Rachmat Kaimuddin Tegaskan Dampak Jika Indonesia Tak Lakukan Transisi Energi
JAKARTA, investortrust.id - Deputi III Kementerian Koordinator bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Rachmat Kaimuddin menjelaskan dampak yang akan muncul jika Indonesia tak melakukan transisi energi. Dia menjelaskan, potensi risiko pembengkakan emisi CO2, polusi udara, melonjaknya subsidi bahan bakar minyak (BBM) dan meningkatkan impor BBM akan membayangi jika Indonesia tak melakukan transisi energi.
Empat dampak itu muncul karena menurut perhitungannya akan ada lonjakan kepemilikan mobil. Perhitungan ini didapat dengan mengandaikan pendapatan per kapita mencapai US$ 30.000 pada 2045.
“Kita buat regresi, berapa mobil kalau di 2045 (pendapatan per kapita) Indonesia betulan (menjadi) US$ 30.000 per kapita. Hitungan Chat GPT, hitungan penduduk Indonesia 324 juta. Artinya, mobil per 1.000 penduduk itu 500. Berarti, mobil kita naik dari sekitar 23 juta, menjadi 160 juta. Naik 7 kali lipat,” kata Rachmat saat memberi paparan di Energy Transition Outlook (IETO) 2025, yang digelar daring, Kamis (5/12/2024).
Rachmat mengatakan perhitungan regresi mobil menggunakan kepemilikan mobil tiap 1.000 penduduk. Saat ini dengan PDB US$ 4.800 hingga 5.000, kata dia, tiap 1.000 penduduk di Indonesia memiliki sekitar 80 mobil.
Dengan kenaikan jumlah kepemilikan mobil, Rachmat memprediksi akan terjadi peningkatan konsumsi BBM. Dia menyebut konsumsi BBM akan meningkat 7-8 kali lipat.
Baca Juga
Transisi Energi Listrik Punya Peran Penting dalam Swasembada Energi
“Akhirnya emisi CO2 naik. Polusi udara di Jakarta, penyebabnya emisi dari asap knalpot 40-60% ini juga bisa naik tinggi,” jelas dia.
Selain itu, subsidi BBM juga ikut melambung. Sebagai gambaran, dia menjelaskan, rata-rata belanja subsidi BBM Indonesia mencapai US$ 8 miliar tiap tahun.
“Bayangkan kalau naik 7-8 kali lipat. Impor BBM, kita belanja sekitar US$ 15 miliar, tiap tahun, bayangkan 7-8 kali lipat,” ucap dia.
Sementara itu, penggunaan biofuel juga akan menyebabkan masalah baru. Dia menjelaskan dengan biofuel artinya Indonesia harus memproduksi sawit sebanyak 3 kali lipat.
“Hari ini punya (lahan perkebunan) sawit 15 juta hektare, kalau naik jadi 45 juta ha. harus bikin lagi 30 juta ha tambahan,” kata dia menjelaskan.
Solusi yang bisa digunakan, kata dia, yaitu meningkatkan penggunaan mobil listrik dan energi baru terbarukan. Dia menghitung penggunaan mobil listrik membutuhkan 240 terawatt hour atau sekitar 80% dari total produksi PLN.
“PLN sekarang (produksi listrik) 75 gigawatt. Berarti kita butuh 60 gigawatt, mungkin nggak kita bikin 60 gigawatt dari renewable di Indonesia? dengan potensinya?” ucap dia.
Selain meningkatkan produksi listrik, Rachmat menyarankan dilakukannya transformasi industri dan hilirisasi yang masif di bidang energi terbarukan. “Misalnya kita bisa nggak bikin baterai, bikin mobil listrik, bisa nggak bikin solar panel. Ini supaya buat ganti, produksi bukan hanya mineral tapi juga barang-barang industri,” kata dia.

