Miliki Potensi ESG, Febrio: RI Harus Masuk Global Value Chain agar Terus Naik Kelas
JAKARTA, investortrust.id - Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan RI Febrio Kacaribu menyebut ESG memiliki potensi untuk membantu pertumbuhan ekonomi di Indonesia.
Untuk memaksimalkan pontesi ESG atau environment, social and governance yang dimiliki,Febrio menyebut Indonesia harus masuk ke dalam global value chainagar dapat memproduksi barang-barang dengan nilai tambah tinggi. Hal ini menurutnya akan membuat Indonesia terus naik kelas.
"Makanya Indonesia sangat kuat dalam mendorong bagaimana kita memanfaatkan sumber daya alam kita untuk memastikan kita memproduksi produk-produk yang bernilai tambah tinggi," ungkap Febrio dalam acara Bank BTPN Economic Outlook 2024 di Ballroom Kempinski, Jakarta, Rabu (22/11/2024).
Dalam paparannya di hadapan peserta BTPN Economic Outlook 2024, Febrio menyebut Indonesia tengah berada di level middle income up dengan GNI per kapita US$ 4.850.
Baca Juga
Febrio juga menyinggung perihal trajectory Indonesia menuju negara maju pada 2045. Ia menekankan Indonesia harus memastikan tren pertumbuhan ekonomi pada level 5%-6% terus berjalan.
"Ini yang akan pastikan dengan memasukkan Indonesia ke dalam global value chain, menciptakan value added yang sebesar-besarnya di Indonesia," katanya.
Febrio menambahkan, dengan masuknya Indonesia ke dalam global value chain akan berimplikasi terhadap terciptanya lapangan kerja yang memberikan penghasilan yang lebih memadai bagi masyarakat.
"(Hal tersebut) akan meningkatkan pendapatan per kapita kita secara nyata,"
Baca Juga
BTPN Targetkan Kredit dan DPK Tumbuh Double Digit di Tahun Politik
Implementasi ESG
Febrio Kacaribu menekankan kembali bahwa implementasi ESG bukan merupakan beban.
"ESG merupakan tugas dan tanggung jawab kita sebagai global society," tegasnya.
Melalui implementasi ESG, BKF berharap publik dapat memastikan bersama risiko perubahan iklim tidak menjadi sebuah bencana global.
Baca Juga
Komitmen BTPN Dorong Pertumbuhan Ekonomi Diapresiasi Kementerian BUMN
"Khususnya bagi Indonesia yang adalah negara kepulauan yang risiko terhadap climate changes risk-nya sangat besar. Jadi bagian dari tanggung jawab (terhadap implementasi ESG) itu nomor satu," ujar Febrio.
Pada kesempatan tersebut Febrio juga mengapresiasi komitmen industri perbankan terhadap sustainability living serta implementasi ESG melalui produk dan berbagai layanan kepada para nasabah. (CR-1)

