Pak Bahlil, Apindo Bilang Masih Ada Sektor yang Underinvestment pada 2024
JAKARTA, investortrust.id - Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta W. Kamdani menyebut beberapa sektor di Tanah Air masih kurang mendapat investasi (underinvestment). Dia mengatakan sektor yang belum digali mendalam yaitu sektor ekonomi hijau.
“Saat ini yang masih underinvestment adalah sektor-sektor yang berhubungan dengan sektor hijau,” kata Shinta dalam Bisnis Indonesia Mid Year Challenges 2024, yang dipantau secara daring, Senin (29/7/2024).
Shinta mengatakan ketersediaan pembiayaan di sektor ini terbilang sangat tinggi. Dia menyebut banyak investor ingin masuk ke dalam sektor hijau ini.
“Walaupun potensi sangat besar, mungkin lebih banyak didorong karena sangat terbatas,” kata dia.
Baca Juga
Dalam paparannya, Shinta menyebut Apindo memproyeksikan potensi energi hijau di Indonesia dapat mencapai Rp 593 hingga Rp 638 triliun pada 2030. Sektor ini juga dapat menciptakan lapangan kerja sebesar 7-10 kali lipat dengan investasi konvensional.
Shinta mengakui sektor hilirisasi turut mendorong realisasi investasi. Tapi, dia mengingatkan agar hilirisasi tidak hanya pada mineral kritis tapi juga sektor lain.
“Juga hilirisasi pertanian, perikanan, dan lain-lain harus jadi perhatian kita,” ucap dia.
Dalam paparannya, Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia mengatakan realisasi investasi semester I-2024 mencapai Rp 829,9 triliun. Angka ini naik 22,3% secara tahunan.
Baca Juga
Realisasi Investasi RI Tembus Rp 829,9 Triliun, FDI Mendominasi
“Dengan penyerapan tenaga kerja 1.225.042 orang pekerja,” kata Bahlil.
Bahlil mengatakan hilirisasi masih menjadi salah satu penopang realisasi investasi pada semester I. Realisasi investasi di sektor ini mencapai Rp 181,4 triliun atau 21,9% dari total realisasi investasi.
Realisasi investasi di sektor hilirisasi tersebut masih didominasi oleh sektor mineral kritis dan energi. Investasi di hilirisasi mineral mencapai Rp 114,1 triliun, di minyak dan gas sebesar Rp 13,2 triliun, dan di sektor ekosistem kendaraan listrik sebesar Rp 6 triliun.
Sementara itu, realisasi investasi di sektor kehutanan dan pertanian, masing-masing tercatat sebesar Rp 24,5 triliun dan Rp 23,6 triliun.

