutan.
Menyinggung tentang acara “Disclosure Transparancy Awards 2023”, Primus mengakui sepintas seperti ada pengulangan kata, yakni transparansi dan disclosure. “Transaparansi lebih bersifat internal, sedang disclosure lebih eksternal, yakni bagaimana keterbukaan sebuah perusahaan terhadap penerapan ESG,” tegasnya.

