Pemerintah Ungkap Hasil Uji Teknis dan Uji Jalan Bioetanol untuk BBN
JAKARTA, investortrust.id - Pemerintah sedang mendorong penggunaan bahan bakar ramah lingkungan, yakni bahan bakar nabati (BBN) yang menggunakan campuran bioetanol.
Direktur Konservasi Energi Ditjen EBTKE Kementerian ESDM, Hendra Iswahyudi menyebutkan, pemerintah bersama dengan PT Pertamina (Persero) dan stakeholder terkait telah melakukan serangkaian uji teknis terhadap bahan bakar campuran bioetanol yang kemudian dilanjutkan uji jalan hingga 15.000 km.
“Dari hasil ujinya, konsumsi bahan bakar dan akselerasi secara umum berada dalam performa yang baik. Kemudian hot/cold startability test masih memenuhi hasil uji emisi. Dan juga tidak ada perbedaan signifikan dengan RON 95 yang ada di pasaran,” kata Hendra dalam media briefing Update Isu dan Kebijakan Transisi Energi di Indonesia yang diselenggarakan Institute for Essential Services Reform (IESR), Rabu (3/7/2024).
Hendra mengatakan, hasil uji ini dapat meyakinkan publik bahwa kebijakan-kebijakan yang ke depannya dilakukan pemerintah terkait dengan penerapan bahan bakar ramah lingkungan masih bisa memenuhi apa yang diharapkan oleh masyarakat.
Baca Juga
Bioetanol Mau Gantikan Pertalite? Ini Respons Pengamat Energi
Tercatat, sejak Juli 2023 telah dilakukan market trial produk Pertamax Green 95, yang merupakan bahan bakar campuran RON 92, RON 98, dan 5% bioetanol. Meskipun Indonesia masih tertinggal terkait penggunaan bioetanol untuk bensin, namun menurut Hendra ini sudah menjadi langkah bagus.
“Memang masih tertinggal kita yang bioetanol, kita akan mengejar,” ujar dia.
Lebih lanjut Hendra memaparkan, selama semester II-2023, Pertamax Green 95 sudah dipasarkan di 12 SPBU Kota Surabaya dan 5 SPBU di Jakarta, yang menunjukkan respons pasar yang cukup positif. Sampai dengan Mei 2024, Pertamax Green 95 sudah dijual di 75 SPBU Kota Surabaya dan Jakarta.
Hingga akhir 2024, PT Pertamina Patra Niaga berencana memperluas wilayah perluasan Pertamax Green 95 hingga ke 100 SPBU di Pulau Jawa, terutama wilayah Jabodetabek. Adapun target penjualan harian Pertamax Green 95 adalah 500 liter/hari/SPBU.
Baca Juga
Bioetanol Mau Dijadikan Pengganti Pertalite? Ini Kata Menteri ESDM
Kendati demikian, Hendra menerangkan bahwa yang masih menjadi kendala terkait dengan penggunaan bioetanol untuk campuran bensin adalah masalah cukai. Sebab, bioetanol terkena cukai minuman keras.
“Mungkin yang isu-isu yang akan kita keluhkan ini masalah cukai. Karena bioetanol ini kan dianggap kena cukai minuman keras, jadi mesti dibedakan. Ini yang selama ini di-clear-kan kan gitu,” sebut Hendra.
Sebagai informasi, Pertamina Patra Niaga membeli bioetanol dari PT Enero dengan masih membayar cukai Rp 20.000 per liter.

