Pemerintah Tekankan Urgensi Dekarbonisasi Sektor Transportasi
JAKARTA, investortrust.id - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memandang sektor transportasi sebagai salah satu penyumbang emisi gas rumah kaca (GRK) terbesar. Karena itu, upaya dekarbonisasi di sektor transportasi sangat penting, mengingat memiliki dampak besar terhadap pembakaran bahan bakar fosil.
Di Indonesia, dari 11 juta kendaraan yang mengaspal di jalan menghasilkan lebih dari 35 juta ton emisi CO2, sedangkan truk mengeluarkan lebih dari 50 juta ton C02.
"Transportasi global menyumbang lebih dari sepertiga emisi CO2 dari sektor pengguna akhir, dan transportasi jalan raya saja menyumbang sekitar seperenam emisi global,” ujar Sekretaris Jenderal ESDM, Dadan Kusdiana dalam keterangan resmi, Jumat (24/5/2024).
Baca Juga
Konsisten Terapkan ESG, Pertamina Lampaui Target Dekarbonisasi 124%
Dadan menerangkan, dalam hal ini sistem transportasi yang berkelanjutan dan bersih sangat penting untuk memitigasi dampak lingkungan yang signifikan dari sektor transportasi.
"Di Indonesia sektor transportasi menyumbang sekitar sepertiga konsumsi energi final. 11 juta mobil di jalanan Indonesia saat ini menghasilkan lebih dari 35 juta ton emisi CO2, sementara truk mengeluarkan lebih dari 50 juta ton," papar Dadan.
Mengingat perkiraan pertumbuhan armada kendaraan di tahun-tahun mendatang akibat pembangunan ekonomi, pencapaian dekarbonisasi di sektor transportasi sangat penting untuk mencapai net zero emission (NZE) 2060.
Baca Juga
Selain itu, pemerintah berkomitmen untuk memastikan pertumbuhan sektor transportasi tidak akan membahayakan kualitas hidup dan kesehatan warganya.
"Sebagai bagian dari upaya ekstensifnya untuk mengurangi emisi GRK dan polutan udara, Indonesia secara aktif mempromosikan penggunaan kendaraan listrik. Transisi ke kendaraan listrik dipandang sebagai strategi utama untuk melakukan dekarbonisasi transportasi jalan raya, yang menawarkan manfaat ganda yaitu mengurangi emisi sekaligus mendukung dekarbonisasi sektor ketenagalistrikan," jelasnya.
Selain manfaat ganda tersebut, elektrifikasi pada sektor transportasi dapat membantu Indonesia mengurangi ketergantungannya pada impor bahan bakar fosil, yang meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

