PLN Klaim Harga Bahan Bakar Hidrogen Lebih Murah dari BBM, Jarak 1 Km Hanya Rp 1.255
JAKARTA, investortrust.id – VP Hidrogen dan Dekarbonisasi PT PLN (Persero), Ricky Cahya Andrian mengatakan harga jual bahan bakar hidrogen (H2) lebih murah dibandingkan bahan bakar minyak (BBM).
Menurut dia, harga H2 sebesar US$ 8,14 per kilogram (kg) atau setara Rp 125.500 per kg. Sedangkan untuk pemakaian 1 kg H2 dapat menempuh jarak 100 kilometer (km), maka untuk jarak 1 km senilai Rp 1.255.
Dia mengatakan harga tersebut lebih murah dibandingkan BBM jenis Dexlite sebesar Rp 1.592 untuk waktu tempuh 1 km dan Pertamina Dex sebesar Rp 1.647 per km.
“Kenapa bisa murah? Kita (PLN) kemarin buat yang mahal itu karena kompresor. Mobil FCEV (fuel cell electric vehicle) itu rata-rata 700 Bar. Kalau produk FCEV-nya PLN itu 150 Bar, jadi harus dua kali staging, 450 (Bar) kemudian 820 (Bar). Tapi kalau kita bisa menghasilkan kendaraan 150 Bar itu tinggal langsung colok (pengisian) saja,” kata Ricky dalam seminar “3rd Investortrust Future Forum: Menggali Potensi Besar dan Masa Depan Mobil Hidrogen” di Aryaduta Hotel, Menteng, Jakarta, Kamis (16/5/2024).
Baca Juga
Potensi Kendaraan Hidrogen Topang Percepatan Net Zero Emission 2060
Dia pun mengungkapkan, rencana PLN di masa yang akan datang dalam kompetisi bahan bakar hidrogen. Ricky meyakini, potensi produksi H2 dari excess power 5% daya mampu Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) PLN sebesar 74,71 ton volt ampere (VA) per hari atau 27,64 kilo ton VA per tahun.
“Rencana kami ke depan akan memproduksi hidrogen dari PLTA. Kenapa? Karena kita melihat yang paling murah memang dari PLTA untuk excess-nya. Potensinya itu misalkan saya ambil (excess) 5% dari daya mampu PLTA, kita bisa produksi per harinya 75,71 ton (VA). Kalau per tahunnya jadi 27,64 kilo ton (VA). Yang menarik berapa harganya? US 1 per kg,” papar dia.
Berdasarkan informasi yang diterima investortrust.id, PLN telah meresmikan Hydrogen Refueling Station (HRS) atau stasiun pengisian bahan bakar hidrogen (SPBH) yang berlokasi di Senayan, Jakarta pada Rabu (21/2/2024). Langkah ini merupakan tindak lanjut inovasi PLN sebelumnya, yaitu pengoperasian 21 unit green hydrogen plant (GHP) yang tersebar di Indonesia pada November 2023.
Baca Juga
Akan Digenjot, Konsumsi Hidrogen Indonesia Masih di Bawah 2 Juta Ton per Tahun
Waktu yang dibutuhkan untuk pengisian hidrogen hanya sekitar 3-5 menit. Dalam satu jam, penyedia daya untuk FCEV dapat melayani sekitar 10 kendaraan. Hal itu berbeda dengan mobil listrik (BEV) yang harus mengisi daya listrik setidaknya 30-60 menit. Artinya, dalam satu jam, SPKLU hanya bisa melayani sekitar dua sampai tiga kendaraan listrik.
HRS Senayan dilengkapi dengan charger electric vehicle berbasis hidrogen yang memiliki fungsi sama dengan stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU). Di lokasi ini dibangun pula Hydrogen Center dan Hydrogen Gallery Room untuk pusat pelatihan dan pendidikan hidrogen nasional.
Hidrogen yang diproduksi PLN berasal dari energi baru terbarukan (EBT) dan tidak ada emisi sama sekali. PLN saat ini mampu memproduksi 199 ton hidrogen hijau. Dari jumlah itu, 75 ton dipakai untuk kebutuhan operasional pembangkit PLN, dan 124 ton sisanya untuk kebutuhan lainnya, termasuk mobil hidrogen.
Baca Juga
Pertamina Proyeksi Permintaan Hidrogen Indonesia Meningkat hingga 8 MTPA Tahun 2040

