Kementerian ESDM Ungkap Perdagangan Karbon Subsektor Pembangkit Listrik Tuntas 2030
JAKARTA, investortrust.id – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebutkan bahwa perdagangan karbon di subsektor pembangkit listrik akan diterpakan dalam tiga fase guna mewujudkan Net Zero Emission 2060. Saat ini, perdagangan karbon sudah memasuki tahun kedua atau periode terakhir dari fase pertama.
Berdasarkan peta jalan perdagangan karbon subsektor pembangkit listrik yang telah disusun oleh ESDM, dengan adanya perdagangan karbon ini, emisi gas rumah kaca diharapkan turun lebih dari 100 juta ton co2 ekuivalen tahun 2030.
“Penerapan perdagangan karbon di subsektor pembangkit listrik bertujuan untuk mengurangi dampak negatif bagi lingkungan, mendorong langkah-langkah efisiensi energi,meningkatkan peran pelaku usaha dalam melakukan mitigasi perubahan iklim, dan juga tentunya mendorong transisi energi nasional, khususnya di sisi suplai energi,” ujar Plt. Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Dadan Kusdiana dalam acara Perdagangan dan Bursa Karbon Indonesia 2024 secara virtual, Selasa (23/7/2024).
Baca Juga
Dibandingkan Negara Ini, OJK Ungkap Bursa Karbon Indonesia Bertumbuh
Tiga faset subsector listrik, yaitu fase pertama, dilakukan tahun 2023-2024. Fase kedua pada tahun 2025-2027, dan fase ketiga 2028-2030. Dadan menjelaskan perdagangan karbon akan diterapkan secara bertahap ke seluruh pembangkit tenaga listrik dengan bahan bakar fosil, baik yang terhubung kepada jaringan PLN maupun untuk pembangkit di wilayah usaha non-PLN.
“Jadi tiga fase tersebut nanti akan secara bertahap meningkatkan dari standar emisinya standar emisi karbon dioksida untuk pembangkit tenaga listrik terutama yang berbasis tenaga uap atau menggunakan bahan bakar batubara. Jadi makin kesana nanti standarnya akan semakin ditingkatkan, emisinya akan semakin kecil, sehingga pada saatnya nanti diperlukan kombinasi antara perdagangan karbon dan juga offset,” jelasnya.
Saat ini, perdagangan karbon memasuki tahun kedua atau periode terakhir dari fase pertama. Tahun 2023, jumlah peserta adalah 99 unit pembangkit batu bara yang terhubung pada jaringan PLN dengan kapasitas yang lebih besar sama dengan 100 MW. Dadan memaparkan tahun ini jumlah peserta menjadi 146 unit dengan adanya tambahan kapasitas unit PLTU batubara dengan kapasitas lebih besar atau sama dengan 25 MW.
Baca Juga
Citi: Butuh US$125 Triliun untuk Skenario Net Zero Emission di 2050
“Jadi kami terus meningkatkan dari sisi peserta yang ikut di dalam perdagangan karbon secara khusus untuk pembangkit tenaga listrik. Berdasarkan hasil transaksi perdagangan karbon tahun 2023 terdapat total transaksi sebesar 7,1 juta ton co2 ekuivalen atau senilai Rp 84,17 miliar dimana 7,04 ton co2e berasal dari transaksi perdagangan emisi melalui mekanisme langsung,” ujar Dadan.
Saat ini, ESDM terus melaksanakan kegiatan dan aksi yang mencakup antara lain sosialisasi, peningkatan kapasitas SDM, evaluasi dan fasilitasi kepada para pemangku kepentingan yang terlibat. ESDM juga telah memiliki kerjasama dengan Bursa Karbon untuk mendukung pelaksanaan ini.
“Jadi tidak hanya dari sektor listrik, tapi juga berada di sektor energi baru terbarukan, berada di penghematan energi, efisiensi energi, termasuk tentunya yang sekarang menjadi fokus yang terus kami dorong adalah carbon capture dan storage,” ungkapnya.

